Belajar tentang Manusia dari Organisasi Mahasiswa Pecinta Alam

Saya adalah seorang Mahasiswa S1 Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari NADINDA HALIYANTO tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya kira belajar di organisasi pecinta alam akan banyak berbicara tentang kegiatan lapangan. Ternyata, ada hal lain yang tidak kalah penting: bagaimana belajar, mendampingi, memimpin, bekerja sama, dan menghadapi konflik dengan manusia lain.
Ada satu hal yang cukup menarik dari pengalaman mengikuti kegiatan di organisasi mahasiswa pecinta alam. Awalnya, ketika mendengar materi organisasi pecinta alam, bayangan saya mungkin tidak jauh dari kegiatan alam, pendidikan lapangan, perjalanan, atau berbagai keterampilan yang berkaitan dengan kegiatan di luar ruangan.
Tetapi setelah mengikuti beberapa materi, saya justru merasa bahwa organisasi seperti ini tidak hanya mengajarkan bagaimana seseorang berhadapan dengan alam. Lebih dari itu, organisasi juga menjadi tempat seseorang belajar menghadapi manusia.
Empat materi yang saya dapatkan—tentang sistem pendidikan, kependampingan, kepengurusan, dan manajemen konflik—sebenarnya terlihat seperti empat hal yang berbeda. Namun ketika saya pikir-pikir lagi, semuanya seperti saling terhubung.
Kita belajar.
Kemudian belajar mendampingi orang lain.
Setelah itu belajar mengelola organisasi.
Dan pada akhirnya, kita belajar menghadapi perbedaan yang muncul di dalamnya.
Dari situ saya mulai melihat organisasi mahasiswa pecinta alam dengan cara yang sedikit berbeda.
Ternyata Organisasi Juga Merupakan Tempat Pendidikan
Selama ini ketika mendengar kata pendidikan, yang langsung terbayang mungkin adalah ruang kelas, dosen, buku, tugas, dan ujian.
Padahal, pendidikan ternyata bisa berlangsung jauh lebih luas dari itu.
Dalam organisasi, pendidikan tidak hanya hadir melalui kegiatan formal. Ada pendidikan nonformal yang diberikan melalui berbagai kegiatan pelatihan dan pengembangan anggota. Tetapi ada juga pendidikan informal yang justru muncul dari kebiasaan sehari-hari.
Misalnya, bagaimana anggota menjaga peralatan setelah digunakan, bagaimana bersikap ketika bertemu masyarakat sekitar, bagaimana membangun hubungan dengan orang lain, sampai bagaimana menjaga nama baik organisasi.
Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana.
Namun kalau dipikir lagi, justru dari kebiasaan kecil itulah seseorang belajar tentang tanggung jawab.
Saya jadi berpikir bahwa pendidikan tidak selalu berbentuk seseorang berdiri di depan dan menjelaskan materi kepada kita. Kadang pendidikan hadir ketika kita melihat bagaimana orang lain bersikap, kemudian tanpa sadar kita belajar dari situ.
Karena itu, organisasi bukan hanya tempat untuk menjalankan program kerja. Organisasi juga bisa menjadi ruang belajar yang membentuk kebiasaan dan karakter anggotanya.
Dan mungkin inilah salah satu hal menarik dari belajar melalui organisasi: materi yang dipelajari tidak berhenti ketika kegiatan selesai.
Ada sesuatu yang ikut terbawa ke kehidupan sehari-hari.
Menjadi Pendamping Ternyata Tidak Sesederhana Memberi Arahan
Materi berikutnya membuat saya melihat hubungan antara senior dan junior dengan sudut pandang yang berbeda.
Kependampingan ternyata bukan sekadar bagaimana orang yang lebih berpengalaman memberikan instruksi kepada orang yang belum berpengalaman.
Seorang pendamping justru perlu membantu seseorang menemukan kemampuannya sendiri.
Artinya, pendamping tidak harus selalu menjadi orang yang paling banyak bicara.
Kadang justru yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk mendengarkan.
Sebelum mendampingi seseorang, kita perlu mengenali siapa orang tersebut. Bagaimana karakternya? Apa motivasinya? Bagaimana cara dia belajar? Apa yang menjadi hambatannya?
Sebab, tentu tidak semua orang bisa diperlakukan dengan cara yang sama.
Ada orang yang mudah menyampaikan pendapat. Ada yang lebih banyak berpikir sebelum berbicara. Ada yang baru benar-benar memahami sesuatu ketika langsung mempraktikkannya. Ada juga yang cenderung dominan.
Belum lagi persoalan motivasi dan hambatan yang berbeda-beda.
Dari sini saya menangkap satu hal: mendampingi seseorang berarti berusaha memahami orang tersebut, bukan sekadar menyampaikan apa yang kita tahu.
