Konten dari Pengguna

Efektivitas Series “CERITA HIJAU MASPATI” Sebagai Media Edukasi Bagi Wisatawan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nadindo Arditya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika membuka Instagram untuk mencari informasi tentang sebuah tempat wisata, hal yang biasanya muncul adalah pemandangan menarik, rekomendasi kuliner, spot foto, atau pengalaman wisatawan. Namun, hal yang sedikit berbeda dapat ditemukan di Kampung Lawas Maspati, Surabaya. Melalui series “Cerita Hijau Maspati”, media sosial justru digunakan untuk bercerita tentang sesuatu yang sederhana, tetapi dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu mengenai pengolahan sampah. Di tengah banyaknya konten wisata yang berlomba menunjukkan daya tarik destinasi, Kampung Lawas Maspati memilih memperkenalkan sisi lain dari kampungnya melalui cerita tentang bagaimana sampah dikelola dan dimanfaatkan.

“Cerita Hijau Maspati” terdiri dari tiga video dengan tema yang saling berkaitan, yaitu “Dari Dapur Jadi Kompos”, “Pilah, Olah, Jadi Berkah”, dan “Sampah Ditabung, Kampung Terdukung”. Ketiga series tersebut tidak sekadar menunjukkan bahwa Kampung Lawas Maspati merupakan kampung yang bersih, tetapi memperlihatkan berbagai aktivitas pengelolaan sampah yang dilakukan di dalam kehidupan masyarakat. Dari sini terlihat bahwa edukasi yang dibangun bukan hanya berupa ajakan untuk tidak membuang sampah sembarangan, melainkan memperkenalkan kepada penonton bahwa sampah dapat dipilah, diolah, bahkan memiliki nilai manfaat bagi masyarakat.

Hal tersebut sejalan dengan apa yang disampaikan Suyatno, Ketua Pokdarwis Kampung Lawas Maspati. Menurutnya “pengelolaan lingkungan di kampung tersebut berawal dari kegiatan lingkungan dan pengalaman mengikuti berbagai lomba kebersihan”. Nilai tersebut kemudian dibawa ke dalam kegiatan pariwisata dengan memberikan edukasi kepada wisatawan sebelum mereka memasuki kampung. Ketika wisatawan berkunjung, sebelum masuk mereka diberi informasi mengenai pencapaian kampung dalam bidang kebersihan dan diarahkan untuk menyimpan sampah terlebih dahulu apabila tidak menemukan tempat sampah. Dengan begitu, wisatawan memahami informasi sehingga tidak membuang sampah ketika tidak ada tempat sampah disekitarnya.

Konteks tersebut membuat “Cerita Hijau Maspati” menjadi menarik untuk dilihat sebagai bagian dari pariwisata digital. Media sosial dalam series ini tidak hanya berfungsi untuk memperlihatkan sebuah destinasi, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenalkan nilai yang ingin dibawa oleh destinasi tersebut. Wisatawan tidak hanya diajak melihat Kampung Lawas Maspati sebagai tempat yang bersih, tetapi juga diperkenalkan pada proses dan kebiasaan yang membuat lingkungan tersebut dapat tetap terjaga.

Cara penyampaian menjadi bagian penting dari pesan tersebut. Ketiga video menggunakan pendekatan yang dekat dengan aktivitas sehari-hari. Sampah tidak dibicarakan sebagai persoalan yang jauh atau rumit, tetapi ditunjukkan melalui kegiatan yang dapat dilakukan dalam kehidupan masyarakat. Pengolahan sampah dari dapur, pemilahan dan pengolahan kembali, hingga penyetoran sampah ke bank sampah membentuk sebuah alur pemahaman bahwa sampah tidak selalu berakhir sebagai sesuatu yang harus dibuang. Pendekatan semacam ini membuat informasi lebih konkret karena penonton dapat melihat contoh penerapannya secara langsung melalui visual video.

Bagi wisatawan, cara tersebut memiliki nilai edukasi karena informasi tidak berhenti pada penjelasan mengenai pentingnya kebersihan. Wisatawan dapat memperoleh gambaran mengenai kebiasaan masyarakat yang mereka temui ketika berkunjung. Hal ini juga sesuai dengan karakter kegiatan wisata di Kampung Lawas Maspati yang memang menempatkan edukasi lingkungan dan budaya sebagai bagian dari atraksi. Suyatno menjelaskan bahwa “pengalaman wisatawan secara langsung menjadi hal penting karena atraksi yang ditawarkan tidak hanya untuk dilihat, tetapi sebisa mungkin memberikan pengalaman yang baik kepada pengunjung”.

