Bimbingan dan Konseling Perkembangan Siswa yang Sedang Bertumbuh

Saya adalah seorang Mahasiswa S1 Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari NADINDA HALIYANTO tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalau mendengar kata Bimbingan dan Konseling, apa yang pertama kali muncul di pikiran kita?
Saya pernah memiliki gambaran yang cukup sederhana tentang BK. Guru BK identik dengan siswa yang bermasalah, siswa yang melanggar aturan, atau siswa yang membutuhkan bantuan ketika menghadapi persoalan tertentu. Seolah-olah BK baru diperlukan ketika sesuatu sudah tidak berjalan dengan baik.
Namun, pandangan itu perlahan berubah ketika saya mengikuti perkuliahan Bimbingan dan Konseling Perkembangan.
Dalam presentasi kelompok 1 kemarin, saya justru menemukan pertanyaan yang menurut saya jauh lebih menarik: bagaimana kalau BK tidak hanya hadir ketika siswa bermasalah, tetapi sejak awal hadir untuk membantu mereka berkembang?
Pertanyaan tersebut membuat saya melihat BK dari sudut yang sedikit berbeda.
Setiap Siswa Sedang Bertumbuh
Salah satu hal yang saya tangkap dari pembahasan tersebut adalah bahwa setiap peserta didik sebenarnya sedang berada dalam proses perkembangan.
Mereka bukan hanya sedang belajar matematika, bahasa, atau ilmu pengetahuan. Di saat yang sama, mereka juga sedang belajar mengenal dirinya, membangun hubungan dengan orang lain, mengembangkan kemampuan belajar, dan mulai memikirkan masa depan.
Makalah kelompok 1 menjelaskan bahwa Bimbingan dan Konseling Perkembangan berorientasi pada perkembangan individu secara menyeluruh dan berkelanjutan. Layanan ini tidak hanya ditujukan kepada siswa yang mengalami masalah, tetapi kepada seluruh peserta didik untuk membantu mereka mengembangkan potensi dan mencapai perkembangan yang optimal.
Bagi saya, bagian ini cukup menarik.
Sebab, kalau kita berpikir bahwa BK hanya diperuntukkan bagi siswa bermasalah, berarti ada banyak siswa yang sebenarnya membutuhkan dukungan tetapi tidak pernah merasa perlu datang kepada guru BK.
Padahal, mungkin mereka bukan sedang bermasalah.
Mereka hanya sedang mencari tahu siapa dirinya.
Mereka sedang bingung memilih jurusan.
Mereka sedang berusaha beradaptasi dengan teman-temannya.
Atau mungkin mereka sedang mencoba menemukan cara belajar yang paling sesuai dengan dirinya.
Dan menurut saya, hal-hal seperti itu juga merupakan bagian dari kehidupan siswa yang perlu mendapatkan perhatian.
Bagaimana Kalau Salah Satu Aspek Perkembangan Belum Optimal?
Ada satu pertanyaan dalam diskusi kelas yang menurut saya cukup menggugah.
Jika BK memiliki beberapa ruang lingkup seperti pribadi, sosial, belajar, dan karier, lalu bagaimana jika salah satu aspek tersebut belum terpenuhi dengan baik? Apakah siswa masih bisa mencapai perkembangan yang optimal?
Jawaban yang muncul dalam diskusi tidak melihat perkembangan sebagai sesuatu yang berhenti begitu saja.
Seorang siswa masih mungkin menemukan dan mengembangkan potensinya meskipun ada aspek perkembangan yang sebelumnya belum berkembang dengan baik. Hanya saja, proses tersebut mungkin membutuhkan waktu dan dukungan yang lebih besar.
Saya pikir ini adalah cara pandang yang penting.
Kadang kita terlalu cepat menganggap bahwa ketika seorang siswa tertinggal dalam satu hal, berarti ia tertinggal dalam segala hal.
Padahal tidak demikian.
Seorang siswa mungkin kesulitan bersosialisasi, tetapi memiliki kemampuan akademik yang baik. Siswa lain mungkin belum tahu minat kariernya, tetapi sangat kreatif dalam bidang tertentu. Ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk percaya diri, tetapi sebenarnya memiliki banyak potensi yang belum berani ditunjukkan.
Perkembangan manusia memang tidak selalu berjalan dengan kecepatan yang sama.
Dan tugas guru BK bukan meninggalkan siswa yang belum berkembang optimal, tetapi justru membantu mereka mendapatkan kesempatan untuk berkembang.
Fleksibel Bukan Berarti Tanpa Arah
Hal lain yang menarik dari diskusi kelas adalah perdebatan mengenai program BK yang sistematis tetapi tetap fleksibel.
Awalnya, dua kata tersebut mungkin terdengar bertentangan.
Kalau sistematis berarti terencana, bukankah fleksibel berarti bisa berubah?
Ternyata bukan begitu.
Dalam diskusi, dijelaskan bahwa program BK tetap dapat mengalami penyesuaian selama perubahan tersebut didasarkan pada kebutuhan siswa, asesmen, tujuan, dan perencanaan yang jelas.
Misalnya, seorang guru BK telah merancang bimbingan kelompok mengenai perencanaan karier. Namun setelah melakukan asesmen, ternyata siswa lebih membutuhkan bantuan untuk mengenali minat dan bakat.
Apakah program harus tetap dipaksakan sesuai rencana awal?
Tidak.
Program dapat disesuaikan.
Justru itulah fleksibilitas.
Namun, fleksibilitas juga memiliki batas. Jika setiap pertemuan selalu mengubah materi dan tujuan tanpa alasan yang jelas, maka program tersebut tidak lagi fleksibel, melainkan tidak konsisten.
