Konten dari Pengguna

Ikatan Jiwa vs. Keterikatan Emosional: Perspektif Neurologis tentang Soulmate

NADINE PRISCILLA ARDELIA

NADINE PRISCILLA ARDELIA

Seorang Mahasiswa Psikologi di Universitas Brawijaya

·waktu baca 1 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari NADINE PRISCILLA ARDELIA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Simbolis "Soulmate" | Sumber: Shutterstock.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Simbolis "Soulmate" | Sumber: Shutterstock.com

Pernahkah kamu merasa sangat terhubung dengan seseorang? Mungkin kamu pernah merasakan ikatan jiwa yang begitu kuat, yang membuat kamu merasa seolah-olah kalian ditakdirkan untuk bersama. Kita biasa menyebut hal ini sebagai "soulmate". Tapi, apakah itu nyata? Apakah itu hanya chemistry, atau sesuatu yang lebih? Apakah itu soul-ties, attachment issues, atau hanya otak kita yang bermain trik dengan kita? Mari kita cari tau lebih dalam sains dibalik semua perasaan ini.

Banyak orang yang percaya akan adanya soul-ties atau ikatan jiwa, sebuah ikatan spiritual yang tak terjelaskan dengan pasangan kita. Mereka yakin bahwa koneksi ini melampaui batas fisik dan emosional, menciptakan ikatan yang mendalam.

The Science Behind Attraction: Love's Chemistry

Cinta bukan hanya perasaan; itu adalah interaksi kompleks antara hormon dan neurotransmitters. Jadi, apa yang terjadi di otak kita ketika kita jatuh cinta? Otak kita melepaskan hormon seperti dopamin, oksitosin, dan serotonin.

  1. Dopamine - The Pleasure Chemical: Dopamin sering disebut sebagai "hormon kebahagiaan", adalah zat kimia yang memberikan sensasi euforia. Ketika kita bersama dengan orang spesial kita, otak kita membanjiri kita dengan dopamin, memberikan sensasi euforia, perasaan "butterflies in your stomach" Yang khas. Fisher, Aron, dan Brown (2005) menekankan peran penting dopamin dalam pemilihan pasangan, berkontribusi pada perasaan senang dan berhubungan dengan perasaan romantis.

  2. Oxytocin - The Bonding Hormone: Sering disebut dengan "hormon cinta", oksitosin terkait dengan ikatan, kepercayaan, dan empati. Hormon ini dihasilkan ketika kita berpelukan, bersentuhan, atau bahkan ketika kita hanya memikirkan orang yang kita sayang. Ini membuat kita merasa dekat dan terikat. Bartels dan Zeki (2000) mengidentifikasi keterlibatan oksitosin dalam membentuk koneksi emosional, dengan bagian otak yang terkait dengan perasaan cinta dan menjadi sangat terikat dalam hubungan.

  3. Serotonin - The Mood Stabilizer: Serotonin membantu mengatur mood kita. Ketika kita jatuh cinta, serotonin kita dapat meningkat. Membuat kita memikirkan pasangan kita tanpa henti. Inilah mengapa mereka selalu berada dalam pikiran kita. Teori Porges' Polyvagal (2003) menekankan peran serotonin dalam mengelola stres dan memupuk koneksi sosial, berkontribusi pada stabilisasi keadaan emosional dalam hubungan.

Hormon-hormon inilah yang membuat kita merasa senang, bersemangat, dan merasa sangat terikat dengan orang spesial tersebut. Mereka merupakan cara kerja otak yang membuat kita merasa hangat dan nyaman.

Attachment Styles and Relationships

Pengalaman masa kecil kita membentuk attachment style kita, yang dimana ini mempengaruhi hubungan kita saat dewasa. Individu yang terikat dengan aman cenderung membentuk hubungan yang sehat dan langgeng, sementara individu yang terikat dengan tidak aman cenderung berjuang dengan kepercayaan, kecemburuan, dan ketakutan akan ditinggalkan.

The Dark Side of Love

Cinta bak api yang menghangatkan, dan sebagaimana api yang panas, cinta juga dapat membakar jika tidak terkendali. Cinta dapat menyebabkan perilaku tidak sehat, seperti:

  1. Obsessive Love Disorder: Obsessive Love Disorder adalah suatu kondisi dimana seseorang memiliki obsesi yang intens terhadap pasangannya. Individu dengan gangguan ini cenderung bersikap posesif, kecemburuan ekstrem, dan kesulitan dalam mengatur emosi. Sebagaimana yang tercatat pada Alodokter (2024), "Obsessive Love Disorder (OLD) ditandai dengan obsesi yang intens dan berfokus pada pasangan, seringkali menyebabkan perilaku posesif dan kecemburuan ekstrem. Gangguan ini terkait dengan kesehatan kondisi kesehatan mental yang mendasarinya seperti Borderline Personality Disorder dan Obsessive-Compulsive Disorder. "

  2. Codependency: International Journal of Mental Health and Addiction (2020) menjelaskan "Codependency didefinisikan sebagai pola perilaku maladaptif di mana individu terlalu bergantung pada orang lain untuk dukungan emosional atau psikologis, seringkali merugikan kebutuhan mereka sendiri. " Individu dengan codependency cenderung mengorbankan kebutuhan mereka sendiri untuk menyenangkan orang lain dan mungkin kesulitan untuk menetapkan batasan. Contoh kasus nyata yang sudah banyak terjadi. Banyak orang yang terperangkap dalam hubungan yang tidak sehat, meskipun mereka sadar bahwa hubungan tersebut sebenarnya tidak baik untuk mereka. Mereka mungkin merasa sulit untuk mengakhiri hubungan tersebut karena takut kehilangan orang yang mereka cintai atau karena merasa mereka tidak bisa hidup tanpa orang tersebut. Ini bisa menjadi tanda dari adanya "Attachment Issues", dimana seseorang begitu bergantung kepada pasangannya sehingga sulit melepaskan diri.

Jadi, ketika cinta bisa menjadi sesuatu yang indah nan kuat, tetap penting untuk bersikap realistis terhadap suatu ekspektasi. "Soulmate" Mungkin tidak ada dalam nalar biasa, tetapi hubungan yang kuat dan saling melengkapi pasti mungkin. Ini semua mengenai menemukan seseorang yang membuat kamu senang, mendukung kamu, dan menantang dirimu untuk menjadi versi terbaikmu.

Ingat, cinta adalah perjalanan, bukan tujuan akhir.

DAFTAR PUSTAKA

- Alodokter. (2024). Obsessive Love Disorder - Gejala, Penyebab, dan Pengobatan. [Artikel online]. Diakses dari $ https://www.alodokter.com/obsessive-love-disorder$

- International Journal of Mental Health and Addiction. (2020). The Lived Experience of Codependency: an Interpretative Phenomenological Analysis. International Journal of Mental Health and Addiction, 19(3), 545-560. $ https://doi.org/10.1007/s11469-018-9983-8$

- PositivePsychology.com. (2024, October 24). Codependency: Definition, Signs & Worksheets. Retrieved from $ https://positivepsychology.com/codependency-definition-signs-worksheets/$

- Fisher, H., Aron, A., & Brown, L. L. (2005). Romantic love: An fMRI study of a neural mechanism for mate choice. The Journal of Comparative Neurology, 493(1), 58-62.

- Bartels, A., & Zeki, S. (2000). The neural basis of romantic love. Neuroreport, 11(17), 3829-3834.

- Porges, S. W. (2003). The polyvagal theory: Phylogenetic substrates of a social nervous system. International Journal of Psychophysiology, 42(2), 123-146.