Jodoh

sedang kuliah di STIBA AR-RAAYAH
Tulisan dari Moh dzaky Amrullah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

oleh : Moh Dzaky Amrullah
Setelah iqomah dikumandangkan, seperti biasa kami salat berjemaah di Masjid pondok. Selain mengambil janji 27 derajat yang telah dijanjikan-Nya itu juga sebagai bukti pengabdian kami pada-Nya. Selesai salat kegiatan biasa kami dilanjut dengan zikir bersama sekaligus doa, walau ada sebagian teman-teman yang doa sendiri-sendiri, mungkin mereka merasa lebih khusyuk doa sendiri. Salat sunnah, sebagai pelengkap salat yang kami lakukan setelah salat maghrib, waktu itu. “silakan yang belum mengambil qur’an saya persilakan mengambil qur’annya terlebih dahulu” kata teman kami selaku imam dan orang yang maju untuk menyampaikan kultumnya (kajian tujuh menit). Beginilah gambaran suasana yang selalu membuatku nyaman dengan suasana pondok.
Perang Khandaq atau biasa kita kenal dengan Perang Parit adalah materi yang khotib sampaikan waktu itu. Seru dan enak cara penyampaiannya membuatku antusias mendengarkan apa yang disampaikan, walaupun ada setan-setan yang mengganggu dan kadang aku yang menjadi setan itu. Namun tetap materi itu masuk telinga dan mungkin dilanjut ke otak untuk disampaikan pada hati. Salman al-Farisi nama pemuda yang mengusulkan penggalian parit untuk menghalau pasukan musuh yang terdiri dari berbagai kabilah yang telah mengepung madinah saat itu. Entah kenapa materi itu membuatku berpikir “apa yang telah kulakukan selama ini? Aku juga pemuda, namun apa yang aku dapat dan aku keluarkan selama ini mungkin belum berguna.”
“Dif” sapa Rizal di sampingku, membuat lamunanku buyar entah ke mana. “kenapa ya sekarang aku lebih suka wanita yang tak berjilbab, padahal dulu aku suka dan selalu mengharap istriku berjilbab besar?” tanya Rizal membuatku kaget. gak ada hujan gak ada petir tiba-tiba nanya masalah nikah, tapi mau tidak mau tugasku ya menjawab, sekadar menenangkan hatinya walaupun tak bisa membuatnya puas, karna ketika dia bertanya padaku berarti dia mempercayaiku.
“lah kok bisa?” tanyaku padanya sebelum menjawab kebingungannya. Sebab aku tak mau jawabanku membuatnya tambah bimbang. Ya inilah yang aku dapat saat pelajaran ushul fiqih di kelas; tau sebabnya, syaratnya dan tau apakah ada mani’(penghalang), barulah suatu hukum itu berlaku. Dan ini metode yang aku coba terapkan pada pertanyaan Rizal waktu itu.
Menghela napasnya, Rizal sedikit menjelaskan padaku “aku berpikir. Saat aku menikah dengan wanita yang tak berkerudung namun bisa membuatnya berkerudung akan membuatku mendapat kebaikan lebih dibanding dengan menikah dengan wanita yang sudah berkerudung.”
Cepat jawaban keluar dari mulutku tanpa pikir yang panjang dan semoga tidak salah dengan jawabanku ini “kalo masalah kebaikan bukan urusanku, tapi itu nanti tergantung dengan bagaimana kalian menjalani kehidupan bersama.” Tampak wajahnya tersenyum namun aku belum melihat wajah Rizal yang menunjukkan kepuasan akan jawabanku.
“jadi gini Zal” sambungku mengambil perhatiannya lagi, “masalah memberi hidayah itu bukan urusan kita kan? Bahkan Nabi pun tak bisa memberi hidayah itu. Karna itu urusan Allah. Dan tugas kita hanya menyampaikan. Kurasa kau lebih tau dariku masalah ini.” Tambahku mengharap ada tanggapan darinya.
“ya, itu maksudku Dif. Aku mau menyampaikan pada istriku yang gak berjilbab itu dan aku mau karna apa yang aku sampaikan dapanya itu dia menjadi shalehah” jawabnya.
“ya itu bagus, keren” tambahku menyenangkan apa yang telah ia sampaikan padaku. Tampak dalam wajahnya ada sedikit kepuasan. Namun aku belum yakin dia puas.