Seorang pendamping bahkan digambarkan memiliki beberapa peran sekaligus—sebagai kompas, cermin, penjaga, dan katalisator.
Saya suka gagasan tentang “cermin” di sini.
Karena terkadang seseorang sebenarnya sudah memiliki jawabannya, tetapi belum mampu melihat dirinya sendiri dengan jelas. Pendamping membantu orang tersebut melihat kembali kemampuan, kekurangan, dan potensinya.
Jadi, pendamping bukan orang yang mengambil alih perjalanan orang lain.
Ia hanya membantu agar orang tersebut mampu menemukan jalannya sendiri.
Ketika Mendapat Amanah, Jabatan Bukan Lagi Soal Nama
Kemudian pembahasan masuk ke kepengurusan.
Kalau mendengar kata “pengurus”, kita mungkin langsung memikirkan jabatan: ketua, sekretaris, bendahara, atau kepala divisi.
Tetapi ternyata struktur organisasi bukan sekadar tentang siapa memiliki jabatan apa.
Struktur diperlukan agar pekerjaan memiliki pembagian yang jelas. Ada alur koordinasi agar komunikasi berjalan. Ada pula prinsip-prinsip yang menjadi dasar bagaimana keputusan dibuat dan bagaimana anggota menjalankan tanggung jawabnya.
Dalam kegiatan organisasi, pembagian tugas juga menjadi penting. Ada yang menangani operasional lapangan, logistik dan peralatan, administrasi, hingga hubungan masyarakat dan publikasi.
Namun bagi saya, bagian yang cukup menarik justru ketika kepengurusan dipandang sebagai sebuah perjalanan.
Dasarnya adalah sistem dan pembagian tugas. Setelah itu organisasi bergerak melalui berbagai tahapan sampai akhirnya diharapkan menghasilkan sesuatu yang lebih besar: dampak positif.
Jadi, kepengurusan bukan sekadar posisi untuk dicantumkan di struktur organisasi.
Ada pekerjaan yang harus dilakukan.
Ada anggota yang harus dilayani.
Ada kebutuhan organisasi yang harus dijawab.
Bahkan program kerja pun seharusnya tidak sekadar mengulang apa yang dilakukan tahun sebelumnya. Program perlu melihat kebutuhan organisasi pada saat itu.
Karena organisasi terus berubah, kebutuhan anggotanya pun ikut berubah.
Dari situ saya semakin memahami kalimat bahwa kepengurusan adalah kaki tangan dari anggota.
Jabatan akhirnya bukan tentang siapa yang paling tinggi.
Tetapi tentang siapa yang mau mengambil tanggung jawab.
Lalu Datang Bagian yang Paling Sulit: Konflik
Kalau ada satu hal yang hampir pasti muncul dalam organisasi, mungkin jawabannya adalah konflik.
Bukan karena organisasi itu buruk.
Justru karena di dalam organisasi ada banyak manusia dengan karakter, pengalaman, pemikiran, dan kepentingan yang berbeda.
Yang menarik, konflik sebenarnya tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Kadang semuanya berawal dari perbedaan antara harapan dan kenyataan.
Kita berharap sesuatu berjalan seperti ini, tetapi kenyataannya berjalan seperti itu.
Muncullah jarak.
Kemudian kita memberikan respons terhadap jarak tersebut.
Dari sinilah konflik bisa berkembang.
Saya kemudian menyadari bahwa persoalannya bukan hanya tentang apa yang terjadi, tetapi juga tentang bagaimana kita memaknai apa yang terjadi.
Satu kejadian yang sama bisa dipahami secara berbeda oleh dua orang.
Seseorang bisa menganggap sebuah tindakan sebagai bentuk ketegasan. Orang lain mungkin melihatnya sebagai bentuk kemarahan.
Kejadiannya sama.
Tetapi persepsinya berbeda.
Dari fakta, seseorang membentuk persepsi. Persepsi kemudian melahirkan interpretasi, perasaan, dan akhirnya respons.
Itulah sebabnya konflik kadang menjadi semakin besar bukan hanya karena masalah awalnya, tetapi karena interpretasi yang kita bangun terhadap masalah tersebut.
Dan di titik ini saya merasa ada pertanyaan yang cukup penting untuk diri sendiri:
Apa sebenarnya yang terjadi?
Apa yang saya simpulkan dari kejadian itu?
Dan sebenarnya apa yang sedang saya rasakan?
Tiga pertanyaan sederhana, tetapi mungkin tidak selalu mudah dijawab ketika emosi sedang tinggi.
Tidak Semua Perbedaan Berarti Kita Berada di Sisi yang Berbeda
Ada satu pemikiran dari materi konflik yang menurut saya cukup relevan dengan kehidupan organisasi.
Memiliki tujuan yang sama bukan berarti kita harus memiliki cara berpikir yang sama.
