Jujur Itu Keren, Mulainya dari Hal Kecil Aja

Saya adalah Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang. Saya memiliki minat di bidang komunikasi khususnya broadcasting.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nadin Azahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh: Nadin Azahra dan Mochammad Hafiz Romadhon, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang

Jika orang mendengar kata "korupsi", mereka biasanya membayangkan pejabat tinggi yang ditangkap oleh KPK, uang miliaran dalam koper, atau proyek fiktif yang sangat menguntungkan. Namun, korupsi tidak hanya milik orang berdasi. Perilaku koruptif dapat ditemukan di mana-mana, dan kita mungkin pernah melakukannya tanpa menyadarinya.
Baik Individu maupun Sistematika, Korupsi
Korupsi bukan hanya tentang mencuri uang negara, itu juga merupakan gejala dari mentalitas yang percaya bahwa berbuat curang adalah normal selama tidak terdeteksi. Dari kelas sekolah dasar, hingga petugas parkir, korupsi dapat masuk secara diam-diam dalam bentuk yang lebih halus.
Sebagai contoh? Menyontek selama tes. membayar "uang pelicin" untuk menyelesaikan masalah cepat. Titip absen di universitas. atau meminta "uang terima kasih" untuk layanan yang seharusnya gratis. Itu semua tindakan korup. Modus operandi yang sama: menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi.
Korupsi terus menjadi "budaya" karena beberapa alasan:
1. Penegakan hukum yang buruk: banyak kasus tidak diselesaikan atau pelakunya dihukum ringan.
2. Mentalitas Permisif: Selama perilaku tidak merugikan diri sendiri secara langsung, kita cenderung menormalisasinya.
3. Kurang contoh. Sulit untuk berharap masyarakat akan jujur ketika pemimpin tidak bersih.
4. Pola pikir instan: Banyak orang tidak melakukan proses yang benar untuk menjadi kaya cepat.
Korupsi tetap ada karena ada lingkungan yang mendukungnya, dan kadang-kadang kita sendiri adalah bagian dari lingkungan itu.
Korupsi Tidak Selalu Berhubungan dengan Uang.
Satu hal yang penting adalah korupsi tidak selalu berkaitan dengan uang; itu bisa juga berkaitan dengan kekuasaan, informasi, dan waktu.
Seorang pejabat yang membocorkan soal ujian kepada keluarganya adalah contohnya. Atau seorang kepala sekolah yang memaksa guru untuk membeli buku dari penerbit tertentu karena mendapat komisi, atau seorang pemimpin organisasi yang hanya menunjuk orang-orang yang dekat dengannya, meskipun mereka tidak berbakat. Mereka menyalahgunakan kepercayaan orang lain untuk keuntungan pribadi, yang merupakan ciri dari korupsi.
Jangan hanya marah, jadi jujur.
Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri, apakah kita benar-benar tidak berperilaku korup? Apakah kita selalu jujur dalam bekerja, belajar, dan bersikap, meskipun tidak mencuri uang negara?
Kesalahan kecil biasanya merupakan awal dari perubahan besar. Hentikan contek, titip absen, jalur belakang, dan amplop hanya untuk menyelesaikan masalah. Selain itu, yang paling penting, harus berani menolak dan menyatakan ketidakjujuran.
Korupsi mencerminkan
Korupsi mencerminkan prinsip-prinsip yang ada dalam masyarakat . Pembersihan harus dimulai dari rumah, lingkungan, dan diri sendiri jika kita ingin negara ini bersih.
Karena pada akhirnya, negara bersih dibangun oleh banyak orang biasa yang memilih untuk tidak curang, bukan oleh orang kaya.