Karna aku belum sependapat dengannya, ku paparkan sedikit masalah padanya. “tapi Zal, ibu itu sekolah pertama buat ananknya nanti, kalo kamu belum berhasil membuat istrimu seperti apa yang kamu inginkan, itu akan menjadi masalah. Kamu kerja sedang istrimu mendidik anakmu. Kalo istrimu belum baik itu akan berpengaruh pada anak-anakmu nanti” paparku pada Rizal yang membuatnya sedikit bingung mungkin dan mengangguk-ngangguk.
Namun aku juga tak mau dia larut dalam masalah, ku lanjut masalah itu dengan penyelesaiannya “nah kalo istrimu sudah salihah dari awal, itu akan berakibat baik buat anakmu nanti. Kalo anak istrimu sudah baik, tugasmu tinggal menafkahinya, itu sedekahmu. Buat masalah istri nih, gak mungkin istri itu sempurna walaupun dia sudah baik menurutmu dan itu kamu yang menjadi penyempurnanya”. Kali ini Rizal tersenyum dengan menampakkan giginya nampak puas. Walaupun aku gak tau apa dia sudah puas apa belum.
“demikian yang dapat saya sampaikan, ada kurangnya mohon dimaafkan dan kalo ada lebihnya mohon dikembaikan. Mobil taufik meluncur tak berdaya, wabillahi taufik wal hidayah. Burung irian burung cendrawasih, cukup sekian terimakasih. Mawar sekuntum diatas batu, assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh. Tutup khotib saat menyampaikan kultumnya menghentikan obrolanku dengan Rizal disaat yang tak tepat itu dan membuat semua tertawa karna hiburan penutup dari khatib.
Lima tahun sudah setelah percakapan asyik itu terjadi, kini aku duduk di bangku kuliah.
“Assalamu’alaikum” sapa orang di sampingku yang bersama istrinya.
“Wa’alaikum salam, maaf siapa ya?” tanyaku heran.
“ini aku Dif, masa lupa. Yang dulu sering nanyain masalah nikah sama kamu di pondok” kata orang berjenggot tipis itu balik bertanya.
Kembali kuputarkan isi kepalaku ke masa pondok dulu “Rizal ya? Tanyaku.
“nah itu ingat. Jangan mentang mentang kuliah Kairo duluan terus kamu lupa aku ya” ejeknya sambil diikuti tawa ringan.
“eh kamu disini ngambil jurusan apa Zal?” tanyaku mengalihkan percakapan kita yang memojokkanku.
“aku di Tafsir Qur’an, kamu dimana?” tanyanya balik bertanya.
“aku di Ilmu Hadits. lah itu siapa? Kenalin lah” tanyaku karna penasaran dengan wanita bercadar yang dari tadi di belakang Rizal.
“oh iya ini Balqis istriku” jawab Rizal sambil tersenyum pada istrinya itu.
“kapan nikah kok gak ada undangan?” tanyaku pada Rizal.
“dua tahun setelah lulus pondok dulu Dif. Tapi gimana mau ngundang kamu, kamu ngilang kan setelah kita lulus. Di hubungin sosial medianya gak ada yang aktif. Sekarang alhamdulillah kita ketemu disini” jawab Rizal yang lagi-lagi memojokkkanku.
Dengan nada berbisik Rizal mendekatiku “mana istrimu Dif. Kok kamu gak ajak dia?.”
“Belum dapet jodoh Zal” jawabku membuatnya sedikit kaget.
“Asslamu’alaikum” sapa wanita berkerudung merah menghentikan obrolanku.
“wa’alaikum salam warahmatullah” jawab kami serempak. Karna heran aku bertanya padanya
“maaf tapi anda siapa ya?”
“saya orang yang dulu mas mintak bercadar dan sekarang saya bercadar. Saya tau mas ada di sini dari Balqis istrinya mas Rizal. Saya tinggal di asrama putri deket sini mas. Bapak saya di Sumatra masih dengan pekerjaan yang sama seperti yang dulu, beliau ingin saya segera menikah mas. asslamu’alaikum” jelas wanita itu padaku dan langsung meninggalkan kita.
“wa’alaikum salam warahmatulah” jawab kami.
“rejeki itu gak boleh ditolak, apalagi kodenya udah jelas. Datengi bapaknya! Ntar keburu diambil orang, sendirian lagi kamu. Asslamu’alaikum” kata Rizal sambil meninggalkanku sendirian.
“wa’alaikum salam warahmatullah” jawabuku dan masih heran apa yang terjadi dengan hari ini.
Seperti halnya Rezeki dan Kematian. Begitulah jodoh, tiada yang tau kapan dan siapa akan datang.
