Di Balik Idealnya Profesi Perawat: Ketidakseimbangan Beban Kerja dan Kompensasi

Seorang mahasiswa jurusan Ilmu Keperawatan dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Memiliki minat dalam mencari informasi dan menulis isi pikiran.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Nadia Ayla Syakira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Perawat dianggap sebagai bagian penting di dunia kesehatan. Perannya cukup diakui oleh masyarakat karena tingginya frekuensi interaksi dengan pasien. Dalam menjalankan tugasnya, perawat memiliki tugas pokok dan fungsi (tupoksi) tersendiri untuk melakukan intervensi sesuai kebutuhan pasien. Secara teoritis, profesi ini dianggap ideal sebab berfokus pada pengabdian kepada masyarakat. Namun, dalam praktiknya, perawat menghadapi beban kerja yang tinggi serta tuntutan pelayanan yang tidak ringan. Kondisi ini menimbulkan perhatian terhadap kesesuaian antara kesejahteraan dengan beban kerja, tuntutan, dan kompensasi yang diterima perawat.
Banyak faktor yang memengaruhi dari kepuasan kerja. dalam suatu profesi. Secara umum, kepuasan kerja didapat dari kompensasi, interaksi sosial, lingkungan kerja, beban kerja, pengembangan karir, serta penghargaan untuk para pekerja itu sendiri.
Berfokus pada bagian kompensasi, faktor tersebut adalah salah satu komponen yang tidak kalah penting bagi kesejahteraan perawat. Kompensasi yang diterima cenderung relatif dan bervariasi tergantung pada wilayah, tempat kerja, dan pengalaman. Kompensasi dapat berupa gaji, tunjangan, upah, insentif, dan sebagainya. Akan tetapi, dalam implementasinya kompensasi yang diberikan tidak sepenuhnya sebanding dengan tingginya beban kerja bagi perawat.
Menurut Adhyka et al. (2024) dalam Nursalam (2014), persepsi tentang pekerjaan meliputi elemen seperti pengawasan, tingkat gaji, kesempatan untuk naik jabatan, dan lingkungan kerja berpengaruh pada kepuasan karyawan. Selain itu, menurut Kristianingsih et al. (2023), kompensasi berpengaruh pada semangat kerja. Perawat yang memiliki tanggung jawab besar dalam pelayanan keperawatan, layak menerima imbalan yang sesuai ditempat mereka bekerja. Selain itu, penelitian menyebutkan pula bahwa ketidakpuasan dalam pekerjaan perawat bisa berakibat menurunnya semangat, fluktuasi emosi, serta kinerja yang tidak memuaskan.
Di sisi lain, sistem kerja peralihan dan besarnya tanggung jawab yang dijalankan, menjadi faktor tambahan yang memperberat beban kerja di dalam praktik pelayanan kesehatan. Menurut Adhyka et al. (2024) dalam Nursalam (2020), beban kerja perawat dapat dianalisis dari berbagai sudut pandang, seperti jenis tugas yang dilakukan sesuai dengan fungsi utama dan fungsi tambahan, jumlah pasien yang dirawat setiap hari, setiap bulan, dan setiap tahun, keadaan pasien, rata-rata pasien yang dirawat, tindakan langsung dan tidak langsung yang diharapkan oleh pasien, serta seberapa sering tiap tindakan tersebut dibutuhkan dan waktu rata-rata yang diperlukan untuk menyelesaikannya.
Dalam pelaksanaannya, seorang pekerja memiliki masa kerja untuk mengerahkan tenaganya agar menghasilkan maupun memberikan nilai serta mutu yang tinggi dari keterampilannya. Masa kerja memiliki pengaruh positif bagi kinerja seseorang apabila semakin berpengalaman dalam melaksanakan tugasnya. Tetapi, hal ini bisa mendapat sisi negatif apabila timbul gangguan kesehatan, baik bagi mental maupun fisik. Secara praktiknya, sesuai dalam jurnal penelitian observasi menurut Pujiarti dan Idealistiana (2023), Sebagian besar tenaga kesehatan mengalami burnout yang tinggi akibat kurangnya SDM. Banyak dari mereka yang melakukan pekerjaan diluar tupoksi dalam waktu yang lama secara terus menerus. Beban kerja yang tinggi dapat menyebabkan perawat mengalami kejenuhan dan kelelahan. Hal ini akan berdampak pada penurunan kualitas pelayanan.
