Konten dari Pengguna

Khawatir Tentang Masa Depan

Nadibah Wilda Roziah

Nadibah Wilda Roziah

Mahasiswa Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nadibah Wilda Roziah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Khawatir Tentang Masa Depan
zoom-in-whitePerbesar

Identitas buku :

Judul buku : Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa

Penulis : Alvi Syahrin

Jumlah Halaman : 236 halaman

Tahun Terbit : 2019

Kota Diterbitkan Buku : Jakarta Selatan

Nama Penerbit : Gagas Media

Sebelum menulis buku ini, Alvi Syahrin telah sukses dengan buku motivasinya yang berjudul Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta. Tidak hanya itu, Alvi juga pernah menerbitkan novel romance. Buku itu berjudul Dilema : Tiga Cerita Untuk Satu Rasa yang terbit pada tahun 2012. Dan karya keduanya berjudul Swiss : Little Snow in Zurich, yang terbit pada tahun 2013. Buku terbarunya ini rilis pada bulan November 2019 dan cetakkan kedua rilis setelah 5 hari cetakkan pertama rilis. Buku ini berisi cerita-cerita pendek tentang bagaimana mengatasi masalah-masalah yang hadir di kehidupan.

Judul dari buku ini sangat cocok dengan kehidupan nyata dan cocok untuk kita yang sedang memikirkan masa depan dan ingin memotivasi diri kita. Buku ini membahas tentang kekhawatiran tentang masa depan dan harus tetap semangat walaupun tidak sesuai ekspektasi dan rencana. Dimana realita kehidupan dimulai. Mulai dari lulus SMA, sibuk mempersiapkan diri untuk lanjut ke perguruan tinggi negeri favorit, ada yang berhasil dan ada yang tidak. Lalu kehidupan masa kuliah, masa pengangguran, mencari pekerjaan, mulai bekerja, bosan dan lelah dengan masalah yang ada saat bekerja. Hingga keinginan untuk menikah ketika sudah lelah sekali dengan apapun yang dihadapi. Semuanya dibahas disini. Berisi cerita-cerita pendek tentang bagaimana cara untuk mengatasi masalah kehidupan. Buku ini seperti teman yang menceritakan kisahnya sendiri melewati masa-masa itu.

Kita tidak akan merasa sendirian lagi. Dapat dianggap juga, menceritakan tentang sosok “aku” yang merupakan sudut pandang penulis dan pengalaman nyata penulis. Alvi Syahrin pernah mengalami memilih jurusan yang tidak dia minati yaitu Teknik Informatika, walaupun mendapatkan nilai sempurna dikelas kalkulus, aljabar, dan mata kuliah perhitungan lainnya tetapi dia merasa lebih cocok berada di jurusan Sastra. Walaupun merasa salah jurusan, namun sudah terlanjur. Dia pun berusaha untuk menyukai jurusan tersebut dan hasilnya dia lulus dari empat tahun dengan IPK cum laude. Tetapi kesuksesan bukan hanyalah mendapat deretan nilai sempurna, tetapi kesuksesan adalah bisa merasa cukup.

Ketika salah jurusan bukan berarti selalu harus pindah jurusan. Ketika akan pindah jurusan, karena merasa jurusan yang saat ini tidak sesuai, belum tentu dapat melakukan semaksimal mungkin untuk belajar sungguh-sungguh pada jurusan yang kita rasa salah. Belum tentu juga, setelah pindah jurusan baru namun ternyata lagi dan lagi kita merasa salah jurusan. Terkadang bukan hanya keadaan lingkungan sekitar saja yang diubah tapi diri sendiri juga butuh untuk berubah. Berubah untuk mencoba menjalankan dengan sungguh-sungguh dan maksimalkan usaha. Tak ada jurusan yang benar-benar tepat. Yang terpenting dari itu semua adalah berdoa kepada Allah SWT.

