Kelas Menengah Indonesia vs AI, Siapa yang Akan Tertinggal?

Bachelor of Communication Science (Journalism) UIN Sunan Gunung Djati Bandung
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Nadwa Dwi Nurcahyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kelas Menengah Sebagai Garda Terdepan Ekonomi Indonesia
Kelas menengah Indonesia, yang mencakup 66,35% populasi (BPS, 2024), adalah penopang utama konsumsi rumah tangga (81,49% dari total). Mereka mendominasi sektor jasa (57,05%), industri (22,98%), dan pertanian (19,97%). Namun, keberadaan mereka kini diuji oleh kehadiran AI.
“Kelas menengah adalah garda terdepan stabilitas ekonomi. Jika terdisrupsi AI, efek domino akan sangat luas,” kata Amalia Adininggar Widyasanti, Plt. Kepala BPS.
Ancaman AI Dari Pekerja Kantoran hingga UMKM
Studi World Economic Forum (2020) memprediksi bahwa Artificial Intelligence akan menggantikan 85 juta pekerjaan global pada 2025. Di Indonesia, 50-60% pekerjaan berisiko hilang, terutama di sektor administrasi, media, dan layanan (ILO, 2016). Sektor pendidikan relatif aman, tetapi pekerjaan rutin seperti entri data atau layanan pelanggan terancam.
“AI bisa menghemat biaya operasional UMKM hingga 30%, tetapi adopsinya masih terkendala keamanan data dan literasi teknologi,” kata Salehi et al. (2022).
Pemerintah dan Swasta Berlomba Siapkan Mitigasi
Pemerintah tengah menyusun regulasi AI untuk memastikan pemanfaatan yang bertanggung jawab. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyatakan, “Kita butuh kerangka hukum agar AI tidak memperlebar kesenjangan.”
Di sisi lain, Google menggelontorkan dana US$350 ribu per startup AI di Indonesia. Program pelatihan seperti kolaborasi Komdigi-Microsoft juga digencarkan untuk meningkatkan keterampilan digital.
Survei Katadata (2024) menunjukkan paradoks bahwa 78% responden percaya AI aman, tetapi 69,3% khawatir akan penyalahgunaan. Generasi Z (67,1%) dan lulusan perguruan tinggi (79,4%) lebih aktif menggunakan AI.
“Yang tidak beradaptasi dengan AI akan tertinggal. Tapi yang mampu memanfaatkannya bisa naik kelas,” ujar Caspar Herzberg, CEO Aveva, dalam konteks serupa.
Kesimpulan
Kelas menengah Indonesia tidak akan hancur selama mampu bertransformasi. Kombinasi kebijakan pemerintah, pelatihan, dan kesadaran individu menjadi kunci.
Seperti kata McKinsey, “AI bukan pengganti manusia, tapi alat untuk yang siap berinovasi.”
AI bukan musuh, tapi cermin bagi kelas menengah untuk introspeksi. Yang gagal beradaptasi mungkin tersingkir, tetapi yang kreatif akan memimpin era baru ekonomi digital.
