Sasi Lompa di Negeri Haruku Mengajarkan Manusia Menjaga Laut

Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Jember
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Nadita Putri Alya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah meningkatnya persoalan kerusakan lingkungan dan eksploitasi sumber daya alam, masyarakat Negeri Haruku di Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, memiliki tradisi yang mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan alam. Tradisi tersebut dikenal sebagai Sasi Lompa, sebuah sistem adat yang mengatur pemanfaatan ikan lompa agar keberadaannya tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara berkelanjutan.
Sasi Lompa bukan sekadar tradisi menangkap ikan yang dilakukan secara bersama-sama. Di dalamnya terdapat aturan adat, peran lembaga masyarakat, pengetahuan mengenai lingkungan, serta nilai kebersamaan yang diwariskan antargenerasi. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat lokal membangun mekanisme untuk mengatur pemanfaatan sumber daya alam berdasarkan pengetahuan dan kesepakatan bersama.
Penelitian Gazali dan Ruban (2021) menjelaskan bahwa sasi merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang masih digunakan masyarakat Negeri Haruku sebagai pedoman pengelolaan sumber daya pesisir dan laut. Sistem tersebut memiliki fungsi pengawasan dan penegakan aturan untuk mendukung keberlanjutan sumber daya alam sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat
Mengenal Sasi Lompa, Tradisi yang Berakar pada Kehidupan Masyarakat Haruku
Sasi merupakan aturan adat yang membatasi pengambilan atau pemanfaatan sumber daya alam pada wilayah dan waktu tertentu. Pembatasan tersebut bertujuan agar sumber daya yang dilindungi tidak dieksploitasi secara bebas dan memiliki kesempatan untuk berkembang sebelum dimanfaatkan kembali.
Di Negeri Haruku, salah satu sumber daya yang dilindungi melalui sistem ini adalah ikan lompa (Thryssa baelama). Keberadaan ikan lompa memiliki arti penting bagi kehidupan masyarakat, baik sebagai sumber pangan maupun sebagai sumber pendapatan.
Keunikan Sasi Lompa terletak pada hubungannya dengan lingkungan perairan Haruku. Ikan lompa dapat ditemukan di wilayah laut dan sungai. Oleh karena itu, pengelolaannya tidak dapat dilepaskan dari hubungan antara kedua ekosistem tersebut.
Penelitian Anisa dan Surtikanti (2024) menunjukkan bahwa penerapan Sasi Lompa berkaitan dengan kesadaran masyarakat adat untuk menjaga kelestarian lingkungan, mempertahankan ketersediaan ikan, dan mendukung pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat setempat.
Dalam hal ini, Sasi Lompa dapat dipahami sebagai bentuk pengetahuan ekologis masyarakat lokal. Masyarakat tidak hanya memanfaatkan ikan sebagai sumber penghidupan, tetapi juga mengembangkan aturan mengenai kapan sumber daya tersebut boleh diambil dan kapan harus dibiarkan berkembang.
Kewang dan Peran Aturan Adat dalam Menjaga Kelestarian Ikan Lompa
Salah satu unsur penting dalam pelaksanaan Sasi Lompa adalah keberadaan kewang, yaitu lembaga adat yang memiliki tugas menjaga dan mengawasi pelaksanaan aturan sasi serta melindungi sumber daya alam di wilayah adat.
Peran kewang menunjukkan bahwa keberhasilan tradisi ini tidak hanya bergantung pada kesadaran individu, tetapi juga pada keberadaan lembaga yang bertanggung jawab mengawasi kepatuhan masyarakat terhadap aturan yang telah disepakati.
Penelitian Lopulalan dan Abrahamsz (2023) mengenai kelembagaan Sasi Lompa di Negeri Haruku menegaskan pentingnya peran lembaga adat dalam pengelolaan perikanan. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa sinergi antara kebijakan dan kelembagaan merupakan aspek penting dalam memperkuat pengelolaan Sasi Lompa.
Keberadaan kewang memperlihatkan bahwa aturan adat tidak berhenti pada larangan atau imbauan. Aturan tersebut dijalankan melalui mekanisme pengawasan dan keterlibatan lembaga yang diakui masyarakat.
Dalam praktiknya, Sasi Lompa juga memiliki tahapan adat yang berkaitan dengan penutupan dan pembukaan sasi. Sebelum masa panen ditetapkan, terdapat rangkaian ritual yang dilakukan oleh kewang dan lembaga adat lainnya.
Kajian yang diterbitkan dalam Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama pada 2024 menjelaskan bahwa rangkaian menjelang pembukaan Sasi Lompa melibatkan kegiatan panas sasi, penggunaan obor dari daun kelapa kering atau lobe, serta pengamatan terhadap pergerakan ikan. Penentuan waktu pembukaan juga mempertimbangkan pengetahuan masyarakat mengenai kondisi alam.
