Belajar Mencintai Nabi Muhammad SAW dengan Cara yang Lebih Dalam

Saya adalah seorang Mahasiswa S1 Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari NADINDA HALIYANTO tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sabtu kemarin saya menghadiri sebuah kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Seperti halnya peringatan Maulid pada umumnya, saya datang dengan bayangan akan mendengarkan shalawat, kisah tentang Rasulullah, dan nasihat-nasihat keagamaan.Namun, ada satu hal yang membuat saya cukup lama memikirkannya setelah acara selesai.
Pagi itu saya tidak hanya diajak mengingat Nabi Muhammad SAW sebagai sosok yang sangat kita cintai, tetapi juga diajak melihat bagaimana manusia mengekspresikan kecintaannya kepada beliau.
Ternyata, mencintai Nabi bisa hadir dalam banyak bentuk.
Ada yang mengungkapkannya melalui sastra dan pujian. Ada yang memilih mengenal Nabi melalui gambaran fisik dan akhlaknya. Ada pula yang berusaha memastikan setiap riwayat tentang beliau benar-benar memiliki dasar yang kuat.
Dari sini saya mulai berpikir, mungkin selama ini saya terlalu sederhana dalam memahami kata “mencintai”.
Ketika Cinta kepada Nabi Dituangkan dalam Sastra
Dalam mauidatul hasanah yang saya simak, pemateri menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan sosok besar yang sangat dicintai oleh pengikutnya.
Salah satu bentuk kecintaan itu kemudian dituangkan dalam karya sastra.
Saya jadi teringat bagaimana dalam tradisi masyarakat Muslim kita sering mendengar pembacaan Barzanji, Diba', atau berbagai bentuk pujian kepada Rasulullah.
Pemateri juga menyebut beberapa tokoh dan karya yang berkaitan dengan tradisi tersebut. Ada Abdurrahman bin Ad-Dibah yang dikenal melalui karya Diba', kemudian Al-Bushiri yang terkenal dengan Qashidatul Burdah.
Bagi saya, menarik bahwa rasa cinta kepada Nabi ternyata tidak hanya disimpan dalam hati.
Orang-orang pada masa lalu mencoba menuangkannya menjadi kata-kata yang indah.
Nabi dipuji dengan berbagai perumpamaan. Bahkan ada ungkapan yang menggambarkan beliau seperti matahari, bulan purnama, dan cahaya di atas cahaya.
Kalau dibaca secara sederhana, mungkin kita akan bertanya, “Memangnya Nabi benar-benar seperti matahari atau bulan?”
Tetapi di sinilah pemateri mengajak melihatnya dari sudut pandang sastra.
Dalam karya sastra memang terdapat bahasa kiasan dan keindahan ungkapan. Karena itu, menurut saya, memahami pujian kepada Nabi juga membutuhkan kemampuan melihat konteksnya.
Jangan sampai bahasa sastra dipahami secara kaku, tetapi jangan pula setiap ungkapan sastra diterima tanpa memahami batas-batas ajaran agama.
Pada akhirnya, sastra menjadi salah satu cara manusia mengungkapkan rasa cintanya.
Tiga Cara Melihat Kecintaan kepada Nabi
Bagian yang paling membuat saya tertarik adalah ketika pemateri menjelaskan bahwa ada tiga pendekatan dalam mencintai Nabi.
Pertama, melalui sastra Al-Madih An-Nabawi, yaitu karya sastra yang berisi pujian kepada Nabi.
Pendekatan ini menggunakan bahasa yang indah untuk menggambarkan keagungan Rasulullah. Al-Bushiri menjadi salah satu tokoh yang disebut dalam pembahasan ini.
Kedua, melalui karya Syamail.
Kalau pendekatan sastra banyak menggunakan keindahan bahasa, Syamail lebih banyak menggambarkan Nabi secara rinci, baik dari sisi fisik maupun akhlaknya.
