Apakah Kita Termasuk Umat yang Dirindukan Rasulullah SAW?

Saya adalah seorang Mahasiswa S1 Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari NADINDA HALIYANTO tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kemarin sore saya mengikuti sebuah kajian di masjid dalam rangka Madrasah Diniyah. Judulnya sederhana, tetapi justru membuat saya cukup lama memikirkannya setelah kajian selesai: “Menjadi Umat yang Dirindukan Rasulullah SAW.”
Awalnya saya membayangkan kajian ini akan banyak berbicara tentang bagaimana menjadi umat yang baik. Ternyata pembahasannya membawa saya pada pertanyaan yang lebih personal.
Kalau Rasulullah SAW pernah merindukan orang-orang yang bahkan belum pernah melihat beliau, apakah saya termasuk salah satunya?
Pertanyaan itu terasa sederhana, tetapi jawabannya tentu tidak sesederhana mengaku sebagai seorang muslim.
Rasulullah Pernah Merindukan Orang yang Belum Pernah Ditemuinya
Dalam kajian tersebut disampaikan sebuah hadis yang dinisbatkan kepada riwayat Ibnu Asakir dari Ibnu Abi Aufa. Dikisahkan bahwa Rasulullah SAW menyampaikan kerinduannya kepada “saudara-saudaranya”.
Para sahabat kemudian bertanya, bukankah mereka adalah saudara Rasulullah?
Rasulullah menjawab bahwa mereka adalah sahabatnya. Sementara saudara-saudaranya adalah orang-orang yang beriman kepada beliau, tetapi belum pernah melihat beliau.
Di bagian ini saya justru berhenti berpikir tentang istilah “saudara” itu sendiri.
Bayangkan, Rasulullah SAW merindukan seseorang yang belum pernah beliau temui.
Orang-orang itu bukan sahabat yang hidup bersama beliau. Mereka bukan orang-orang yang bisa duduk di samping beliau, mendengarkan langsung perkataan beliau, atau melihat bagaimana beliau menjalani kehidupan sehari-hari.
Mereka adalah umat yang datang setelahnya.
Termasuk generasi setelah para sahabat, seperti tabi'in, tabi'ut tabi'in, dan generasi-generasi berikutnya.
Dan tanpa terasa, kita yang hidup lebih dari seribu tahun setelah Rasulullah SAW pun menjadi bagian dari pertanyaan tersebut.
Apakah kita benar-benar menjadi umat yang dirindukan itu?
Beriman Bukan Sekadar Mengucapkan Syahadat
Pertanyaan tersebut kemudian membawa saya kepada pembahasan tentang makna beriman kepada Rasulullah SAW.
Dalam kajian, iman kepada Rasulullah dijelaskan melalui tiga hal: mengucapkannya dengan lisan, membenarkannya dalam hati, dan mengamalkan ajaran yang beliau bawa melalui anggota badan.
Artinya, menjadi umat Nabi Muhammad SAW ternyata tidak berhenti pada identitas.
Kita bisa dengan mudah mengatakan bahwa kita mencintai Rasulullah. Kita bisa bershalawat. Kita bisa memperingati Maulid. Kita bisa menyebut nama beliau dalam berbagai kesempatan.
Tetapi setelah itu muncul pertanyaan yang lebih sulit:
Seberapa jauh ajaran beliau benar-benar masuk ke dalam kehidupan kita?
Sebab mencintai seseorang biasanya membuat kita ingin mengenalnya. Dan ketika kita benar-benar mengenal seseorang yang kita cintai, kita juga akan berusaha mengikuti hal-hal baik yang diajarkannya.
Begitu pula dengan Rasulullah SAW.
Ada Harapan, tetapi Jangan Sampai Merasa Aman
Salah satu bagian kajian yang menurut saya menarik adalah pembahasan tentang dosa besar.
Dalam perspektif Ahlussunnah wal Jamaah yang disampaikan dalam kajian, seorang muslim yang melakukan dosa besar tidak serta-merta dihukumi kafir selama ia masih membenarkan Allah dan Rasul-Nya serta tidak menganggap dosa tersebut sebagai sesuatu yang halal.
Ia masih seorang muslim, tetapi berada dalam keadaan fasiq karena kemaksiatannya.
