Pernah Penasaran Nggak, Kenapa Al-Qur'an Bisa Jadi Pegangan Utama Hidup Kita?

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Program Studi Ilmu Hadis
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nadine Azkia Nurhadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernah nggak sih kamu lagi ngelamun atau menghadapi masalah hidup yang pelik, terus tiba-tiba nemu satu ayat Al-Qur'an yang rasanya 'jleb' banget dan menjawab semua kebingunganmu? Sebagai umat Muslim, dari kecil kita sudah sering mendengar bahwa Al-Qur'an itu petunjuk hidup. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, seberapa kuat sih kedudukan Al-Qur'an ini dalam menuntun langkah kita sehari-hari?
Kalau kita kilas balik sejarahnya, Al-Qur'an diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW lewat Malaikat Jibril secara berangsur-angsur selama kurang lebih 23 tahun. Prosesnya terbagi dalam dua fase unik: fase Mekah (ayat Makkiyah) dan fase Madinah (ayat Madaniyah). Bukan cuma sekadar kitab biasa, Al-Qur'an hadir sebagai sumber ajaran Islam yang pertama dan paling utama, sekaligus jadi mukjizat terbesar sepanjang sejarah untuk membawa kesejahteraan kita di dunia dan akhirat.
Al-Qur'an Sebagai Hujjah dan Bagaimana Para Ulama Mazhab Memandangnya
Pernah mendengar kata hujjah? Secara sederhana, hujjah itu artinya bukti, alasan, atau argumentasi yang sangat kuat (sering juga disebut burhan). Dalam ilmu usul fikih, kehujjahan Al-Qur'an itu ibarat otoritas mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Meski begitu, cara kita memahami ayat-ayatnya terbagi dua: ada yang sifatnya qath'i (sudah pasti dan tegas) serta zhanni (relatif dan terbuka untuk penafsiran).
Menariknya, para imam mazhab besar punya sudut pandang yang sangat kaya dan komprehensif soal kedudukan Al-Qur'an ini:
1. Imam Abu Hanifah: Beliau sepakat bahwa Al-Qur'an adalah sumber hukum utama. Uniknya, beliau berpandangan bahwa hakikat Al-Qur'an terletak pada maknanya. Karena pemikiran ini, beliau sempat membolehkan bacaan salat menggunakan bahasa selain Arab bagi orang yang belum mampu.
2. Imam Malik: Menurut beliau, Al-Qur'an adalah kalamullah yang lafal dan maknanya murni dari Allah SWT. Al-Qur'an itu bukan makhluk, melainkan bagian dari sifat Allah.
3. Imam Asy-Syafi'i: Beliau menetapkan Al-Qur'an sebagai sumber hukum paling utama dan menegaskan bahwa Al-Qur'an serta As-Sunnah itu terikat sangat erat pada martabat yang sejajar sebagai landasan hukum primer.
4. Imam Ahmad bin Hanbal: Beliau menjadikan Al-Qur'an sebagai tiang syariat abadi. Sama seperti Imam Asy-Syafi'i, beliau menempatkan As-Sunnah berdampingan secara kuat dengan Al-Qur'an di bawah istilah nash.
Prof. Dr. Abdul Wahab Khallaf pernah menyebutkan bahwa kekuatan Al-Qur'an sebagai hujjah terletak pada kepastian isinya yang bebas dari keraguan. Hal ini ditegaskan langsung oleh Allah SWT:
“Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)
Makanya, para ulama usul fikih sepakat banget kalau kita wajib menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman. Keautentikannya terjamin secara mutawatir (diriwayatkan banyak orang), tujuannya jelas, dan kemukjizatannya tidak akan pernah tertandingi.
Dari Mana Sih Asal-usul Kata "Al-Qur'an"?
Secara umum, para ahli mendefinisikan Al-Qur'an sebagai firman Allah SWT berbahasa Arab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril, tertulis dalam mushaf, diriwayatkan secara mutawatir, dan bernilai ibadah bagi siapa saja yang membacanya.
Tapi tahu nggak sih, ternyata para ulama sempat beda pendapat soal asal-usul kata "Al-Qur'an" itu sendiri?
1. Mayoritas Ulama Bahasa: Percaya bahwa kata ini berasal dari akar kata qara'a (قرأ).
a. Al-Lihyani mengartikannya sebagai "bacaan" atau sesuatu yang dibaca.
b. Imam Al-Asy'ari memaknainya sebagai "menghimpun" atau mengumpulkan huruf dan ayat.
c. Al-Farra' menyebut berasal dari kata qarana (قرن) yang artinya "menggabungkan" antarayat.
2. Imam Asy-Syafi'i (didukung Imam As-Suyuthi): Berpendapat agak berbeda. Menurut beliau, kata "Al-Qur'an" itu bukan bentukan (musytaq) dari kata lain, melainkan nama khusus (isim 'alam) yang diberikan langsung oleh Allah SWT, sama halnya seperti nama Taurat atau Injil.
Oiya, ada riwayat menarik dari Ibnu Abbas RA (yang dinukil Imam Al-Qurthubi dan diperkuat Imam Badruddin Az-Zarkasyi). Sebelum diturunkan secara bertahap selama 23 tahun ke bumi, Al-Qur'an ternyata diturunkan sekaligus dari Lauh Mahfuz ke langit dunia (Baitul 'Izzah) pada malam Lailatulqadar. Masya-Allah ya!
Nama dan Sifat Al-Qur'an yang Bikin Hati Adem
Ibnu Juzai Al-Kalbi dalam kitab At-Tashil li 'Ulum At-Tanzil menjelaskan bahwa Al-Qur'an itu punya empat nama utama yang sangat populer:
1. Al-Qur'an: Nama paling utama sebagai lambang wahyu Allah.
2. Al-Kitab: Yang artinya menghimpun berbagai ilmu, kisah, dan berita.
3. Adz-Dzikr: Berarti peringatan dari Allah sekaligus sumber kemuliaan bagi orang-orang beriman (QS. Az-Zukhruf: 44).
4. Al-Furqan: Sang pembeda antara mana yang benar dan mana yang batil.
Bukan cuma nama, Al-Qur'an juga punya sifat-sifat indah yang dikelompokkan jadi tiga:
1. Sifat Esensial (Al-Aushaf Al-Musyirah ila Haqiqatil Qur'an): Menunjukkan hakikatnya, contohnya At-Tanzil atau yang diturunkan (QS. Asy-Syu'ara: 192).
2. Sifat Diri (Al-Aushaf Adz-Dzatiyah): Menerangkan keadaannya, contohnya Al-Karim atau yang mulia (QS. Al-Waqi'ah: 77).
3. Sifat Pengaruh (Al-Aushaf At-Ta'tsiriyah): Menerangkan dampaknya ke hati kita, contohnya Ar-Ruh—sesuatu yang mampu menghidupkan dan menyegarkan kembali hati manusia yang redup (QS. Asy-Syura: 52).
Pada akhirnya, memahami Al-Qur'an bukan cuma soal menghafal teori atau sejarahnya saja. Lebih dari itu, Al-Qur'an adalah 'teman ngobrol' dan petunjuk nyata yang selalu siap membimbing kita di setiap fase kehidupan. Menurut kamu, ayat mana nih yang paling sering jadi comfort zone kamu pas lagi merasa capek?
