Konten dari Pengguna

Ancaman pada Piring Makan Ketika Perairan Telah Tercemar Merkuri

Nadine Tabina Zahran

Nadine Tabina Zahran

Mahasiswi

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nadine Tabina Zahran tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Yogendra Singh/ Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Yogendra Singh/ Pexels.com

Kontaminasi merkuri (Hg) di perairan, telah menjadi isu penting dan salah satu kontaminan yang paling mengkhawatirkan yang berdampak pada ekosistem dan kesehatan manusia. Logam berat toksik ini semakin meningkat konsentrasinya di perairan Indonesia. Adanya merkuri di laut dan pesisir merupakan ancaman senyap yang di piring kita yang akan membahayakan konsumen ikan dan produk laut lainnya.

Sumber dan Mekanisme Pencemaran Merkuri di Perairan

Aktivitas antropogenik menjadi pemicu utama peningkatan kadar merkuri di perairan. Industri, pertambangan, dan eksploitasi tambang emas merupakan sumber utama pencemaran merkuri di Indonesia. Merkuri yang digunakan dalam pengolahan emas seringkali dibuang sembarangan dalam bentuk limbah berbahaya ke sungai dan laut, kemudian dibawa oleh arus sampai ke hilir. Studi menunjukkan bahwa tempat pertambangan emas berperan serta pada konsentrasi merkuri yang tinggi di sungai dan air laut di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Banten, Sulawesi Utara, Muara Sungai Banyuasin, dan Teluk Palu, Halmahera Barat.

Di lingkungan perairan, merkuri anorganik dapat diubah oleh mikroorganisme menjadi metil merkuri (CH3-Hg), ini merupakan bentuk merkuri organik yang sangat beracun. Metil merkuri ini kemudian memasuki rantai makanan, dimulai dari fitoplankton yang menyerapnya, lalu dimakan oleh zooplankton, ikan-ikan kecil, hingga akhirnya ikan yang lebih besar dan terakhir oleh manusia. Proses ini disebut bioakumulasi dan biomagnifikasi, di mana konsentrasi merkuri akan meningkat seiring dengan meningkatnya trofik dalam rantai makanan (Hananingtyas, 2017). Semakin ikan tersebut besar dan tua, semakin tinggi pula akumulasi metil merkuri dalam tubuhnya.

Beberapa perairan di Indonesia telah terkontaminasi konsentrasi merkuri yang melebihi batas standar nasional maupun internasional. Contohnya, di Teluk Ambon, air, sedimen, dan biota ikan tercemar merkuri. Konsentrasi merkuri di perairan Pulau Buru juga telah terbukti mencemari ikan. Teluk Palu juga mengalami pencemaran merkuri pada air dan sedimen, dengan konsentrasi yang melebihi standar (Paduan, dkk., 2015). Bahkan, di beberapa wilayah seperti di Perairan Marlosso dan Nametek (Maluku) dan di pesisir Pantai Losari (Makassar), lamun Enhalus acoroides telah terkontaminasi merkuri yang ditemukan pada urin Masyarakat sekitar. Penelitian di Sungai Kuantan, Riau, juga menunjukkan meningkatnya konsentrasi merkuri yang signifikan dari hulu ke hilir sungai, melebihi baku mutu air sungai dan bahkan ditemukan di air sumur warga yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari (Hasibuan, 2020).

Kadar merkuri pada ikan juga bervariasi tergantung pada jenis ikan, lokasi, dan ukurannya. Di Laut Sulawesi, ikan kakap dan kerapu ditemukan memiliki konsentrasi merkuri yang jauh di atas ambang batas normal 0,5 mg/kg, dengan rata-rata mencapai 1,1882 mg/kg (Mahmud, dkk., 2017). Ikan kakap putih (Snappers/ Chrysaphrys aurata) menunjukkan konsentrasi tertinggi hingga 2,2977 mg/kg. Hal ini disebabkan limbah penambangan emas tradisional di Buladu yang dibuang ke sungai dan bermuara ke Laut Sulawesi. Selain itu, ikan demersal seperti ikan petek (Leiognathus equulus) di Ancol, Teluk Jakarta, meskipun menunjukkan kadar merkuri yang relatif rendah di air, organnya seperti insang dan hati masih menunjukkan adanya kontaminasi dan nekrosis, yang mengindikasikan bahwa ikan ini dapat mengakumulasi logam berat secara efektif meskipun berada pada tingkat trofik yang rendah (Riani, 2010). Penelitian lain juga menunjukkan bahwa ikan yang lebih besar dan berumur panjang cenderung memiliki konsentrasi merkuri yang lebih tinggi. Bahkan, ada penelitian yang menemukan bahwa di Pantai Utara Jawa, kandungan merkuri pada ikan tongkol mencapai rata-rata 0,141 mg/kg, meskipun masih di bawah batas maksimum SNI 0,5 mg/kg.

