Bimbingan dan Konseling di Sekolah Bukan Sekadar Tempat Siswa Bermasalah

Saya adalah seorang Mahasiswa S1 Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari NADINDA HALIYANTO tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita mendengar kalimat, “Kalau dipanggil guru BK berarti sedang bermasalah?” Pandangan seperti ini masih cukup familiar di lingkungan sekolah. Padahal, Bimbingan dan Konseling memiliki peran yang jauh lebih luas daripada sekadar menangani siswa yang dianggap bermasalah. Bimbingan dan Konseling merupakan bagian penting dalam pendidikan yang membantu siswa memahami dirinya, memahami lingkungan, dan berkembang secara optimal.
Sebagai mahasiswa Bimbingan dan Konseling, pemahaman tersebut menjadi salah satu hal yang menarik untuk saya refleksikan dalam perkuliahan Bimbingan dan Konseling di Pendidikan Dasar dan Menengah pada pekan kedua ini. Dari pembahasan mengenai hakikat BK, saya mulai melihat bahwa layanan BK seharusnya dipahami sebagai bagian penting dalam membantu perkembangan siswa secara optimal.
Memahami Arti Bimbingan dan Konseling
Secara sederhana, bimbingan merupakan proses pemberian bantuan kepada individu agar mampu memahami dirinya, memahami lingkungannya, serta berkembang secara optimal. Sementara itu, konseling merupakan proses bantuan melalui hubungan profesional yang bertujuan membantu individu memahami dirinya dan menghadapi persoalan yang lebih mendalam.
Dari pengertian tersebut, terlihat bahwa bimbingan dan konseling bukan hanya berbicara mengenai “masalah.” Ada proses memahami diri, memahami lingkungan, dan mengembangkan potensi individu.
Bimbingan dan konseling juga memiliki arah gerak yang berbeda. Bimbingan cenderung berkaitan dengan permasalahan yang lebih mendasar dan dapat diberikan kepada populasi yang lebih banyak. Sementara konseling lebih diarahkan pada penyelesaian persoalan yang berkaitan dengan kondisi interpersonal individu secara lebih mendalam.
Artinya, tidak semua siswa yang mengikuti layanan BK harus terlebih dahulu memiliki masalah besar.
Ketika Siswa Takut Membaca di Depan Kelas
Salah satu contoh yang menarik adalah ketika terdapat siswa yang selalu gemetar dan merasa takut ketika diminta membaca di depan kelas.
Jika dilihat sekilas, mungkin kita hanya akan mengatakan bahwa siswa tersebut pemalu. Namun, dari sudut pandang bimbingan dan konseling, kondisi tersebut dapat menjadi sesuatu yang perlu dipahami lebih jauh.
Apa yang membuat siswa tersebut takut? Apakah ia merasa tidak percaya diri? Apakah ia khawatir mendapatkan respons negatif dari teman-temannya? Atau ada pengalaman tertentu yang membuatnya merasa takut tampil di depan kelas?
Di sinilah pentingnya memahami siswa sebagai individu yang sedang berkembang. Perilaku yang tampak di permukaan belum tentu menggambarkan keseluruhan kondisi yang dialami seorang siswa.
Karena itu, layanan BK bukan sekadar mencari kesalahan siswa, melainkan membantu siswa memahami dirinya dan menemukan cara untuk berkembang.
BK dan Psikolog Pendidikan Bukanlah Hal yang Sama
Dalam pembahasan mengenai hakikat BK, terdapat pula perbedaan ranah antara Bimbingan dan Konseling dengan Psikolog Pendidikan.
BK lebih bergerak pada layanan langsung kepada siswa, sedangkan psikolog pendidikan bergerak pada sistem pendidikan itu sendiri, termasuk berbagai alur dan sistem layanan pendidikan.
Perbedaan ranah tersebut menunjukkan bahwa dunia pendidikan membutuhkan berbagai profesi dengan peran masing-masing. Tidak tepat apabila seluruh persoalan perkembangan siswa hanya dibebankan kepada satu pihak.
Siswa berada dalam lingkungan pendidikan yang melibatkan guru, guru BK, orang tua, teman sebaya, serta berbagai unsur lain. Semuanya dapat memiliki kontribusi dalam mendukung perkembangan siswa.
