Konten dari Pengguna

Suka Sama Seseorang, Kenapa Malah Tidak Mau Pacaran

Nadita Putri Alya

Nadita Putri Alya

Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Jember

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nadita Putri Alya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu fenomena yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sebenarnya cukup dekat dengan kehidupan anak muda hari ini: menyukai seseorang, tetapi tidak ingin berpacaran dengannya.

Perasaan suka tetap ada. Rasa nyaman juga ada. Komunikasi tetap berjalan. Namun, ketika hubungan tersebut mulai diarahkan menuju status pacaran, muncul keinginan untuk mundur.

Bukan karena orang yang disukai tidak cukup baik. Bukan pula karena tidak membutuhkan kasih sayang. Ada sesuatu yang terasa lebih berat dari sekadar memiliki pasangan, yaitu bayangan kehilangan kebebasan.

Harus memberi kabar setiap saat, menjelaskan sedang berada di mana, bersama siapa, mengapa terlambat membalas pesan, sampai menghadapi pasangan yang terlalu posesif. Bagi sebagian anak muda, hal-hal tersebut bukan lagi terlihat sebagai bentuk perhatian, melainkan sebagai konsekuensi hubungan yang justru ingin dihindari.

Lalu, apakah Gen Z benar-benar mulai malas pacaran?

Jawabannya tidak sesederhana itu.

Gen Z Tidak Menolak Hubungan, tetapi Mulai Lebih Selektif

Jika melihat data, anggapan bahwa Gen Z sudah tidak tertarik dengan hubungan romantis justru kurang tepat.

Survei YouGov yang dilakukan pada Februari 2025 terhadap 2.011 responden di Indonesia menunjukkan bahwa 33 persen responden pernah menggunakan aplikasi kencan. Gen Z menjadi kelompok pengguna terbesar dengan persentase 38 persen, diikuti generasi milenial sebesar 34 persen.

Data tersebut setidaknya menunjukkan bahwa ketertarikan untuk mengenal orang baru dan membangun hubungan masih ada di kalangan anak muda. Yang mungkin berubah bukan keberadaan keinginan untuk menjalin hubungan, melainkan cara seseorang memandang dan menjalani hubungan tersebut.

Hubungan romantis tidak selalu harus dimulai dari pertemuan secara langsung. Dating app, media sosial, hingga berbagai bentuk hubungan yang tidak langsung menggunakan status pacaran menjadi bagian dari dinamika hubungan anak muda saat ini.

Karena itu, menyebut Gen Z sebagai generasi yang “malas pacaran” mungkin terlalu sederhana. Bisa jadi, sebagian dari mereka justru sedang lebih berhati-hati dalam menentukan bentuk hubungan yang sesuai dengan kehidupan mereka.

Ketika Pacaran Tidak Lagi Selalu Dianggap Menyenangkan

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Pacaran sering dibayangkan sebagai hubungan yang penuh perhatian dan kebersamaan. Namun, bagi sebagian anak muda, hubungan romantis juga dapat berarti bertambahnya tuntutan.

Ada kewajiban untuk memberi kabar. Ada ekspektasi untuk selalu tersedia. Ada tuntutan untuk mengetahui aktivitas pasangan. Bahkan, dalam hubungan yang tidak sehat, dapat muncul keinginan untuk mengatur pertemanan dan kehidupan pribadi pasangan.

Pada titik tertentu, seseorang dapat mulai bertanya: apakah hubungan ini benar-benar membuat hidup lebih baik, atau justru membuat ruang pribadi semakin sempit?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika anak muda memiliki banyak aktivitas lain. Pendidikan, organisasi, pekerjaan, pertemanan, keluarga, pengembangan diri, hingga sekadar waktu untuk diri sendiri juga membutuhkan ruang.

Hubungan romantis akhirnya bukan hanya dipertimbangkan berdasarkan pertanyaan “apakah menyukai orang tersebut?”, tetapi juga “apakah hubungan ini dapat berjalan tanpa menghilangkan kehidupan pribadi?”

Hubungan Sehat Tidak Harus Membatasi

Pandangan mengenai hubungan sehat juga menunjukkan bahwa komunikasi menjadi hal yang penting bagi Gen Z.

Survei Jakpat terhadap 1.155 responden Gen Z pada 6–9 Desember 2024 menunjukkan bahwa 72 persen responden mendefinisikan hubungan sehat sebagai hubungan dengan komunikasi yang jujur dan terbuka. Survei tersebut memiliki margin of error di bawah 5 persen.

Temuan tersebut menarik karena menunjukkan bahwa bagi Gen Z, hubungan yang sehat tidak hanya berkaitan dengan status memiliki pasangan. Cara pasangan berkomunikasi dan membangun kepercayaan juga menjadi bagian penting dari hubungan.