Dari sini saya mulai memahami bahwa menjadi guru BK bukan hanya soal “bisa konseling”. Ada kemampuan membaca kebutuhan siswa dan menerjemahkannya ke dalam program yang tepat.
Tidak Semua yang Terjadi pada Siswa Berasal dari Dirinya
Ada satu pertanyaan lain yang menurut saya sangat dekat dengan realitas sekolah.
Bagaimana jika lingkungan sekolah justru menjadi salah satu faktor yang menghambat perkembangan siswa?
Ini menarik karena kita sering membicarakan perubahan seolah-olah semuanya bergantung pada individu.
Kalau siswa malas, kita meminta siswa berubah.
Kalau siswa tidak percaya diri, kita meminta siswa lebih percaya diri.
Kalau siswa sulit beradaptasi, kita meminta siswa menyesuaikan diri.
Tetapi bagaimana jika lingkungan di sekitarnya memang tidak memberikan ruang yang cukup untuk berkembang?
Dalam diskusi, dijelaskan bahwa konselor memiliki peran sebagai fasilitator. Konselor dapat membantu siswa menghadapi dampak lingkungan yang kurang mendukung sekaligus mendorong terciptanya lingkungan yang lebih suportif. Namun, konselor juga tidak dapat mengambil alih seluruh kewenangan sekolah.
Artinya, perkembangan siswa bukan hanya tanggung jawab siswa.
Ada guru.
Ada guru BK.
Ada orang tua.
Ada teman sebaya.
Ada lingkungan sekolah.
Semuanya memiliki peran.
BK Perkembangan Bukan Konsep yang Bisa Dipindahkan Mentah-Mentah
Pembahasan mengenai sejarah BK juga membawa kami pada pertanyaan tentang asal-usul konsep BK perkembangan.
Bimbingan dan Konseling memiliki sejarah perkembangan yang kuat di Amerika. Salah satu tokoh yang dibahas adalah Frank Parsons yang pada 1908 mendirikan The Vocational Bureau of Boston dan mengembangkan gagasan mengenai pemilihan karier berdasarkan pemahaman terhadap diri dan pekerjaan.
Tetapi muncul pertanyaan menarik dalam diskusi kelas:
Apakah konsep yang berkembang di Amerika bisa begitu saja diterapkan di Indonesia?
Jawabannya tentu tidak sesederhana itu.
Karakteristik sosial, budaya, teknologi, dan sistem pendidikan Indonesia berbeda. Karena itu, konsep BK yang berkembang di negara lain perlu disesuaikan dengan konteks tempat layanan tersebut diberikan. Hal ini juga muncul dalam diskusi presentasi kelompok 1.
Menurut saya, ini menjadi pengingat bahwa teori tidak hidup di ruang kosong.
Ketika berhadapan dengan siswa nyata, kita akan menemukan latar belakang keluarga, budaya, kebiasaan, lingkungan, dan pengalaman yang berbeda-beda.
Karena itu, seorang calon konselor tidak cukup hanya hafal teori.
Ia juga perlu memahami manusia yang ada di depannya.
Lalu, Apa yang Sebenarnya Dilakukan Guru BK?
Setelah mengikuti presentasi dan diskusi tersebut, saya merasa pekerjaan guru BK ternyata jauh lebih luas daripada bayangan “memanggil siswa ke ruang BK”.
Guru BK perlu memahami tahap perkembangan siswa, mengidentifikasi kebutuhan mereka, menyusun program, memberikan layanan, melakukan evaluasi, dan menyesuaikan layanan dengan kondisi peserta didik.
Dalam BK perkembangan, layanan bahkan seharusnya diberikan kepada seluruh peserta didik sesuai kebutuhan perkembangan mereka. Program juga perlu dirancang secara sistematis, terukur, tetapi tetap fleksibel.
Jadi, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan:
“Siswa ini punya masalah atau tidak?”
Tetapi:
“Siswa ini sedang berada pada tahap perkembangan apa dan dukungan apa yang ia butuhkan?”
Menurut saya, perubahan pertanyaan tersebut terlihat sederhana, tetapi sebenarnya mengubah cara kita memandang siswa.
Setelah Perkuliahan Ini, Saya Mulai Melihat BK dengan Cara Berbeda
Sebelum mengikuti pembahasan ini, saya mungkin masih mudah menghubungkan BK dengan penyelesaian masalah.
Sekarang saya mulai memahami bahwa BK juga berbicara tentang pencegahan, pengembangan, dan pemberian ruang bagi siswa untuk bertumbuh.
Siswa tidak harus menunggu gagal untuk mendapatkan bantuan.
Tidak harus menunggu bermasalah untuk mendapatkan perhatian.
Tidak harus menunggu kehilangan arah untuk mulai dibimbing.
Sebab, setiap siswa sedang bertumbuh dan setiap proses pertumbuhan memiliki kebutuhan yang berbeda.
Bagi saya sebagai mahasiswa Bimbingan dan Konseling, pembelajaran ini memberikan satu refleksi sederhana: calon konselor bukan hanya belajar bagaimana membantu siswa ketika mereka jatuh, tetapi juga bagaimana menemani mereka bertumbuh sebelum mereka jatuh.
Dan mungkin, di situlah makna sebenarnya dari Bimbingan dan Konseling Perkembangan.
Bukan sekadar memperbaiki apa yang salah, tetapi ikut menciptakan ruang agar setiap siswa memiliki kesempatan untuk menjadi versi terbaik dari dirinya.
