Konten dari Pengguna

Apa Itu Tan Skin? Ini Pengertian dan Karakteristiknya

N

Nadira Lestari Amirah

Pecinta seni dan literatur

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nadira Lestari Amirah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kulit Coklat, Foto:Unsplash/Leandro Crespi
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kulit Coklat, Foto:Unsplash/Leandro Crespi

Apa itu tan skin Pertanyaan ini mungkin sering muncul di benak banyak orang ketika mendengar istilah tersebut, terutama karena kata tan cukup populer dalam dunia kecantikan dan gaya hidup modern.

Di tengah tren perawatan tubuh dan penampilan yang semakin beragam, istilah ini menjadi semakin sering disebut, baik dalam konteks fashion, kecantikan, hingga gaya sehari-hari.

Banyak orang penasaran dengan makna sebenarnya, bagaimana istilah ini berkembang, serta apa yang membuatnya begitu menarik untuk dibicarakan.

Apa Itu Tan Skin?

Ilustrasi Kulit Coklat, Foto:Unsplash/Wilhelm Gunkel

Apa itu tan skin? Tan skin adalah kondisi ketika kulit mengalami penggelapan warna akibat paparan sinar ultraviolet (UV).

Dikutip dari laman health.utahcounty.gov, mengungkapkan bahwa saat radiasi UV mengenai kulit, tubuh segera bereaksi seolah sedang terluka dan berusaha melindungi diri.

Oleh karena itu, sel kulit tertentu melakukan perubahan kimiawi yang memicu peningkatan warna cokelat. Proses ini merupakan cara alami kulit untuk mengurangi dampak sinar berbahaya sekaligus mencegah kerusakan lebih lanjut.

Warna yang lebih pekat terbentuk karena penggelapan pigmen yang sudah ada, serta peningkatan terbatas dalam pembentukan pigmen baru.

Sel yang bertugas menghasilkan pigmen tersebut disebut melanocytes, sementara pigmennya dinamakan melanin.

Sel ini terletak di lapisan luar kulit (dermis) dan bertanggung jawab memberikan warna alami. Jumlah melanocytes pada setiap orang tidaklah sama.

Kulit terang memiliki sel lebih sedikit, sedangkan kulit gelap memiliki lebih banyak. Namun, jumlah sel ini tidak bisa bertambah.

Akan tetapi, produksi melanin dapat meningkat dari sel yang sudah ada, meskipun peningkatannya tetap terbatas saat terkena paparan UV.

Meskipun melanin dapat bertambah, prosesnya memiliki batas. Dalam setiap paparan, hanya sejumlah pigmen yang mampu diproduksi, kemudian berhenti.

Dengan demikian, semakin lama terpapar sinar UV tidak otomatis menghasilkan lebih banyak pigmen. Sebaliknya, paparan berlebihan justru memicu eritema atau sunburn, bahkan merusak jaringan kulit.

Oleh sebab itu, kulit membutuhkan waktu istirahat agar melanocytes bisa kembali memproduksi pigmen sebelum dirangsang lagi.

Prinsip tersebut berlaku baik saat berada di bawah sinar matahari alami maupun saat menggunakan tanning bed di dalam ruangan.

Selain itu, cara memperoleh hasil tan skin yang aman dan optimal adalah dengan menyesuaikan lama paparan berdasarkan jenis kulit. Setiap sesi sebaiknya hanya cukup untuk mengaktifkan melanocytes, lalu beri waktu bagi sel menyelesaikan produksinya.

Sesudah itu, perlu jeda minimal 24 jam sebelum sesi berikutnya, meskipun 48 jam lebih dianjurkan.

Dengan pendekatan bertahap, waktu paparan dapat ditingkatkan sedikit demi sedikit hingga mencapai batas maksimal, yakni 20 menit.

Sehingga, hasil warna kulit menjadi lebih merata dan risiko kerusakan kulit dapat diminimalkan. Pada akhirnya, tan skin bukan hanya sekadar hasil dari paparan sinar, melainkan juga wujud keseimbangan antara penampilan yang menarik dan kesehatan kulit yang tetap terjaga. (DANI)

Baca juga: Ciri-Ciri Eksfoliasi Tidak Cocok yang Wajib Diketahui agar Kulit Tetap Sehat