Lapangan Kerja Terancam Hilang Oleh AI, 78 Juta Pekerjaan Baru Akan Lahir

Bachelor of Communication Science (Journalism) UIN Sunan Gunung Djati Bandung
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nadwa Dwi Nurcahyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kecerdasan buatan (AI) kini menjadi pisau bermata dua bagi dunia kerja. Di satu sisi, teknologi ini mengancam jutaan pekerjaan rutin, tapi di sisi lain, ia membuka peluang baru yang lebih kompleks. Laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum
(WEF) memperkirakan, 41% perusahaan global akan mengurangi tenaga kerja dalam lima tahun ke depan , sementara 170 juta pekerjaan baru akan tercipta hingga 2030. Namun, 8 persen atau sekitar 92 juta pekerjaan lainnya akan hilang, menyisakan pertumbuhan bersih 78 juta pekerjaan atau sekitar 7 persen dari total pekerjaan saat ini.
Pekerjaan yang Terancam Punah
Data dari survei WEF menunjukkan, pekerjaan administratif seperti kasir, sekretaris, teller bank, dan petugas entri data akan mengalami penurunan drastis. Di Indonesia, sektor ini masih menyerap jutaan tenaga kerja, terutama di industri ritel dan perbankan.
“AI mampu mengotomatiskan tugas repetitif dengan presisi tinggi. Sayangnya, pekerja dengan keterampilan konvensional akan kalah cepat,” ujar Diky Wardhani, Dosen Prodi Teknologi Informasi Cyber University, dikutip dari laman cyber-univ.ac.id.
Bahkan, McKinsey memprediksi 40% pekerjaan di AS tergantikan AI dalam dekade ini , dengan tingkat pengangguran naik hingga 15%. Di Indonesia, ancaman serupa mengintai jika tidak ada adaptasi.
Profesi yang Aman dari Ancaman AI
Meski disruptif, AI tak bisa menggantikan peran manusia dalam bidang yang membutuhkan empati, kreativitas, dan pengambilan keputusan kompleks. Cyber University mencatat 10 profesi yang tetap relevan di era AI :
Pendidik dan Dosen
Tenaga Medis (Dokter, Perawat)
Psikolog dan Konselor
Pengacara dan Hakim
Seniman/Kreator Konten
Ahli Teknik Lapangan
Jurnalis Investigasi
“Keterampilan soft skill seperti komunikasi dan kepemimpinan justru semakin dibutuhkan. AI hanya alat, bukan pengganti manusia,” tegas Diky.
Indonesia di Persimpangan Digital
Survei 27th Global CEO Survey 2024 mengungkap, 87% CEO yang sudah adopsi AI memprediksi kebutuhan keterampilan baru meningkat . Sayangnya, hanya 34% perusahaan di Indonesia yang memiliki program pelatihan AI untuk karyawan.
“Kesenjangan keterampilan ini bisa jadi bom waktu. Pekerja harus mulai mempelajari AI, minimal sebagai alat bantu,” kata Rizal Ramli, CEO startup edutech SkillUp , dalam diskusi virtual (22/4).
WEF mencatat, 375 juta pekerja global perlu reskilling hingga 2030 . Di Indonesia, program seperti Kartu Prakerja dinilai perlu diperluas untuk menjangkau kelompok rentan, seperti pekerja informal.
Solusi: Adaptasi atau Tertinggal
Contoh nyata datang dari sektor perbankan. Bank BCA dan Mandiri telah menggunakan AI untuk wawancara karyawan hingga analisis riset pasar. Namun, hal ini justru menciptakan permintaan baru untuk ahli AI seperti data scientist dan machine learning engineer .
“Kita tidak bisa melawan teknologi, tapi kita bisa mengarahkannya. Investasi di bidang pendidikan dan pelatihan adalah kunci,” pungkas Diky.
Di tengah ancaman, Indonesia berpeluang memanfaatkan bonus demografi. Dengan 60% populasi berusia produktif, pemerintah perlu mempercepat transformasi digital dan kolaborasi industri-kampus untuk mempersiapkan SDM siap AI.