Dengan demikian, keinginan untuk memiliki ruang pribadi tidak seharusnya langsung dianggap sebagai tanda bahwa seseorang tidak serius dalam hubungan.

Hubungan yang sehat memungkinkan dua individu tetap berkembang sebagai dirinya sendiri.

Pasangan tidak harus mengetahui setiap aktivitas yang dilakukan pasangannya. Memiliki hubungan bukan berarti kehilangan pertemanan. Menjalin komitmen juga tidak berarti seseorang harus menyerahkan seluruh kebebasan pribadinya.

Cinta dan kebebasan seharusnya tidak ditempatkan sebagai dua hal yang harus dipilih salah satunya.

Masalahnya Bukan Pacaran, tetapi Bentuk Hubungannya

Mengatakan bahwa Gen Z “malas pacaran” sebenarnya terlalu menyederhanakan persoalan.

Ada anak muda yang memang belum ingin memiliki pasangan. Ada yang sedang fokus pada pendidikan dan karier. Ada yang merasa belum siap menjalani hubungan. Ada pula yang memiliki pengalaman kurang menyenangkan dalam hubungan sebelumnya.

Namun, ada kelompok lain yang sebenarnya menyukai seseorang tetapi tidak ingin masuk ke dalam hubungan yang menurut mereka terlalu mengikat.

Dalam kondisi tersebut, persoalannya bukan rasa suka.

Persoalannya adalah bentuk hubungan yang diharapkan.

Seseorang dapat menginginkan kedekatan tanpa ingin dikontrol. Dapat menyayangi tanpa harus selalu bersama. Dapat berkomitmen tanpa harus kehilangan kehidupan pribadi.

Berbagai istilah seperti situationship atau hubungan tanpa status juga menunjukkan bahwa bentuk hubungan romantis yang dibicarakan anak muda saat ini tidak selalu sama dengan pola pacaran konvensional. Namun, hubungan semacam itu bukan berarti bebas dari persoalan. Tanpa komunikasi dan batasan yang jelas, hubungan tanpa status justru dapat menimbulkan ketidakpastian dan konflik.

Tidak Pacaran Bukan Berarti Tidak Laku

Masih ada anggapan bahwa seseorang yang tidak memiliki pasangan berarti belum laku, terlalu memilih, atau takut jatuh cinta.

Pandangan tersebut perlu dipertanyakan.

Tidak memiliki pasangan bukan kegagalan. Sebaliknya, memiliki pasangan juga bukan ukuran keberhasilan seseorang.

Yang perlu diperhatikan adalah apakah seseorang mampu membuat pilihan yang sesuai dengan kebutuhannya dan tetap menghargai orang lain.

Jika seseorang belum ingin berpacaran, tidak seharusnya ia dipaksa hanya karena lingkungan menganggap pacaran sebagai sesuatu yang normal.

Begitu pula seseorang yang ingin berpacaran tidak seharusnya dianggap kehilangan kebebasannya.

Setiap orang memiliki kebutuhan dan batas yang berbeda.

Mungkin Bukan Malas Pacaran

Mungkin istilah yang lebih tepat bukan “malas pacaran”.

Mungkin sebagian anak muda hanya mulai mempertanyakan kembali apa arti sebuah hubungan.

Apakah memiliki pasangan berarti harus selalu bersama?

Apakah mencintai berarti harus mengetahui seluruh aktivitas pasangan?

Apakah perhatian harus selalu diwujudkan melalui kabar setiap waktu?

Dan apakah hubungan yang serius harus membuat seseorang kehilangan kebebasan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting karena hubungan romantis seharusnya tidak membuat seseorang kehilangan identitasnya.

Pada akhirnya, Gen Z bukan berarti generasi yang tidak ingin mencintai. Data penggunaan dating app justru menunjukkan bahwa ketertarikan terhadap koneksi romantis masih ada.

Namun, sebagian anak muda mungkin semakin mempertimbangkan bagaimana hubungan tersebut dapat berjalan tanpa mengorbankan kehidupan pribadi.

Ada pendidikan yang harus diselesaikan. Ada pekerjaan yang ingin dibangun. Ada keluarga dan teman yang tetap membutuhkan perhatian. Ada mimpi yang ingin dikejar. Dan ada diri sendiri yang juga perlu dijaga.

Karena itu, menyukai seseorang tidak selalu harus berakhir dengan pacaran.

Dan ketika suatu hari memilih untuk berpacaran, hubungan tersebut seharusnya bukan menjadi tempat untuk kehilangan kebebasan, melainkan tempat bagi dua orang yang sama-sama bebas untuk memilih berjalan bersama.

Sumber:

YouGov. (2025). Tinder is the most popular dating app across APAC, but local apps have a considerable presence.

Jakpat. (2024). Gen Z Characteristics and Behaviors.

GoodStats. (2025). Simak Definisi Hubungan Sehat Ala Gen Z.