Bagi saya, pembahasan ini bukan sekadar perdebatan istilah.
Justru ada pesan yang sangat manusiawi di dalamnya: jangan mudah menganggap seseorang sudah tidak punya harapan.
Kadang kita melihat seseorang yang melakukan kesalahan, lalu buru-buru memberikan label.
“Dia memang begitu.”
“Orang itu sudah tidak bisa berubah.”
“Percuma dinasihati.”
Padahal, siapa yang tahu bagaimana akhir perjalanan seseorang?
Kajian tersebut kemudian membawa saya pada konsep khauf dan raja'—rasa takut dan harapan.
Kita memang perlu takut kepada dosa dan akibatnya. Tetapi kita juga tidak boleh membuat seseorang yang sedang bergelimang dosa merasa bahwa pintu Allah sudah tertutup.
Kepada orang yang sedang jatuh, mungkin kalimat yang lebih tepat bukan, “Kamu sudah terlalu jauh.”
Tetapi:
“Ayo kembali. Masih ada kesempatan untuk bertaubat.”
Namun harapan juga bukan alasan untuk sengaja berbuat dosa.
Jangan sampai kita berkata, “Tidak apa-apa melakukan maksiat, nanti juga bisa taubat.”
Itu bukan optimisme dalam beragama. Itu justru mempermainkan kesempatan yang diberikan Allah.
Kisah Pembunuh 100 Orang yang Membuat Saya Berpikir
Bagian lain yang cukup membekas adalah kisah seorang laki-laki yang telah membunuh 100 orang dan kemudian ingin bertaubat.
Ia pernah bertanya kepada seorang ahli ibadah, tetapi justru mendapatkan jawaban yang membuatnya putus asa. Dalam kisah tersebut, ia kemudian membunuh orang itu sehingga jumlah korbannya genap menjadi 100.
Namun ia belum berhenti mencari jalan pulang.
Ia akhirnya bertemu seorang alim yang mengatakan bahwa pintu taubat masih terbuka. Tetapi ada satu hal yang harus dilakukan: meninggalkan lingkungan yang buruk dan berpindah ke tempat orang-orang saleh.
Menurut saya, bagian ini sangat relevan dengan kehidupan sekarang.
Kita sering membayangkan taubat hanya sebagai rasa menyesal.
Padahal, kalau ingin berubah, terkadang lingkungan juga harus berubah.
Kebiasaan harus berubah.
Pergaulan mungkin harus berubah.
Cara kita menghabiskan waktu juga harus berubah.
Niat yang baik perlu diikuti dengan langkah yang nyata.
Dalam kisah tersebut, laki-laki itu bahkan meninggal ketika sedang melakukan perjalanan menuju lingkungan yang lebih baik. Malaikat rahmat dan malaikat azab kemudian berselisih mengenai dirinya. Pada akhirnya, ia mendapatkan rahmat karena jaraknya lebih dekat kepada tempat yang ia tuju.
Saya menangkap satu pelajaran sederhana dari kisah ini:
Allah melihat kesungguhan seseorang untuk kembali.
Mungkin kita belum menjadi orang baik sepenuhnya.
Mungkin masih banyak dosa yang belum selesai kita tinggalkan.
Tetapi selama masih ada keinginan untuk berubah, jangan berhenti berjalan.
Bahkan Rasulullah Tetap Mencintai Nu'aiman
Ada satu kisah lain yang juga menarik perhatian saya, yaitu tentang Nu'aiman, seorang sahabat Rasulullah SAW yang dikenal memiliki kebiasaan mabuk dan juga memiliki selera humor.
Dalam kisah yang disampaikan pemateri, Nu'aiman pernah mengajak Rasulullah SAW makan. Setelah selesai, ketika tiba waktunya membayar, ia justru meminta pemilik tempat makan menagih kepada Rasulullah.
Ia seolah-olah sedang mengerjai Rasulullah.
Yang menarik, meskipun Nu'aiman pernah mendapatkan hukuman karena mabuk dan melakukan berbagai tingkah yang menghibur, Rasulullah SAW tetap mencintainya sebagai seorang muslim.
Di sinilah saya merasa pembahasan tentang umat yang dirindukan menjadi semakin menarik.
Menjadi saudara atau umat Rasulullah bukan berarti kita harus menjadi manusia yang tanpa kesalahan.