Tingginya tanggung jawab dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan perawat mengalami burnout. Menurut Aprilia et al. (2025), motivasi dan komitmen perawat terhadap pekerjaan mereka kadang-kadang menurun akibat tingginya stres yang diakibatkan oleh beban kerja yang berat, tuntutan emosional dari pasien, dan kondisi lingkungan kerja yang kurang mendukung. Kelelahan yang dialami membuat perawat merasa tidak puas dengan tugas yang mereka jalankan, akhirnya dapat mengurangi kualitas perawatan yang diberikan. Rasa jenuh juga berperan dalam meningkatnya angka perpindahan staf di antara perawat, yang membuat situasi di rumah sakit semakin memburuk. Jika pola ini dibiarkan, maka akan berpotensi terjadinya turnover intention. Menurut Kuntardina (2021), pengaruh kepuasan kerja perawat sangat besar terhadap pilihan mereka untuk tetap bertahan atau meninggalkan pekerjaannya.
Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kesejahteraan perawat saja, akan tetapi juga memengaruhi kualitas pelayanan kepada pasien serta efisiensi dan kinerja rumah sakit secara menyeluruh. Menurut Kristianingsih et al. (2023), kelelahan kerja bisa berdampak pada efektivitas dan kepuasan para perawat, serta dapat memperburuk kesehatan fisik, mental, dan emosional mereka. Situasi ini berpotensi merusak citra pelayanan rumah sakit dan membahayakan kesejahteraan pasien. Tidak heran pula, komunikasi antara pasien dan perawat menjadi kurang optimal. Oleh karena itu, diperlukan perhatian lebih terhadap keseimbangan antara kompensasi dan beban kerja untuk menjaga kesejahteraan perawat serta kualitas pelayanan kesehatan yang bisa diberikan.
Profesi perawat memiliki peran yang penting untuk pelayanan kesehatan. Namun, dalam implementasinya dihadapkan pada beban kerja yang tinggi serta tuntutan tanggung jawab yang besar. Kesenjangan antara kompensasi dengan beban kerja dapat memengaruhi kepuasan pekerja serta kesejahteraan perawat baik secara psikologis maupun fisik. Kondisi ini menimbulkan burnout hingga mengacu kepada turnover intention. Dampak ini tidak hanya dirasakan oleh perawat saja, tetapi juga berpengaruh kepada kualitas pelayanan pasien serta kinerja rumah sakit. Oleh karena itu, diperlukan perhatian terhadap keseimbangan antara beban kerja dan kompensasi agar kesejahteraan perawat dapat terwujud dan mutu pelayanan kesehatan pun meningkat.
Daftar Pustaka
Adhyka, N., Budiman, H., &Andika, M. D. S. (2024). Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia, 8(2), 143-155. https://ejournal.urindo.ac.id/index.php/MARSI/article/view/4223.
Kristianingsih, Y., Winarni, S., & Yuliati, I., et al. (2023). Kompensasi Memengaruhi Motivasi Kerja Perawat Pelaksana. Jurnal Ilmiah Keperawatan, 9(1), 27-31. https://journal.stikespemkabjombang.ac.id/index.php/jikep/article/view/1335.
Kuntardina, A. (2021). Pengaruh Job Satisfaction dan Perceived Ease of Movement Terhadap Turnover Intention Perawat. Buletin Bisnis & Manajemen. 7(1), 33-46. https://journal.uyr.ac.id/index.php/BBM/article/view/355/286.
Pujiarti, P., & Idealistiatana, L. (2023). Pengaruh Lama Kerja dan Beban Kerja Perawat terhadap Burnout. Jurnal Ilmiah Keperawatan, 9(2), 354-360. https://journal.stikespemkabjombang.ac.id/index.php/jikep/issue/view/71.
Ridwan, H., Nurfauziah, E., Aprilia, A. N., et al. (2025). Pengaruh Burnout Terhadap Kepuasan Kerja Perawat: Systematic Literature review. Jurnal Penelitian Keperawatan, 11(2), 210-217. https://jurnal.stikesbaptis.ac.id/index.php/keperawatan/article/view/831/694.
