Konten dari Pengguna

Kuliah Mahal, Lulus Menganggur: Untuk Apa Jadi Mahasiswa?

Nadia Sastia

Nadia Sastia

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

·waktu baca 3 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nadia Sastia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: https://images.pexels.com/photos/1454360/pexels-photo-1454360.jpeg?auto=compress&cs=tinysrgb&w=1260&h=750&dpr=2
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: https://images.pexels.com/photos/1454360/pexels-photo-1454360.jpeg?auto=compress&cs=tinysrgb&w=1260&h=750&dpr=2

"Sekolah yang tinggi biar kerja enak.” Nasihat itu begitu akrab di telinga kita sejak kecil. Seolah pendidikan tinggi adalah tangga emas menuju masa depan cerah. Namun, realitas di lapangan berkata lain: tak sedikit lulusan sarjana yang kini justru berbaris dalam antrean pengangguran. Di tengah biaya kuliah yang terus melonjak, muncul pertanyaan tajam: untuk apa jadi mahasiswa?

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka dari lulusan perguruan tinggi tetap signifikan. Ironisnya, di saat perusahaan mencari tenaga kerja yang “berpengalaman”, kampus justru mencetak lulusan dengan minim pengalaman praktis. Maka, lulusan baru terjebak dalam lingkaran setan: tidak punya pekerjaan karena tidak punya pengalaman, dan tidak punya pengalaman karena tidak ada pekerjaan.

Masalah ini bukan semata karena kualitas mahasiswa. Ada kegagalan sistemik dalam merancang pendidikan tinggi yang selaras dengan kebutuhan zaman. Kurikulum sering kali terlalu teoritis, minim koneksi dengan dunia kerja nyata. Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka yang digadang-gadang memberi solusi, belum sepenuhnya menyentuh akar masalah. Banyak mahasiswa tetap “terjebak” dalam rutinitas kelas, tugas, dan ujian—alih-alih diberi ruang eksploratif yang bermakna.

Selain itu, biaya kuliah yang semakin mahal menjadi beban berat, khususnya bagi kelas menengah ke bawah. Uang kuliah tunggal (UKT) yang tinggi, belum termasuk biaya hidup, praktikum, hingga keperluan digital, membuat kuliah kini menjadi “investasi” berisiko tinggi. Harapan orang tua agar anaknya “naik derajat” lewat gelar sarjana, acap kali kandas di hadapan kenyataan bahwa ijazah bukan jaminan pekerjaan.

Di sisi lain, dunia kerja juga berubah. Gelombang otomatisasi, digitalisasi, dan kebutuhan skill yang terus bergeser membuat gelar akademik saja tak cukup. Dunia industri kini mencari problem solver, kreator, dan pemimpin, bukan sekadar lulusan dengan IPK tinggi. Banyak profesi baru lahir tanpa menuntut latar belakang akademik tertentu, dan tak sedikit pula wirausaha muda sukses tanpa menempuh bangku kuliah formal.

Lalu, untuk apa jadi mahasiswa?

Pertanyaan ini tak harus dijawab dengan sinisme. Justru, inilah momen reflektif. Menjadi mahasiswa mestinya bukan sekadar mengejar gelar, tapi membentuk daya pikir kritis, mental tangguh, serta kemampuan beradaptasi. Namun itu hanya mungkin jika perguruan tinggi berubah—dari pabrik gelar menjadi ekosistem pembelajar.

Kampus harus membongkar menara gadingnya. Koneksi dengan industri, keterlibatan mahasiswa dalam riset terapan, magang berkualitas, hingga pengembangan soft skill harus jadi prioritas. Tak kalah penting: keberanian mendidik mahasiswa untuk tidak takut gagal dan siap menciptakan peluang, bukan sekadar mencari kerja.

Menjadi mahasiswa tetap penting. Tapi hanya jika maknanya diperluas: bukan sekadar menjadi “sarjana”, melainkan menjadi manusia pembelajar, pencipta nilai, dan agen perubahan. Pendidikan tinggi harus melahirkan pribadi yang bukan hanya siap kerja, tapi juga siap hidup dalam dunia yang terus berubah.

Jika tidak, maka kuliah yang mahal hanya akan jadi tiket ke jurang pengangguran dan mimpi menjadi sarjana tinggal kenangan.