Kita bisa berbeda pendapat dan tetap berada dalam satu organisasi.
Kita bisa tidak setuju terhadap sebuah keputusan, tetapi bukan berarti kita tidak peduli terhadap organisasi.
Justru organisasi yang sehat seharusnya memberikan ruang untuk menguji ide.
Yang diuji adalah idenya, bukan orangnya.
Perbedaan pendapat seharusnya dibicarakan dengan alasan dan data, bukan dengan sindiran, serangan pribadi, atau membentuk kelompok-kelompok kecil.
Karena ketika persoalan sudah berubah dari “kita berbeda pendapat” menjadi “kamu adalah masalahnya”, konflik biasanya akan semakin sulit diselesaikan.
Di sinilah peran seorang pemimpin atau mediator menjadi penting.
Bukan untuk mencari siapa yang paling benar, tetapi membantu pihak-pihak yang berkonflik kembali melihat persoalan dengan lebih jernih.
Mendengarkan kedua pihak.
Memisahkan orang dari masalah.
Mencari fakta.
Memahami kebutuhan masing-masing.
Kemudian mencari titik temu dan menentukan langkah yang bisa disepakati.
Kalau emosi sedang tinggi, mungkin hal pertama yang harus dilakukan bukan menyelesaikan masalah secepat mungkin, tetapi menenangkan keadaan terlebih dahulu.
Setelah itu baru mendengarkan, mengklarifikasi, mencari titik temu, menentukan tindakan, dan melakukan evaluasi.
Bagi saya, ini menunjukkan bahwa kedewasaan organisasi bukan berarti organisasi tersebut tidak pernah mengalami konflik.
Justru kedewasaan terlihat dari bagaimana konflik itu dihadapi.
Mungkin Konflik Bukan Tanda Organisasi Sedang Rusak
Setelah mempelajari materi-materi tersebut, saya jadi berpikir bahwa konflik sebenarnya tidak selalu harus dianggap sebagai sesuatu yang buruk.
Konflik memang bisa menjadi destruktif ketika isinya saling menyerang.
Tetapi konflik juga bisa menjadi konstruktif ketika perbedaan digunakan untuk memperbaiki sesuatu.
Bayangkan sebuah organisasi yang semua anggotanya selalu mengatakan “iya”.
Tidak ada yang bertanya.
Tidak ada yang mengkritik.
Tidak ada yang berani mengatakan bahwa suatu program mungkin kurang tepat.
Sekilas terlihat harmonis.
Tetapi apakah benar-benar sehat?
Belum tentu.
Bisa jadi organisasi tersebut hanya sedang menghindari perbedaan.
Sebaliknya, organisasi yang anggotanya berani menyampaikan pendapat dengan cara yang sehat justru memiliki kesempatan untuk berkembang.
Mungkin karena itu saya cukup setuju dengan satu gagasan sederhana:
konflik tidak selalu tanda organisasi sedang rusak. Kadang, konflik adalah tanda bahwa organisasi sedang tumbuh.
Yang menentukan adalah bagaimana kita mengelolanya.
Pada Akhirnya, Saya Tidak Hanya Belajar tentang Organisasi
Kalau dipikir-pikir, empat materi ini sebenarnya seperti mengajarkan satu rangkaian perjalanan.
Pertama, kita belajar.
Kemudian kita belajar mendampingi orang lain.
Setelah itu kita belajar mengelola organisasi.
Dan akhirnya kita belajar menghadapi perbedaan.
Semua kembali kepada manusia.
Saya datang ke organisasi mahasiswa pecinta alam dengan bayangan bahwa saya akan belajar banyak hal tentang kegiatan dan kehidupan organisasi.
Ternyata saya justru mendapatkan pelajaran yang lebih luas.
Saya belajar bahwa pendidikan bisa terjadi di mana saja.
Saya belajar bahwa mendampingi seseorang tidak berarti selalu memberikan jawaban.
Saya belajar bahwa jabatan membawa tanggung jawab, bukan sekadar nama.
Dan saya belajar bahwa konflik tidak selalu harus dihindari, tetapi perlu dipahami dan dikelola.
Mungkin itulah yang membuat organisasi menjadi menarik.
Kita tidak hanya belajar bagaimana melakukan sesuatu bersama-sama.
Kita juga belajar menjadi manusia yang lebih mampu hidup bersama orang lain.
Karena pada akhirnya, organisasi bukan hanya tentang program apa yang berhasil kita jalankan.
Bukan hanya tentang berapa banyak kegiatan yang terlaksana.
Bukan pula hanya tentang siapa yang menjadi pengurus.
Tetapi tentang orang seperti apa yang kita bentuk selama berada di dalamnya.
Dan mungkin, setelah semua kegiatan selesai, justru pelajaran tentang manusia itulah yang paling lama kita bawa pulang.