Manusia tetap bisa jatuh.
Tetapi kesalahan tidak seharusnya menjadi alasan untuk kehilangan kasih sayang, apalagi membuat kita merasa lebih suci daripada orang lain.
Ada perbedaan antara membenci sebuah perbuatan dan membenci manusia yang melakukannya.
Mungkin justru di situlah salah satu bentuk kasih sayang dalam Islam: berusaha menjauhkan seseorang dari kesalahan tanpa membuatnya merasa tidak lagi memiliki tempat untuk kembali.
Jangan Sampai Kita Merasa Sudah Paling Suci
Dari pembahasan tentang dosa, kajian kemudian membawa saya pada satu hal yang menurut saya cukup menampar: jangan merasa diri paling bersih.
Kita mungkin melihat orang lain jarang shalat.
Kita mungkin melihat orang lain melakukan maksiat.
Kita mungkin tahu seseorang memiliki masa lalu yang buruk.
Tetapi kita tidak pernah tahu bagaimana akhir hidup seseorang.
Sebaliknya, kita juga tidak boleh merasa aman hanya karena hari ini kita masih menjalankan ibadah.
Iman bisa bertambah dan berkurang. Karena itu, yang perlu dijaga bukan hanya penilaian kita kepada orang lain, tetapi juga keadaan hati kita sendiri.
Barangkali pertanyaan yang lebih penting bukan:
“Seberapa buruk orang itu?”
Melainkan:
“Seberapa baik saya menjaga iman saya sendiri?”
Menjadi Umat yang Dirindukan Itu Seperti Apa?
Setelah mendengarkan seluruh kajian, saya akhirnya kembali kepada judulnya.
Menjadi umat yang dirindukan Rasulullah SAW.
Saya tidak merasa sudah pantas mengatakan bahwa saya termasuk di dalamnya.
Tetapi setidaknya kajian itu membuat saya tahu arah yang perlu dituju.
Beriman kepada Rasulullah bukan hanya mengaku sebagai umatnya. Ada keyakinan, ketaatan, dan usaha untuk mengikuti syariat yang beliau bawa.
Kita juga perlu menjaga hubungan dengan Al-Qur'an, menjaga lisan, memperbanyak amal baik, berpuasa Ramadan, dan berusaha meninggalkan hal-hal yang dilarang.
Yang tidak kalah penting, ketika seseorang terjatuh dalam dosa, jangan buru-buru memutus harapannya kepada Allah.
Ajak ia kembali.
Ingatkan bahwa pintu taubat masih terbuka.
Sebab kalau kita ingin menjadi umat yang dirindukan Rasulullah, mungkin salah satu hal yang perlu kita pelajari adalah cara beliau memperlakukan manusia.
Tidak mudah membenci.
Tidak mudah menghakimi.
Tidak merasa paling suci.
Dan tetap memberikan ruang bagi seseorang untuk kembali menjadi lebih baik.
Setelah Kajian Selesai, Pertanyaannya Justru Baru Dimulai
Saya pulang dari kajian sore itu dengan satu pertanyaan yang terus teringat.
Rasulullah SAW pernah merindukan umat yang belum pernah melihatnya.
Kita adalah orang-orang yang tidak pernah melihat wajah beliau secara langsung. Kita tidak pernah mendengar suara beliau secara langsung. Kita tidak pernah duduk bersama beliau.
Tetapi kita mengaku sebagai umatnya.
Maka mungkin pertanyaannya bukan lagi, “Apakah Rasulullah merindukan kita?”
Tetapi:
“Sudahkah kehidupan kita menunjukkan bahwa kita benar-benar ingin menjadi umat yang dirindukan beliau?”
Karena pada akhirnya, menjadi umat yang dirindukan Rasulullah SAW bukan hanya tentang mengaku mencintai beliau.
Ada iman yang harus dijaga, sunnah yang perlu dipelajari, akhlak yang perlu diteladani, dosa yang harus ditinggalkan, dan taubat yang harus terus diperjuangkan.
Dan mungkin, perjalanan untuk menjadi umat yang dirindukan itu memang tidak selesai dalam satu kajian.
Ia dimulai dari bagaimana kita menjalani hari setelah kajian tersebut selesai.
