Konten dari Pengguna

Belajar Menjadi Konselor: Bukan Menyamakan, tetapi Memahami Kebutuhan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari NADINDA HALIYANTO tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(Ilustrasi layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus yang menekankan empati, kesetaraan, akses, potensi, dan kesempatan untuk berkembang.) (Sumber: OpenAI, 2026.)
zoom-in-whitePerbesar
(Ilustrasi layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus yang menekankan empati, kesetaraan, akses, potensi, dan kesempatan untuk berkembang.) (Sumber: OpenAI, 2026.)

Dua minggu lalu saya mengikuti mata kuliah Bimbingan dan Konseling di Pendidikan Khusus. Awalnya saya mengira perkuliahan ini akan banyak membahas teori tentang anak berkebutuhan khusus atau biasa disebut ABK.

Ternyata saya mendapatkan sesuatu yang jauh lebih dalam.

Saya justru diajak melihat kembali satu hal yang mungkin selama ini sering kita lupakan: menjadi konselor bukan hanya tentang seberapa banyak ilmu yang kita punya, tetapi juga tentang seberapa besar hati kita mampu memahami orang lain.

Salah satu pembahasan yang paling membekas bagi saya adalah tentang hambatan.

Selama ini ketika melihat seseorang dengan kebutuhan khusus, kita mungkin secara spontan berpikir bahwa orang tersebut memiliki kekurangan. Padahal, belum tentu persoalannya ada pada dirinya.

Bagaimana kalau sebenarnya lingkungannya yang tidak dirancang untuk kebutuhannya?

Kalau Lingkungan Tidak Dibuat untuk Kita, Siapa yang Sebenarnya Berkebutuhan?

Ada satu gagasan dari perkuliahan yang membuat saya berpikir cukup lama.

Lingkungan biasanya dibentuk berdasarkan kebutuhan orang yang dianggap “normal”. Tetapi ketika seseorang hidup di lingkungan yang tidak sesuai dengan kebutuhannya, justru dirinya yang dianggap berkebutuhan.

Kalimat itu sederhana, tetapi maknanya besar.

Bayangkan seseorang yang menggunakan kursi roda berada di tempat yang tidak memiliki akses untuk berpindah dengan mudah. Apakah masalah sepenuhnya berada pada orang tersebut?

Atau jangan-jangan lingkunganlah yang belum memberikan akses yang seharusnya?

Dari sini saya mulai memahami bahwa dalam layanan Bimbingan dan Konseling, tugas kita bukan sekadar melihat “apa kekurangan seseorang”, tetapi juga mencari tahu hambatan apa yang membuat seseorang belum bisa berkembang secara optimal.

Tujuannya bukan membuat semua orang menjadi sama.

Tujuannya adalah membantu setiap orang berkembang dan mandiri sesuai dengan porsinya masing-masing.

Equality Tidak Selalu Berarti Adil

Pembahasan lain yang cukup melekat bagi saya adalah konsep:

Equality to be Equity.

Saya dulu mungkin akan berpikir bahwa bersikap adil berarti memberikan hal yang sama kepada semua orang.

Namun, ternyata tidak selalu demikian.

Memberikan sesuatu yang sama kepada setiap orang belum tentu menghasilkan kesempatan yang sama.

Ada orang yang membutuhkan bantuan lebih banyak. Ada yang membutuhkan cara komunikasi berbeda. Ada yang membutuhkan waktu lebih panjang. Ada pula yang sebenarnya tidak membutuhkan bantuan yang sama dengan orang lain.

Karena itu, prinsip yang menurut saya penting dalam pendidikan khusus adalah:

"Berikan yang terbaik sesuai dengan apa yang mereka butuhkan, bukan berdasarkan standar yang sama untuk setiap manusia."

Di sinilah saya merasa peran seorang konselor menjadi sangat penting.

Konselor tidak boleh hanya melihat seseorang dari standar yang sudah dibuat sebelumnya. Konselor perlu melihat manusia yang ada di hadapannya.

Setiap Anak Berbeda, Lalu Mengapa Standarnya Harus Sama?

Dalam kelas, muncul pertanyaan sederhana:

“Apa sih anak berkebutuhan khusus itu?”

Seorang mahasiswa menjawab bahwa ABK adalah seseorang yang memiliki kebutuhan berbeda dari orang normal pada umumnya.

Kemudian dosen muda kami membawa pembahasan itu ke arah yang lebih dalam.

Kalau kebutuhan setiap anak berbeda, apakah masuk akal jika semua anak diberikan standar yang sama?

Ada anak yang memiliki hambatan pada aspek motorik. Ada yang berbeda pada sensorik, emosional, atau intelektual.

Perbedaan tersebut tentu memengaruhi cara mereka belajar, berinteraksi, dan berkembang.

Karena itu, guru yang menetapkan standar yang sama persis kepada setiap murid justru bisa gagal memahami keberagaman muridnya.

Bukan berarti standar harus dihilangkan.