Bagaimana kepala beliau, rambut beliau, mata beliau, pakaian beliau, hingga sifat-sifat beliau.
Pendekatan seperti ini membuat saya berpikir bahwa mencintai seseorang juga membutuhkan usaha untuk mengenalnya.
Bagaimana mungkin kita mengatakan mencintai seseorang kalau kita tidak berusaha mengetahui siapa yang kita cintai?
Kemudian yang ketiga adalah pendekatan penelitian hadis yang sahih, sebagaimana dilakukan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Di sini kecintaan kepada Nabi ditunjukkan melalui kehati-hatian dalam memastikan berita tentang beliau.
Tidak sekadar mencari cerita yang indah, tetapi juga mencari riwayat yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kalau saya melihat ketiganya, ada sesuatu yang menarik.
Ada yang mencintai Nabi dengan keindahan kata-kata, ada yang mencintai dengan mengenal sosoknya, dan ada yang mencintai dengan menjaga kebenaran riwayat tentangnya.
Ketiganya menunjukkan bahwa cinta bisa memiliki bentuk yang berbeda.
Bahkan Orang yang Bukan Muslim Bisa Kagum kepada Nabi
Bagian lain yang cukup membekas bagi saya adalah ketika pemateri menceritakan tentang seorang orientalis asal Jerman, Annemarie Schimmel.
Ia merupakan seorang akademisi yang melakukan penelitian mengenai pujian kepada Rasulullah di berbagai wilayah seperti Turki, Mesir, Irak, dan Yaman.
Yang menarik, ia bukan seorang Muslim.
Namun, dari penelitiannya terhadap berbagai tradisi dan karya tentang Rasulullah, tumbuh kekaguman yang sangat besar terhadap Nabi Muhammad SAW.
Pemateri menceritakan bagaimana Schimmel pernah mengungkapkan rasa cintanya kepada sosok yang lahir di Makkah dan wafat di Madinah itu.
Bagi saya, kisah ini menarik bukan karena ingin membandingkan siapa yang lebih mencintai Nabi.
Justru saya melihatnya sebagai sebuah pertanyaan untuk diri sendiri.
Kalau seseorang yang mempelajari Nabi dari luar tradisi Islam saja bisa menemukan kekaguman terhadap sosok beliau, bagaimana dengan kita yang sejak kecil mengenal nama Muhammad SAW sebagai Rasulullah?
Apakah kecintaan kita juga sudah membuat kita berusaha mengenal beliau lebih dalam?
Atau jangan-jangan kita hanya terbiasa menyebut nama beliau tanpa benar-benar berusaha meneladani kehidupannya?
Pertanyaan itu terasa cukup menampar.
Ternyata Salah Satu Bentuk Cinta Nabi adalah Tidak Mendoakan Keburukan
Semakin jauh mendengarkan ceramah, pembahasannya justru terasa semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pemateri mengingatkan tentang bagaimana Nabi Muhammad SAW mendoakan umatnya.
Beliau meneladani doa Nabi Ibrahim AS dan Nabi Isa AS yang menyerahkan urusan umat kepada Allah.
Saya kemudian teringat pada kehidupan kita sehari-hari.
Kadang kita mudah sekali kecewa kepada orang lain.
Apalagi bagi seseorang yang berperan sebagai guru, dosen, kiai, pendamping, atau orang yang memiliki tanggung jawab mendidik. Ketika seseorang yang dididik melakukan kesalahan, mungkin muncul rasa kesal.
Tetapi pemateri memberikan pesan yang menurut saya sangat penting:
Jangan pernah mendoakan keburukan kepada anak didik atau peserta didik.
Pesan ini terasa sederhana, tetapi sebenarnya berat untuk dilakukan.
Karena ketika kecewa, manusia sering kali berbicara berdasarkan emosi.
Sementara Nabi Muhammad SAW justru memberikan contoh yang berbeda.