Dengan demikian, kemudahan memahami pesan dalam “Cerita Hijau Maspati” dapat dilihat dari cara series tersebut mengubah informasi yang sederhana menjadi cerita visual yang menarik serta mudah dipahami oleh wisatawan. Penonton tidak harus memahami istilah lingkungan yang rumit untuk menangkap gagasan utamanya. Melalui contoh kegiatan yang diperlihatkan, pesan mengenai memilah, mengolah, dan memanfaatkan sampah menjadi lebih mudah dibayangkan. Bagi calon wisatawan, konten tersebut juga dapat menjadi pengetahuan awal sebelum mereka datang sehingga mereka memiliki gambaran mengenai nilai lingkungan yang dijaga oleh masyarakat Kampung Lawas Maspati.

Pengolahan sampah daur ulang menjadi fasilitas kampung. Sumber : Vincentius Nadindo Ardityapermana - Vivo Y27S

Menariknya, keberadaan series ini juga tidak semata-mata muncul karena kebutuhan promosi atau lomba. Suyatno menjelaskan bahwa “konten edukasi lingkungan tersebut sudah dibuat sebelum lomba berlangsung. Episode pertama dibuat terlebih dahulu, episode kedua kemudian diunggah untuk mengikuti lomba, sedangkan episode ketiga dibuat setelah adanya permintaan dari masyarakat”. Ia juga menyebut bahwa edukasi lingkungan memang menjadi dasar dalam pembuatan konten-konten tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa “Cerita Hijau Maspati” memiliki tujuan yang lebih panjang daripada sekadar membuat konten untuk mendapatkan perhatian di media sosial. Series tersebut menjadi cara untuk membawa kebiasaan dan nilai lingkungan yang telah hidup di masyarakat ke ruang digital. Bahkan, dengan didirikannya bank sampah pada area kampung tidak hanya diposisikan sebagai fasilitas lingkungan, tetapi sebagai fasilitas bagi warga dalam mengolah sampah rumah tangga yang mereka miliki sehingga sampah yang dihasilkan dapat dimanfaatkan dengan baik tanpa harus langsung membuang ke tpu dan dapat menghasilkan keuntungan bagi keindahan kampung.

Fasilitas bank sampah di area kampung. Sumber : Vincentius Nadindo Ardityapermana - Vivo Y27S

Peran Media Sosial dalam Membangun Kepedulian Lingkungan

Pada akhirnya, efektivitas “Cerita Hijau Maspati” sebagai media edukasi bagi wisatawan tidak hanya dapat dilihat dari seberapa menarik videonya atau seberapa banyak orang yang menontonnya. Efektivitasnya justru terlihat dari bagaimana series yang telah dibuat dengan tujuan agar penonton yang melihat dapat memahami pesan yang disampaikan secara sederhana, dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan mudah dibayangkan oleh penonton. Series ini memperlihatkan bahwa pariwisata digital tidak hanya berbicara tentang bagaimana membuat video promosi kegiatan apa saja yang dapat dilakukan di tempat wisata. Tetapi, dapat menjadi wadah untuk memperkenalkan kebiasaan apa yang telah dibangun oleh suatu tempat wisata dan memperkenalkan nilai, kebiasaan, dan cara masyarakat menjaga tempat yang kemudian menjadi bagian dari pengalaman wisatawan.

Wawancara dengan Pak Suyatno selaku Ketua Pokdarwis dan Ketua RW Kampung Lawas Maspati dan masyarakat sekitar

Di Kampung Lawas Maspati, cerita tentang sampah akhirnya menjadi lebih dari sekadar cerita tentang sampah. Melalui “Cerita Hijau Maspati”, kebiasaan masyarakat diterjemahkan ke dalam konten digital agar dapat dikenal lebih luas. Bagi wisatawan, pesan yang disampaikan pada series tersebut dapat menjadi bekal sebelum berkunjung sekaligus menjadi pengingat bahwa menikmati sebuah destinasi bukan hanya atraksi apa yang diberikan, namun juga memahami dan menghargai cara masyarakat menjaga lingkungannya.