Tetapi cara mencapai perkembangan setiap anak bisa berbeda.

Dan di situlah pendidikan seharusnya hadir.

Saya Belajar Bahwa Konselor Harus Menumbuhkan Hati

Ada satu pesan dari dosen yang menurut saya cukup menohok.

Sebagai seorang konselor, kita harus menumbuhkan hati.

Maksudnya bukan sekadar memiliki rasa kasihan.

Lebih dari itu, kita perlu memiliki empati.

Kita perlu berusaha memahami bagaimana seseorang melihat dunia dari sudut pandangnya sendiri.

Karena itu, memahami ABK membutuhkan sesuatu yang tidak cukup diperoleh hanya dari buku.

Perasaan itu harus tumbuh.

Kalau seseorang memilih mengajar atau mendampingi ABK hanya karena pekerjaan tersebut menghasilkan uang, mungkin secara profesional ia tetap bisa menjalankan tugasnya.

Tetapi ada sesuatu yang mungkin hilang: hubungan kemanusiaannya.

Bagi saya, ini bukan berarti uang atau pekerjaan tidak penting.

Tetapi ketika kita bekerja bersama manusia yang membutuhkan pendampingan, jangan sampai manusia tersebut hanya dilihat sebagai “pekerjaan”.

Ada pribadi di hadapan kita.

Ada perasaan.

Ada potensi.

Ada mimpi.

Dan ada kehidupan yang ingin berkembang.

Pendidikan Inklusi Jangan Berhenti pada Label

Kemudian muncul pertanyaan yang menurut saya semakin relevan:

Apakah pendidikan inklusi hanya berhenti sebagai tulisan dalam undang-undang, slogan, atau label sebuah sekolah?

Kita bisa mengatakan sebuah sekolah adalah sekolah inklusi.

Tetapi apakah anak berkebutuhan khusus benar-benar diterima?

Apakah lingkungan sekolah sudah memberikan akses yang mereka perlukan?

Apakah guru dan konselor memahami kebutuhan mereka?

Apakah mereka diterima secara struktural sekaligus secara manusiawi?

Karena menurut saya, menerima ABK hanya agar sebuah lembaga terlihat sebagai “instansi pendidikan inklusi” justru menjadi persoalan jika penerimaan tersebut tidak diikuti perubahan nyata.

Inklusi seharusnya bukan hanya tentang menerima keberadaan mereka, tetapi juga memastikan mereka memiliki ruang untuk belajar, berkembang, berinteraksi, dan menjadi dirinya sendiri.

Lalu, Bagaimana dengan Masa Depan Karier Mereka?

Pertanyaan lain yang muncul dalam perkuliahan juga membuat saya berpikir:

Apakah ABK tidak punya karier?

Tentu mereka juga memiliki masa depan.

Mereka memiliki kemampuan.

Mereka memiliki minat.

Mereka memiliki cita-cita.

Namun, masih ada anggapan bahwa menerima pekerja dengan kebutuhan khusus akan menghambat pekerjaan atau menambah biaya perusahaan.

Kalau cara pandang seperti ini terus dipertahankan, bukankah kita sedang menutup kesempatan seseorang bahkan sebelum melihat kemampuan yang sebenarnya ia miliki?

Mungkin yang perlu kita ubah bukan hanya kemampuan ABK untuk beradaptasi dengan dunia kerja.

Dunia kerja juga perlu belajar menyediakan ruang yang lebih ramah terhadap keberagaman manusia.

Karier seharusnya tidak hanya menjadi milik mereka yang memenuhi satu standar kemampuan tertentu.

Menjadi Konselor Berarti Belajar Melihat Manusia

Setelah mengikuti perkuliahan ini, saya merasa belajar menjadi calon konselor ternyata bukan hanya soal memahami teori, teknik konseling, atau bagaimana memberikan layanan.

Ada bagian yang jauh lebih mendasar: belajar melihat manusia sebagai manusia.

ABK bukan sekadar label.

Mereka bukan sekadar seseorang yang memiliki “kekurangan”.

Mereka adalah individu yang memiliki kebutuhan, kemampuan, potensi, perasaan, dan kesempatan untuk berkembang.

Karena itu, mungkin pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan:

“Apa yang kurang dari mereka?”

Tetapi:

“Apa yang bisa kita lakukan agar mereka dapat berkembang secara optimal dengan kemampuan yang mereka miliki?”

Saya semakin memahami bahwa tugas seorang konselor bukan membuat semua orang menjadi sama.

Tugasnya adalah membantu setiap individu menemukan ruang untuk berkembang sesuai dengan kebutuhannya.

Dan mungkin, dari logo Bimbingan dan Konseling pun kita bisa mengingat kembali makna sederhana itu: layanan diberikan kepada siapa pun yang membutuhkan.

Tidak peduli apakah seseorang dianggap normal atau memiliki kebutuhan khusus.

Pada akhirnya, beri yang terbaik sesuai dengan apa yang mereka butuhkan, bukan berdasarkan standar yang sama untuk setiap manusia.