Bahkan ketika beliau disakiti dan mendapatkan tawaran untuk membalas orang-orang yang menyakitinya, beliau tidak memilih pembalasan. Beliau masih berharap agar keturunan mereka kelak menjadi pengikutnya.
Kalau dipikir-pikir, di situlah mungkin salah satu bentuk cinta Nabi kepada manusia.
Beliau tidak hanya memikirkan kesalahan manusia pada hari ini, tetapi juga kemungkinan kebaikan mereka di masa depan.
Maulid Bukan Sekadar Ramai-Ramai
Ada satu bagian penutup yang juga menurut saya penting.
Peringatan Maulid seharusnya tidak berhenti pada keramaian.
Pemateri mengingatkan agar peringatan Maulid tidak dijadikan kesempatan untuk melakukan hal-hal yang justru memberatkan atau melanggar syariat.
Disebutkan pula karya KH Hasyim Asy'ari, At-Tambihatul Wajibah Liman Yashna'ul Maulid bil Munkarat, yang memberikan peringatan kepada orang yang menyelenggarakan Maulid agar tidak memasukkan kemungkaran ke dalamnya.
Saya menangkap pesan yang cukup sederhana dari bagian ini.
Mencintai Nabi bukan berarti hanya memperbanyak acara atas nama Nabi.
Yang lebih penting adalah bagaimana acara tersebut membawa kita semakin dekat kepada ajaran yang beliau bawa.
Jangan sampai kita begitu bersemangat merayakan Maulid, tetapi lupa dengan nilai yang seharusnya kita bawa setelah acara selesai.
Kalau Maulid membuat kita semakin rajin bershalawat, semakin dekat dengan Al-Qur'an, semakin baik kepada sesama, dan semakin berusaha meneladani akhlak Rasulullah, mungkin di situlah makna peringatan tersebut mulai terasa.
Setelah Acara Selesai, Pertanyaannya Justru Dimulai
Ketika acara selesai dan doa penutup dibacakan, saya merasa ada satu pertanyaan yang masih tertinggal.
Seberapa besar sebenarnya kecintaan saya kepada Nabi Muhammad SAW?
Bukan sekadar seberapa sering saya mendengar namanya.
Bukan hanya seberapa sering saya ikut membaca shalawat.
Tetapi apakah saya sudah berusaha mengenal beliau?
Apakah saya sudah mencoba meneladani akhlaknya?
Apakah saya mampu memaafkan ketika disakiti?
Apakah saya masih bisa mendoakan kebaikan untuk orang yang melakukan kesalahan kepada saya?
Dan yang tidak kalah penting, apakah kecintaan itu terlihat dalam perilaku saya sehari-hari?
Mungkin mencintai Nabi memang tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa kita mencintai beliau.
Cinta membutuhkan usaha untuk mengenal.
Cinta membutuhkan keteladanan.
Dan cinta juga membutuhkan perubahan dalam diri.
Sabtu kemarin saya datang ke acara Maulid Nabi untuk mendengarkan mauidatul hasanah.
Tetapi saya pulang membawa sesuatu yang lebih dari sekadar materi ceramah.
Saya pulang dengan sebuah pertanyaan untuk diri sendiri:
Kalau benar saya mencintai Nabi Muhammad SAW, sudah sejauh mana saya berusaha mengikuti beliau?
Mungkin pertanyaan itu tidak harus langsung saya jawab dengan kata-kata.
Barangkali jawabannya justru bisa dimulai dari hal-hal sederhana: memperbanyak shalawat, membiasakan membaca Al-Qur'an, menjaga ucapan, memperbaiki akhlak, dan berusaha menjadi pribadi yang membawa kebaikan bagi orang lain.
Sebab pada akhirnya, mencintai Nabi bukan hanya tentang bagaimana kita menyebut nama beliau, tetapi tentang bagaimana kecintaan itu perlahan terlihat dalam cara kita menjalani kehidupan.
