Konten dari Pengguna

Psikologi di Balik Toxic Positivity: Kenapa Semua Harus Baik-Baik Saja?"

Nadya Damara

Nadya Damara

Mahasiswa Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 3 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nadya Damara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja.”

Kenyataannya, banyak orang merasa terpaksa memasang wajah bahagia dan berkata, "Aku baik-baik saja," meskipun dalam hati mereka sedang hancur. Fenomena ini disebut toxic positivity, dan tanpa sadar, hal ini bisa merusak kesehatan mental kita.

Di zaman sekarang, media sosial sering menjadi ajang pamer kebahagiaan, seolah-olah hidup harus selalu sempurna. Siapa sih yang nggak ingin terlihat bahagia? Tapi ternyata, terus-terusan memaksakan diri buat kelihatan positif justru bisa merugikan, lho.

Inilah yang disebut toxic positivity, situasi di mana seseorang merasa harus menyembunyikan emosi negatif dan hanya menampilkan sisi bahagia. Di artikel ini, kita bakal bahas lebih dalam soal toxic positivity, dampaknya, dan gimana caranya untuk lebih jujur dalam menghadapi perasaan kita sendiri .

Cara dan dampak toxic positivity terhadap diri sendiri, Unplash: Getty Images

Apa Itu Toxic Positivity?

Toxic positivity adalah dorongan untuk selalu berpikir positif dalam semua situasi, sehingga mengabaikan emosi negatif seseorang​Contohnya, kalimat seperti "Sabar ya, di luar sana masih banyak yang lebih parah dari kamu" mungkin terdengar menenangkan, tetapi sebenarnya justru bisa membuat seseorang merasa emosinya tidak dihargai. Menurut Cherry. K dalam kutipan di jurnal Toxic Positivity Pada Generasi Z , toxic positivity merupakan kepercayaan bahwa seberapa sulit dan mengerikannya keadaan yang ada, seseorang harus mepertahankan pemikiran positif.

Dampak Negatif Toxic Positivity

Fenomena ini membawa banyak dampak buruk, terutama pada kesehatan mental. Salah satu dampaknya adalah invalidasi perasaan, di mana seseorang merasa emosinya dianggap tidak penting atau bahkan salah. Selain itu, toxic positivity memaksa individu untuk memendam emosi negatif, yang pada akhirnya dapat menyebabkan tekanan mental, stres, atau kecemasan. Dampak lainnya terlihat dalam hubungan sosial, di mana kurangnya empati dapat menciptakan jarak, membuat hubungan menjadi canggung atau bahkan renggang.

Mengapa Toxic Positivity Masih Terjadi?

Toxic positivity masih sering ditemui karena adanya kebiasaan sosial yang menuntut setiap orang untuk selalu terlihat kuat, bahagia, dan tidak menunjukkan kelemahan. Rendahnya tingkat empati juga menjadi penyebab, karena tidak semua orang mampu memahami perasaan orang lain. Selain itu, banyak yang belum mendapatkan edukasi mengenai bahaya toxic positivity, sehingga ucapan yang dimaksudkan untuk membantu malah menjadi merugikan.

Mengutip pernyataan Zahra (2022), Adapun penyebab lain toxic positivity dapat terjadi, diantaranya tidak memiliki prinsip yang jelas, selalu bergantung pada apa yang orang lain katakan, tidak mengenali karakter diri sendiri, menganggap diri sendiri tidak mampu melakukan apapun, tidak percaya diri dalam melangkah dan terlalu membiarkan orang lain masuk kedalam masalah yang sedang terjadi.

Cara Menghadapi Toxic Positivity

Untuk menghindari toxic positivity, penting untuk mulai memberikan validasi pada perasaan orang lain. Mengakui dan menghargai apa yang mereka rasakan tanpa buru-buru memberikan solusi atau menghakimi adalah langkah awal yang penting. Hindari juga membandingkan penderitaan, seperti mengatakan, "Masih banyak yang lebih parah dari kamu,"

karena ini hanya akan memperburuk keadaan. Sebaliknya, dengarkan dengan empati dan cobalah memahami perspektif mereka tanpa memaksakan sikap positif.

Pesan Penting: Tidak Apa-Apa untuk Tidak Baik-Baik Saja

Merasakan emosi negatif adalah bagian alami dari kehidupan. Tidak ada yang salah dengan merasa sedih, marah, atau kecewa. Justru dengan menerima emosi ini, kita bisa lebih jujur pada diri sendiri dan menjalani proses penyembuhan yang lebih sehat. Tidak semua harus baik-baik saja, dan itu sepenuhnya wajar. Mari kita mulai lebih peka terhadap perasaan diri sendiri dan orang lain, karena empati dan penerimaan adalah kunci untuk mendukung kesehatan mental yang lebih baik.