Setiap jurusan memiliki perannya masing-masing tidak ada yang paling unggul, semuanya memiliki peran dikondisi yang berbeda. Tak ada jurusan yang dianggap rendah atau remeh. Saat wisuda nanti, maka perjuangan hidup akan dimulai. Akan diberi cobaan saat ingin melamar kerja namun belum ada satu pun yang terpanggil. Bangun pagi lalu pergi dari tempat satu ke tempat lainnya sambil berpikir tempat mana lagi yang harus didatangi untuk melamar kerja. Tabungan sudah mulai menipis dan meminta uang ke orang tua pun malu karena kini adalah waktunya ia yang memberikan uang kepada orang tua bukan sebaliknya. Yang harus dilakukan adalah bersabar, bukan berarti bersabar lalu diam-diam saja, tetapi bersabar dengan usaha yang terus menerus dan berdoa. Memang kuliah tidak menjamin 100% berpeluang mendapatkan pekerjaan, namun yang namanya ilmu itu tidak ada yang sia-sia.

Kuliah bukan untuk mencari dan menerima pekerjaan. Jika ingin mencari pekerjaan, cukup kunjungin situs portal lowongan pekerjaan. Kuliah itu bukan tentang kerjaan yang akan didapat, dan gaji yang akan di terima. Tetapi, kuliah adalah tentang menimba ilmu. Tidak ada yang namanya sia-sia dalam mencari ilmu. Hidup itu bukan sebatas peringkat yang kita dapat dari sekolah, bukan sebatas deretan prestasi yang dibanggakan sewaktu kuliah, dan bukan sebatas tidur, bangun, makan, menikah, punya anak, dan menanti mati. Hidup tidak seremeh itu. Namun hidup adalah waktu untuk terus bergerak, menggapai mimpi-mimpi dengan sungguh-sungguh, dan harus belajar biasa saja, tidak terlalu bahagia, tidak terlalu sedih. Tetap kejar yang terbaik, lakukan yang terbaik dan syukuri segalanya.

Di buku ini, bercerita cerita tentang kita yang selalu menuntut berbagai macam hal agar semua dapat berjalan sempurna, lancar, sesuai harapan, dan sesuai ekspektasi, Padahal kita sendiri masih berada didunia. Tempatnya segala ketidaksempurnaan. Hingga yang paling membuat kesan yang mendalam, buku ini juga mengingatkan kita pada kematian. Tentang betapa tidak berartinya semua perjuangan dan waktu yang dihabiskan demi mengejar duniawi ketika kita sudah berhadapan dengan kematian. Jangan setelah mengetahui fakta paling pasti tersebut, kita jadi diam saja tak melakukan apapun. Justru dari semua proses dalam setiap fase hidup itulah, kita akan menemukan nilai yang membuat kita lebih bijaksana dalam memaknai semuanya. Dan untuk bahasan tentang anak-anak SMK, menjelaskan tentang mereka yang kebanyakannya setelah lulus langsung mencari kerja dengan hanya bermodal ijazah SMK dan sertifikat keahlian, serta modal sertifikat praktek kerja industri. Walaupun tidak dibahas secara khusus tentang itu, namun dapat memahami beberapa bab yang menceritakan tentang setelah lulus SMA tidak bisa lanjut kuliah. Tapi tetap menuntut ilmu, mempelajari keahlian-keahlian baru, memaksimalkan kemudahan akses informasi, dan kursus pelatihan online gratis/berbayar agar menjadi nilai tambah bagi kita sendiri.

Buku ini disajikan dengan alur yang menarik dan tidak membuat bosan. Bahasanya pun mudah dipahami. Selain itu juga covernya pun menarik, kualitas cetakannya pun baik. Dan disetiap awalan bab ada kalimat pembuka sehingga menambah poin plus dari novel ini. walaupun bahasanya mudah dipahami, namun ada juga kalimat yang menggunakan Bahasa Inggris yang tidak semua orang mengerti.

Pereview :

Nadibah Wilda Roziah | Farmasi | Universitas Muhammadiyah Malang | 2021