Kenapa Rupiah Kembali Tembus Rp18.000, Seberapa Besar Dampaknya?

Mahasiswa Pendidikan Ekonomi, Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nadine Rachma Auliani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Rupiah kembali tertekan pada awal Oktober. Nilai tukar di pasar spot ditutup pada Rp17.966 per dolar AS pada 1 Oktober, melemah 0,40 persen dari perdagangan sebelumnya. Sehari setelahnya, rupiah sempat menyentuh Rp18.031 per dolar AS.
Level Rp18.000 bukan pertama kali ditembus rupiah dalam beberapa hari terakhir. Pada 29 September, rupiah juga sempat melemah ke sekitar level tersebut. Tekanan kembali muncul ketika perdagangan memasuki bulan baru.
Pergerakan rupiah tidak lepas dari penguatan dolar AS. Indeks dolar berada di sekitar 101,4 pada awal Oktober. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga berada di level tinggi, sekitar 5,2 persen.
Pergerakan yield Treasury menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor ketika menentukan penempatan dana di pasar global.
Harga minyak dunia ikut bergerak naik. Kenaikan harga energi dapat menambah tekanan inflasi di berbagai negara dan memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan bank sentral. Perubahan ekspektasi tersebut kemudian ikut memengaruhi arus dana di pasar keuangan.
Bank Indonesia sebelumnya sudah menyebut beberapa faktor yang menekan rupiah. Kebutuhan dolar dari importir meningkat menjelang akhir kuartal III.
Arus dana asing juga keluar dari sejumlah aset negara berkembang ketika imbal hasil aset dolar AS meningkat. Risiko fiskal dan perkembangan harga minyak turut masuk dalam perhatian BI.
Tekanan terhadap rupiah muncul bersamaan dengan rilis inflasi September. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan sebesar 3,28 persen, naik dari 3,19 persen pada Agustus.
Inflasi bulanan mencapai 0,30 persen, sedangkan inflasi Januari-September berada di 2,17 persen.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar. Inflasi kelompok ini mencapai 4,37 persen dengan andil 1,28 persen terhadap inflasi tahunan.
Harga cabai rawit, daging ayam ras, beras, minyak goreng, daging sapi, serta rokok ikut mendorong kenaikan harga. Tekanan juga datang dari transportasi. Kelompok ini mengalami inflasi 4,84 persen dengan andil 0,58 persen.
Harga bensin, tarif angkutan udara, pelumas, sepeda motor, dan biaya pemeliharaan kendaraan termasuk komoditas yang mengalami kenaikan.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mencatat inflasi 7,77 persen dengan andil 0,53 persen. Kenaikan harga emas perhiasan menjadi salah satu penyebabnya.
Inflasi 3,28 persen masih berada dalam sasaran Bank Indonesia. Target inflasi 2026 ditetapkan sebesar 2,5 persen dengan deviasi 1 persen. Batas atas sasaran tersebut berada di 3,5 persen.
Rupiah yang melemah dapat menambah biaya bagi perusahaan yang menggunakan bahan baku, barang modal, atau produk impor.
Pembelian dalam dolar akan membutuhkan rupiah lebih banyak ketika nilai tukar melemah.
Besarnya dampak terhadap harga jual bergantung pada jenis barang, struktur biaya, dan keputusan masing-masing perusahaan.
Tekanan nilai tukar juga tidak hanya datang dari kebutuhan impor. Pergerakan dana asing ikut memengaruhi permintaan dan penawaran dolar di pasar domestik. Ketika investor mengurangi kepemilikan aset di negara berkembang, permintaan terhadap dolar dapat meningkat.
Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate pada 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur 22-23 September. Deposit Facility tetap 4,75 persen dan Lending Facility 6,50 persen.
BI menyatakan kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah, mempertahankan inflasi dalam sasaran, dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
BI juga melakukan stabilisasi melalui pasar valuta asing. Intervensi dilakukan melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), disertai instrumen lain di pasar keuangan.
Selain itu, BI juga turut memperluas jenis surat berharga korporasi berkualitas tinggi yang dapat menjadi underlying operasi moneter. Obligasi dan sukuk korporasi tertentu kini dapat digunakan dalam transaksi operasi moneter.
Sebelumnya, BI telah menggunakan surat berharga yang diterbitkan PT Sarana Multigriya Finansial dan PT Sarana Multi Infrastruktur sebagai underlying operasi moneter.
Sampai 30 September 2026, transaksi repo operasi moneter dengan surat berharga PT Sarana Multigriya Finansial mencapai Rp1,25 triliun.
Pada September, BI juga melakukan lelang repo perdana dengan surat berharga PT Sarana Multi Infrastruktur sebesar Rp60 miliar.
Perluasan instrumen tersebut memberi ruang bagi perbankan untuk menggunakan lebih banyak surat berharga dalam transaksi operasi moneter. BI juga menargetkan peningkatan aktivitas transaksi surat berharga korporasi di pasar sekunder.
Pergerakan rupiah pada awal Oktober akhirnya tidak hanya dipengaruhi satu faktor. Penguatan dolar AS, yield Treasury yang tinggi, harga minyak, kebutuhan dolar importir, serta pergerakan dana asing ikut menekan nilai tukar.
Dari dalam negeri, perkembangan inflasi juga menjadi bagian dari perhitungan pasar.
Rupiah masih berada di sekitar Rp18.000 ketika Oktober baru berjalan dua hari. Inflasi September berada di 3,28 persen dan BI-Rate tetap 5,75 persen.
Perkembangan nilai tukar, inflasi, harga energi, serta kebijakan bank sentral AS akan menjadi faktor yang terus diperhatikan pasar pada kuartal IV 2026.
