Konten dari Pengguna

Perempuan dalam Cengkeraman Patriarki

Nadita Putri Alya

Nadita Putri Alya

Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Jember

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nadita Putri Alya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perempuan dengan sanggul tradisional dan busana berwarna merah dalam sebuah aktivitas sehari-hari. Foto ini menggambarkan salah satu bentuk representasi perempuan dalam kehidupan sosial dan budaya.Sumber: Dokumentasi pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Perempuan dengan sanggul tradisional dan busana berwarna merah dalam sebuah aktivitas sehari-hari. Foto ini menggambarkan salah satu bentuk representasi perempuan dalam kehidupan sosial dan budaya.Sumber: Dokumentasi pribadi.

Perempuan sejak dulu sering hidup dalam aturan yang bahkan tidak mereka buat sendiri. Bagaimana perempuan harus bersikap, berpakaian, berbicara, memilih pasangan, sampai menentukan apakah ingin bekerja atau mengurus rumah, semuanya seolah memiliki standar yang sudah ditentukan oleh masyarakat.

Ketika perempuan mengikuti aturan tersebut, ia dianggap “sebagaimana mestinya”. Namun ketika memilih jalan yang berbeda, berbagai penilaian dapat muncul. Perempuan yang terlalu mandiri dianggap melupakan keluarga. Perempuan yang tegas disebut terlalu keras. Perempuan yang memilih karier sering ditanya kapan menikah. Bahkan setelah menikah, pertanyaan tentang kapan memiliki anak pun tidak jarang datang.

Di balik berbagai anggapan tersebut terdapat persoalan yang lebih besar, yaitu budaya patriarki.

Patriarki yang Dianggap Biasa

Patriarki bukan hanya tentang laki-laki yang mendominasi perempuan. Ia juga dapat hadir melalui kebiasaan dan nilai yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Contohnya dapat ditemukan dalam pembagian pekerjaan rumah tangga. Memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan merawat anak masih sering dianggap sebagai pekerjaan perempuan. Sementara ketika laki-laki melakukan pekerjaan yang sama, ia justru sering disebut sedang “membantu” istrinya.

Padahal, rumah adalah ruang bersama dan pekerjaan di dalamnya juga merupakan tanggung jawab bersama.

Hal-hal seperti ini terlihat sederhana. Namun, ketika terus dilakukan dan dianggap normal, pembagian peran tersebut dapat membentuk cara masyarakat memandang perempuan dan laki-laki.

Sarinah dan Persoalan Perempuan

Buku Sarinah: Kewajiban Wanita dalam Perjuangan Republik Indonesia karya Ir. Soekarno yang membahas persoalan perempuan, kesetaraan, dan keterlibatan perempuan dalam perjuangan.Sumber: Dokumentasi pribadi.

Persoalan perempuan sebenarnya bukan pembahasan baru dalam sejarah Indonesia. Salah satu tokoh yang pernah membicarakannya adalah Soekarno melalui bukunya "Sarinah: Kewajiban Wanita dalam Perjuangan Republik Indonesia."

Buku tersebut diterbitkan pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Soekarno membicarakan persoalan perempuan dalam hubungannya dengan masyarakat dan perjuangan pembebasan manusia.

Dalam "Sarinah," perempuan tidak ditempatkan hanya sebagai pelengkap kehidupan laki-laki. Persoalan perempuan justru dikaitkan dengan persoalan masyarakat yang lebih luas. Bagi Soekarno, perubahan kehidupan perempuan tidak dapat dipisahkan dari perubahan masyarakat secara keseluruhan.

Pemikiran tersebut menarik jika dibaca kembali sekarang. Sebab, meskipun perempuan telah memperoleh kesempatan yang jauh lebih besar dalam pendidikan, pekerjaan, dan ruang publik, berbagai bentuk ketimpangan masih dapat ditemukan.

Perempuan dan Pilihan Hidupnya

Hari ini perempuan memiliki lebih banyak pilihan dibandingkan masa lalu. Perempuan dapat berpendidikan tinggi, bekerja, menjadi pemimpin, aktif dalam organisasi, atau memilih menjadi ibu rumah tangga.

Namun, kebebasan memilih ternyata tidak selalu berarti bebas dari penilaian.

Perempuan yang bekerja dapat dianggap terlalu sibuk dan kurang memperhatikan keluarga. Perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga dapat dianggap tidak produktif. Perempuan yang belum menikah dapat terus ditanya mengenai pasangan. Sementara perempuan yang menikah tetapi belum memiliki anak juga tidak jarang mendapatkan pertanyaan yang sama personalnya.

Pada akhirnya, perempuan seperti selalu berada dalam posisi harus menjelaskan pilihannya kepada orang lain.

Padahal, pilihan hidup perempuan seharusnya tidak selalu membutuhkan persetujuan dari masyarakat.

Apakah Patriarki Hanya Masalah Laki-Laki?

Membicarakan patriarki bukan berarti menyalahkan semua laki-laki. Persoalannya lebih luas daripada hubungan antara laki-laki dan perempuan secara individu.

Patriarki merupakan pola sosial yang dapat dipertahankan oleh siapa saja ketika nilai-nilai yang tidak setara terus dianggap sebagai sesuatu yang wajar.

Karena itu, pembicaraan tentang kesetaraan juga bukan hanya tanggung jawab perempuan. Laki-laki memiliki posisi penting untuk ikut membangun hubungan yang lebih setara, baik di dalam keluarga, lingkungan pendidikan, tempat kerja, maupun masyarakat.

Perubahan juga dapat dimulai dari hal-hal sederhana: membagi pekerjaan rumah secara adil, menghargai keputusan perempuan, tidak menjadikan pernikahan sebagai ukuran keberhasilan perempuan, serta tidak menilai perempuan berdasarkan penampilan dan peran domestiknya saja.

Membaca Kembali Sarinah

Membaca "Sarinah" hari ini tidak harus berarti menerima seluruh gagasan yang ada di dalamnya tanpa kritik. Buku tersebut lahir dalam konteks sejarah Indonesia yang berbeda dengan keadaan sekarang.

Namun, gagasan tentang pembebasan perempuan di dalamnya tetap dapat menjadi bahan untuk bertanya: sudah sejauh mana perempuan benar-benar memiliki kebebasan dalam menentukan hidupnya?

Kemajuan perempuan tidak hanya dapat diukur dari banyaknya perempuan yang bersekolah atau bekerja. Kita juga perlu melihat apakah perempuan memiliki ruang untuk menentukan pilihan tanpa terus dibatasi oleh anggapan tentang bagaimana “seharusnya” seorang perempuan.

Sebab, terkadang belenggu yang paling sulit dilepaskan bukanlah aturan yang tertulis, melainkan aturan tidak tertulis yang sudah terlalu lama dianggap sebagai sesuatu yang normal.

Perempuan tidak seharusnya hidup hanya untuk memenuhi standar yang dibuat masyarakat. Sebagaimana manusia lainnya, perempuan memiliki hak untuk tumbuh, memilih, bekerja, mencintai, berpendapat, dan menentukan jalan hidupnya sendiri.

Mungkin inilah salah satu alasan mengapa "Sarinah" masih menarik untuk dibaca hari ini. Bukan hanya untuk mengetahui bagaimana Soekarno melihat perempuan pada masa lalu, tetapi juga untuk mengajak kita bertanya tentang posisi perempuan dalam masyarakat kita sekarang.