Konten dari Pengguna

Mengapa Mengajar Justru Membuat Kita Lebih Paham?

Nadiya Islamiyah

Nadiya Islamiyah

Mahasiswi Jurusan Hukum Tata Negara. Kader Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Bangkalan, Komisariat Cakraningrat Galis.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nadiya Islamiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: The Protege Effect, Sumber chatGPT
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: The Protege Effect, Sumber chatGPT

Kamu pasti pernah mengalami kondisi dimana ketika kamu membantu temanmu belajar. Entah itu matematika, IPA, atau materi kuliah lalu di tengah-tengah proses menjelaskan, kamu malah berpikir “Loh, kok aku jadi makin paham ya?” Aneh tapi nyata, yang belajar siapa yang semakin paham siapa.

Dan ternyata itu bukanlah kebetulan, fenomena ini punya nama "The Protégé Effect." Yaitu kondisi dimana kita justru belajar lebih baik saat sedang menjelaskan sesuatu kepada orang lain.

Ini terjadi karena saat menjelaskan, otak bekerja lebih aktif. Berbeda saat kita membaca buku atau mendengarkan penjelasan dosen, otak kita seperti penonton di tribun yang hanya menyimak dan belum tentu ikut bermain. Tapi ketika kita mulai menjelaskan, semuanya berubah. Kita mulai berpikir “Apa inti dari materi ini?” “Bagaimana ya agar penjelasanku mudah dipahami?” “Jika dia tanya balik, aku bisa jawab gak?”

Tanpa disadari, otak kita jadi pemain utama dengan menyusun, menyaring, dan menyampaikan informasi. Inilah yang membuat pemahaman jadi lebih kuat. Psikolog John Nestojko dari Washington University bahkan menyebut bahwa bahkan hanya saat kita berniat mengajar saja, otak sudah bersiap bekerja lebih dalam.

Menurut ilmu psikologi, informasi pertama-tama disimpan di memori jangka pendek. Tapi di situ, informasi cepat hilang. Agar ia bisa menetap lebih lama, informasi harus dipindahkan ke memori jangka panjang.

Dimana proses menjelaskan itu seperti membangun jembatan penghubung antara memori jangka pendek dan jangka panjang. Kita tidak hanya mengulang informasi, tapi juga menyusunnya ulang dengan kata sendiri, menghubungkannya dengan hal-hal yang sudah kita tahu dan mengulangnya dalam konteks yang bermakna.

Hermann Ebbinghaus, ilmuwan Jerman yang meneliti tentang lupa dan ingatan, menyatakan bahwa kita cepat lupa jika tidak mengulang atau memberi makna pada apa yang kita pelajari. Menjelaskan melakukan keduanya sekaligus.

Jika kamu pernah terhenti ketika menjelaskan satu hal, tidak tahu kelanjutannya, bingung menjawab pertanyaan atau tiba-tiba merasa “Aduh, ternyata aku belum paham bagian ini.” Tenang, justru di situ letak keajaibannya. Dengan menjelaskan, kita bisa menemukan celah dalam pemahaman kita sendiri. Ini disebut "metakognisi," yaitu kemampuan kita untuk sadar terhadap apa yang kita tahu dan tidak tahu, dari situ kita bisa belajar lebih fokus.

Berbeda dengan belajar sendiri yang kadang setengah hati, saat menjelaskan kepada orang lain ada beban moral yang seolah berkata “Aku harus bikin dia paham.” Nah, perasaan itulah yang membuat kita jadi lebih serius, lebih teliti, dan lebih fokus.

Profesor Barak Rosenshine, pakar strategi belajar dari University of Illinois, menyebut bahwa salah satu metode belajar paling efektif adalah mengajar orang lain. Karena itu membuat kita memanggil kembali informasi dari ingatan, mengolahnya, lalu menyampaikannya dengan struktur yang jelas.

Menjelaskan juga bukan proses satu arah, terkadang orang yang kita ajari balik bertanya “Lho, kenapa bisa begitu?” atau “Kalau A-nya begini, B-nya gimana?” Pertanyaan-pertanyaan itu membuat kita berpikir ulang. Dan tak jarang justru karena itu kita menemukan perspektif baru atau sadar ada bagian dari materi yang belum kita perhatikan sebelumnya.

Jadi, jika kamu ingin lebih paham suatu materi jangan cuma baca atau dengar. Mulailah menjelaskan, bukan karena kamu lebih pintar tapi karena proses menjelaskan itu membuat otakmu bekerja lebih dalam. Kamu bisa jelaskan ke teman, adikmu, atau bahkan bicara sendiri di depan cermin. Tidak usah malu, justru itu cara cerdas untuk membuat agar otak dapat lebih memahami materi yang kamu pelajari.