Buka Sasi: Ketika Masyarakat Memanen Hasil dari Kesabaran
Salah satu momen yang paling menarik dalam tradisi Sasi Lompa adalah buka sasi, yaitu saat larangan pengambilan ikan berakhir dan masyarakat diperbolehkan memanen ikan sesuai dengan ketentuan adat.
Pembukaan sasi bukanlah kegiatan yang berlangsung tanpa aturan. Waktu pelaksanaannya berkaitan dengan rangkaian persiapan adat dan pengamatan terhadap kondisi lingkungan. Ketika waktu yang ditetapkan tiba, masyarakat dapat memanfaatkan ikan lompa untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Ikan hasil panen dapat digunakan sebagai bahan pangan, umpan untuk kegiatan penangkapan ikan lainnya, maupun dijual untuk memperoleh pendapatan. Penelitian Anisa dan Surtikanti (2024) menjelaskan bahwa pemanfaatan ikan lompa memiliki hubungan dengan kebutuhan konsumsi dan kegiatan ekonomi masyarakat Haruku.
Buka sasi juga memiliki arti sosial. Pelaksanaan tradisi ini menempatkan masyarakat dalam suatu pengalaman bersama yang melibatkan aturan, partisipasi, dan identitas budaya. Dengan demikian, manfaat Sasi Lompa tidak hanya dapat dilihat dari jumlah ikan yang diperoleh, tetapi juga dari kemampuannya mempertahankan hubungan sosial dan pengetahuan adat.
Sasi Lompa dan Tantangan Pengelolaan Sumber Daya Alam
Meskipun Sasi Lompa mengandung nilai penting bagi konservasi, tradisi ini tidak seharusnya dipandang sebagai sistem yang otomatis menyelesaikan seluruh persoalan lingkungan.
Penelitian Lopulalan dan Abrahamsz (2023) memberikan catatan penting. Berdasarkan penilaian kelembagaan yang dilakukan dalam penelitian mereka, tingkat kepatuhan terhadap prinsip perikanan yang bertanggung jawab masih tergolong kurang. Sementara itu, kelengkapan aturan pengelolaan perikanan serta keterlibatan pemangku kepentingan dinilai berada pada kategori sedang. Penelitian tersebut merekomendasikan penguatan kapasitas kelembagaan Sasi Lompa
Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa pelestarian tradisi tidak cukup hanya dengan mempertahankan ritualnya. Pengelolaan sumber daya alam juga memerlukan kepatuhan terhadap aturan, pengawasan yang konsisten, serta kemampuan lembaga adat menghadapi perubahan kondisi sosial dan lingkungan.
Belajar dari Haruku: Menjaga Alam Bukan Sekadar Urusan Pemerintah
Sasi Lompa memberikan perspektif bahwa masyarakat lokal memiliki peran penting dalam pengelolaan lingkungan. Pengalaman masyarakat Haruku memperlihatkan bahwa aturan adat, pengetahuan ekologis, dan kelembagaan lokal dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan sumber daya alam.
Pelajaran tersebut relevan dengan persoalan lingkungan masa kini. Berbagai kebijakan konservasi dapat menghadapi kesulitan apabila tidak didukung oleh partisipasi masyarakat yang hidup dan bergantung pada sumber daya yang dikelola.
Sebaliknya, aturan yang berakar pada kehidupan sosial masyarakat berpotensi memiliki legitimasi yang kuat karena dipahami sebagai bagian dari identitas dan tanggung jawab bersama. Namun, potensi tersebut tetap perlu didukung oleh evaluasi, kepatuhan, dan kerja sama dengan pihak lain.
Dalam konteks pendidikan, Sasi Lompa juga dapat dijadikan bahan pembelajaran mengenai hubungan manusia dengan lingkungan. Melalui tradisi ini, generasi muda dapat mempelajari bahwa pemanfaatan alam selalu berkaitan dengan tanggung jawab, batasan, dan keberlanjutan.
Tradisi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pengetahuan masyarakat lokal layak ditempatkan sebagai sumber pembelajaran yang penting. Pengetahuan mengenai kapan ikan dapat dimanfaatkan, bagaimana aturan dijalankan, dan siapa yang bertanggung jawab menjaganya merupakan bagian dari pengalaman sosial yang terbentuk dalam kehidupan masyarakat.
Pada akhirnya, Sasi Lompa di Negeri Haruku mengingatkan kita bahwa alam bukan sekadar sumber daya yang dapat diambil sesuai kebutuhan manusia. Alam juga merupakan bagian dari kehidupan bersama yang harus dijaga agar tetap memberikan manfaat bagi generasi berikutnya.
Sasi Lompa bukan hanya tentang kapan masyarakat boleh menangkap ikan, melainkan juga tentang bagaimana sebuah masyarakat belajar mengendalikan pemanfaatan alam demi kepentingan bersama.
