Alas Roban: sebagai Saksi Sejarah dari Dulu hingga Kini

Nadiyatul Khusna
Mahasiswa Sejarah Universitas Negeri Semarang
Konten dari Pengguna
17 Juni 2024 14:18 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Nadiyatul Khusna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Semua orang pasti sudah tidak asing dengan Alas Roban yang terletak di Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah yang terkenal sebagai jalur angker. Roban dahulu merupakan hutan yang masih alami, lebat, dan menyeramkan sehingga banyak masyarakat yang menganggapnya angker serta penuh misteri. Di masa pra sejarah, di sekitar Sungai Lojahan Hilir (Rembang/Kramat/Klidang) tepatnya di kawasan Bendungan Kedungdowo, dahulu terdapat batu punden yang disebut penduduk “Watu Angkrik” (batu besar yang bertengger pada batu kecil) dan sebuah batu dakon. Hal ini menandakan bahwa pada masa tersebut sudah ada masyarakat dan peradabannya yang berlaku.
Alas Roban dalam Tulisan Basuki Soenarjo Tanggal 11 Januari 1993. Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi
Kemudian pada masa Hindu atau Buddha di kawasan Roban terdapat penguasa lokalnya yang bernama Wirabrahma. Hal ini terungkap dalam manuskrip yang ditemukan di Mendolo, Kecamatan Roban. Bertuliskan Arab dan di dalamnya menguraikan riwayat Murahidin semasa berkuasa di Mendalagiri. Selain itu, juga ditemukan peninggalan-peninggalan klasik yang berlagam Hindu atau Buddha, seperti prasasti, arca, subasemen, situs bangunan keagamaan maupun perhiasan-perhiasan dari logam. Terlihat bahwa pada masa ini di kawasan Alas Roban sudah terdapat masyarakat lengkap dengan strata ketatanegaraan, sosial, budaya, dan agama yang dianutnya.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, pada masa awal perkembangan agama dan kerajaan Islam di Jawa, di Alas Roban pernah terjadi suatu peristiwa pertarungan antara Raden Patah dengan Joko Wono. Saat itu Raden Patah beserta rombongan dalam perjalanan dari Palembang Kendal menuju ke ibukota Majapahit. Dalam perjalanan ia dirampok oleh jawara dari Desa Salam. Pada akhir kisah, jawara beserta rombongan kalah dan berjanji akan setia kepada Raden Patah. Ketika Raden Patah menjadi Sultan Demak I, Joko Wono dijadikan patih kesultanan Demak–Bintoro. Kisah ini bisa diikuti dalam buku-buku sastra lama, antara lain Babad Demak, Babad Tanah Jawi oleh Dr. Soewito Santoso, dan Babad Tanah Jawa karya Wiryopanitro. Pada awal pemerintahan Kerajaan Islam Mataram di bawah pimpinan Panembahan Senopati ditunjuk sepenggawa, Leyangsari, sebagai menteri pemajegan (setara pejabat bajak) karena di sekitar Alas Roban dianggap strategis.
ADVERTISEMENT
Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Alas Roban pernah menjadi salah satu benteng pertahanan Jendral De Kock dalam upaya menghadapi bala tentara Inggris yang hendak menjajah Jawa (Indonesia). Sekitar Alas Roban juga menjadi ajang pendaratan dan medan pertahanan Jepang dalam mengisi pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. Sekaligus sebagai medan laga bagi para pejuang kemerdekaan untuk mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan Republik Indonesia. Begitu pula, dalam Sejarah Perjuangan Angkatan 45 Kabupaten Dati II Batang.