Dampak Cemaran Merkuri pada Lingkungan dan Kesehatan Manusia

Dampak merkuri sangat luas dan merugikan lingkungan. Merkuri mencemari air, udara, dan tanah, mengancam ekosistem serta mengurangi keanekaragaman hayati. Dalam air, merkuri yang berubah menjadi metil merkuri sangat beracun untuk organisme akuatik dan dapat menyebabkan kematian massal ikan serta hewan air lainnya. Tanah yang tercemar merkuri menjadi tidak subur, menghambat pertumbuhan vegetasi air dan bahkan menyebabkan kematian (Sugiana, dkk., 2022).

Bagi kesehatan manusia, paparan merkuri, terutama melalui konsumsi ikan laut yang terkontaminasi, sangat berbahaya. Merkuri dapat merusak ginjal, sistem saraf,, dan sistem reproduksi (Darmono, 1995). Pada ibu hamil, juga dapat mengganggu perkembangan otak janin, memengaruhi kemampuan belajar dan perilaku anak (Palar, 2004). Paparan jangka panjang juga dapat memicu penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes, dan penyakit autoimun. Bahkan pada anak-anak, paparan merkuri dapat menyebabkan kerusakan sistem saraf yang mengakibatkan pada gangguan kognitif serta perilakunya. Pekerja tambang emas dan pengolahan mineral juga berisiko tinggi terhadap paparan merkuri yang berdampak negatif pada kesehatan. Contoh kasus seperti Minamata Disease di Jepang menunjukkan dampak parah dari kontaminasi merkuri, termasuk cacat bawaan dan masalah kesehatan lainnya.

Upaya Pencegahan dan Mitigasi

Mengingat bahaya yang ditimbulkan, diperlukan strategi untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan pencemaran dari merkuri tersebut. Salah satu usaha yang dapat diterapkan adalah pengendalian sumber pencemar, seperti regulasi ketat terhadap limbah industri dan pertambangan, dan juga pemantauan kualitas air dan sedimen di sekitar lokasi industri. Penggunaan teknologi ramah lingkungan dalam proses produksi juga esensial, seperti pilot project pelindian sianidasi yang dikembangkan oleh BRIN. Pengolahan limbah sebelum dibuang ke badan air juga sangat penting (Mahmud, dkk., 2017).

Edukasi dan sosialisasi untuk masyarakat akan bahayanya penggunaan merkuri dalam pengolahan emas skala kecil, serta promosi alternatif yang lebih aman dan ramah lingkungan, juga sangat penting. Pengelolaan limbah medis yang tepat dan penggunaan alternatif non-merkuri (seperti termometer digital) juga perlu digalakkan.

Meskipun konsumsi ikan sangat dianjurkan karena kandungan nutrisinya seperti Omega-3 yang penting untuk pertumbuhan dan kesehatan manusia, masyarakat perlu diajarkan cara mengonsumsi ikan dengan sehat untuk menghindari kontaminasi merkuri. Beberapa tips meliputi menghindari bagian kepala dan isi perut ikan karena di sanalah merkuri cenderung terakumulasi, menggunakan perasan jeruk nipis untuk mengurangi kandungan merkuri pada daging ikan, serta memilih ikan berukuran kecil yang memiliki rantai makanan pendek (pemakan plankton) karena kandungan merkurinya lebih rendah dibandingkan ikan besar. Tidak ada metode memasak atau mencuci ikan yang dapat secara baik mampu mengurangi kadar merkuri yang sudah terikat pada protein di seluruh jaringan ikan.

Meskipun rata-rata konsumsi ikan tongkol di Pantai Utara Jawa yaitu 0,141 mg/kg, namun ini masih di bawah batas aman SNI, dan perhitungan asupan harian (DI) serta asupan mingguan (WI) masih tergolong aman berdasarkan batas toleransi mingguan sementara (PTWI) WHO, konsumsi berlebih tetap berpotensi menimbulkan efek negative (Hananingtyas, 2017). Oleh karena itu, kesadaran masyarakat akan bahaya kontaminasi merkuri dan cara mengonsumsi ikan yang sehat penting untuk menjaga kesehatan dan sumber daya laut di Indonesia.

Link Foto: https://www.pexels.com/photo/garbage-on-body-of-water-2480807/