Guru Kelas Juga Memiliki Peran Penting
Menariknya, guru kelas dapat menjadi salah satu pihak yang pertama kali mengetahui adanya perubahan pada diri siswa.
Mengapa? Karena guru kelas memiliki kesempatan untuk mengamati siswa dalam kesehariannya. Melalui observasi harian, guru dapat melihat perubahan emosi maupun karakter siswa.
Misalnya, seorang siswa yang biasanya aktif tiba-tiba menjadi pendiam. Atau siswa yang sebelumnya rajin mulai sering tidak masuk sekolah. Bahkan, perubahan kecil dalam perilaku siswa dapat menjadi informasi penting apabila diperhatikan dengan baik.
Dalam catatan perkuliahan juga terdapat gambaran mengenai seorang siswa yang sering bolos pada pelajaran tertentu. Situasi seperti ini tentu menimbulkan pertanyaan: mengapa siswa tersebut melakukannya dan apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar memberikan label “siswa malas” atau “siswa bermasalah.”
Ketika Jumlah Siswa Tidak Sebanding dengan Tenaga BK
Dalam praktiknya, pelaksanaan layanan BK juga memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya adalah jumlah siswa yang harus ditangani oleh pengampu profesi BK.
Dalam materi perkuliahan disebutkan bahwa satu pengampu profesi BK menangani sekitar 150 siswa. Namun, kondisi nyata di Indonesia tidak selalu sesuai dengan perbandingan tersebut.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa layanan BK membutuhkan strategi agar tetap dapat menjangkau siswa secara luas. Salah satu bentuk layanan yang kemudian muncul adalah bimbingan klasikal, sehingga layanan tidak hanya diberikan secara individual, tetapi juga dapat menjangkau siswa dalam jumlah yang lebih banyak.
Hal ini menjadi pengingat bahwa pelayanan BK di sekolah bukan pekerjaan sederhana. Ada tuntutan untuk memahami kebutuhan siswa sekaligus menyesuaikan bentuk layanan dengan kondisi nyata di sekolah.
Lima Fungsi BK yang Perlu Dipahami
Dalam pembahasan pekan kedua, terdapat lima fungsi utama Bimbingan dan Konseling, yaitu pemahaman, pencegahan, pengembangan, pemeliharaan, serta pengentasan atau responsif.
Kelima fungsi tersebut memperlihatkan bahwa BK tidak hanya hadir ketika masalah sudah terjadi.
Ada fungsi pemahaman untuk membantu individu memahami dirinya dan lingkungannya. Ada pencegahan agar berbagai persoalan dapat diminimalkan. Ada pengembangan dan pemeliharaan untuk mendukung kondisi positif yang sudah dimiliki individu. Sementara pengentasan atau responsif berkaitan dengan pemberian bantuan ketika individu menghadapi persoalan yang membutuhkan penanganan.
Dengan demikian, BK seharusnya hadir bukan hanya ketika “ada masalah,” tetapi juga ketika siswa sedang belajar mengenal diri, mengembangkan kemampuan, menjaga kondisi positif, dan mempersiapkan dirinya menghadapi berbagai situasi.
Mengubah Cara Pandang terhadap BK
Pada akhirnya, memahami hakikat bimbingan dan konseling membuat saya melihat bahwa BK di sekolah tidak seharusnya identik dengan siswa bermasalah.
Siswa yang datang kepada guru BK bukan berarti siswa yang gagal. Siswa yang membutuhkan bantuan bukan berarti siswa yang lemah. Justru, keberadaan layanan BK dapat menjadi ruang bagi siswa untuk memahami dirinya dan mendapatkan dukungan dalam proses perkembangannya.
Mungkin sudah saatnya kita mengubah pertanyaan dari, “Siswa ini bermasalah atau tidak?” menjadi “Apa yang sedang dialami siswa ini dan bantuan apa yang ia butuhkan?”
Perubahan cara pandang tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, dari sanalah layanan BK dapat ditempatkan sebagaimana hakikatnya: bukan sebagai tempat untuk menghakimi siswa, melainkan sebagai bagian dari pendidikan yang membantu individu memahami diri, memahami lingkungan, dan berkembang secara optimal.