Alas Roban dalam Tulisan Basuki Soenarjo Tanggal 11 Januari 1993. Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi
Pada sumber berupa tradisi lisan yang ditulis oleh Basuki Soenarjo, seorang keturunan dari Kanjeng Raden Adipati Batang I pada tanggal 11 Januari 1993 menerangkan bahwa pada masa pembangunan Jalan Anyer–Panarukan menembus batu punden di Bukit Kawasan Alas Poncowati (cabang Hutan Roban). Kemudian banyak timbul korban jiwa yang diduga selain karena kontur jalannya yang berkelok juga disebabkan pengaruh magis dari batu tersebut. Banyak sumber tertulis maupun lisan yang mengatakan bahwa kawasan Alas Roban sebelum adanya Jalan Raya Anyer–Panarukan sudah menjadi tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat karena dianggap sebagai tempat berkumpulnya berbagai makhluk ghaib. Tidak hanya itu, Alas Roban ini menjadi tempat keramat semasa Mataram karena Hutan Roban dibuka oleh Bahurekso yang difungsikan sebagai lumbung padi saat Sultan Agung di Mataram hendak menyerang Batavia yang diduduki oleh Belanda atau VOC. Oleh karena itu, perwujudan menjadi angker itu banyak muncul saat memasuki masa kolonial era Daendels hingga era kemerdekaan.
ADVERTISEMENT
Terlepas dari itu semua, soal keangkeran Alas Roban kembali kepada persepsi masyarakat. Dalam persepsi masyarakat Jawa, tempat yang dianggap angker adalah hutan apalagi belantara. Jika dilihat dari sudut pandang medannya, kawasan Alas Roban ini memiliki kontur tanah berbentuk perbukitan karena medannya yang berat inilah dalam pembangunan jalan para pekerja harus menghancurkan batuan, membelah hutan, menembus perbukitan dengan alat seadanya, dan menghadapi banyak binatang buas. Selain itu, tidak adanya waktu istirahat membuat para pekerja kelelahan, mereka dipaksa bekerja rodi tanpa upah, disiksa, tidak diberi makan, dan banyak pula tenaga kerja yang terserang penyakit. Setelah pembangunan selesai, jalan di kawasan Alas Roban memiliki jalan yang menanjak, curam, berkelok, kurang penerangan, dan terkadang berkabut. Beberapa hal tersebut dan dilihat dari kondisinya memungkinkan sekali menimbulkan banyak korban baik itu korban para pekerja pada saat pembangunan maupun korban kecelakaan. Tanpa harus dikaitkan sepenuhnya pada pengaruh magis dari batu punden tersebut.
ADVERTISEMENT
Basuki Soenarjo juga menulis ungkapan dari beberapa orang bekas PETA atau HEIHO di daerah Kabupaten Batang. Mereka mengungkapkan bahwa pada saat penjajahan bala tentara Jepang, sekitar Alas Roban menjadi ajang pendaratan dan medan pertahanan Jepang. Terdapat goa peninggalan Jepang di Pantai Roban Subah, tepatnya di sekitar daerah Ngodek Sungai Kaliurang perbatasan Desa Sengon dan Desa Gondang. Goa ini dibangun sekitar tahun 1943 saat Jepang sedang berebut kedudukan dengan Belanda di Indonesia. Pembangunannya dilakukan oleh para pekerja bangsa Indonesia secara paksa.
Pada saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Jepang tidak langsung kembali. Mereka masih bersembunyi di dalam goa sampai tahun 1948. Setelah itu beberapa mulut goa ditutup menggunakan cor semen dan ada juga yang terkena longsoran. Warga sekitar juga berjaga agar goa tersebut tidak digunakan oleh Belanda. Selain di Subah goa peninggalan Jepang juga terdapat di Dukuh Bunderan, Desa Plelen, Kecamatan Gringsing. Pada goa utama bisa menampung beberapa kendaraan tempur dan puluhan tentara sama seperti yang ada di Subah, sedangkan mulut goa lainnya digunakan untuk mengelabuhi musuh. Jepang memang sengaja dan secara diam-diam membangun goa-goa tersebut di balik bukit di sebelah selatan jalur yang dibuat oleh Belanda. Dulunya Jalan Alas Roban hanya ada satu yaitu Jalan Poncowati. Namun, pada masa sekarang sudah dibangun dua jalur alternatif yang dibangun tahun 1990-an dan 2000-an.
ADVERTISEMENT