Cukai Minuman Manis: Upaya Menekan Konsumsi atau Membebani Masyarakat?
Tulisan dari Nadya Nurul Hasanah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Minuman manis semakin mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari teh kemasan, minuman bersoda, hingga berbagai minuman kekinian yang digemari anak muda. Konsumsinya pun terus meningkat, seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat. Di tengah kondisi tersebut, pemerintah berencana mengenakan cukai pada Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK). Tujuannya tidak hanya untuk menambah penerimaan negara, tetapi juga untuk mengendalikan konsumsi gula yang berlebihan. Namun, kebijakan ini menimbulkan pertanyaan: apakah cukai benar-benar efektif menekan konsumsi, atau justru menambah beban bagi masyarakat?
Secara konsep, cukai memang bukan sekadar instrumen penerimaan negara. Berbeda dengan pajak pada umumnya, cukai juga berfungsi sebagai alat untuk mengendalikan konsumsi barang tertentu yang dianggap memiliki dampak negatif. Dalam hal ini, minuman manis dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit seperti diabetes dan obesitas. Dengan menaikkan harga melalui cukai, pemerintah berharap masyarakat akan mengurangi konsumsi minuman tersebut.
Dari sisi kebijakan, pendekatan ini bukan hal baru. Cukai rokok telah lama digunakan dengan tujuan serupa, yaitu menekan konsumsi sekaligus meningkatkan penerimaan negara. Dalam teori ekonomi, kenaikan harga akibat cukai dapat menurunkan permintaan, terutama jika konsumen memiliki alternatif lain. Artinya, secara teori, kebijakan cukai MBDK memiliki dasar yang cukup kuat.
Namun, implementasinya tidak selalu berjalan sesuai harapan. Salah satu tantangan utama adalah perilaku konsumen yang tidak selalu berubah hanya karena harga naik. Dalam banyak kasus, masyarakat tetap mengonsumsi produk yang sama meskipun harganya lebih mahal, terutama jika sudah menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Jika hal ini terjadi, maka cukai justru lebih berfungsi sebagai penambah penerimaan negara daripada alat pengendali konsumsi.
Selain itu, kebijakan ini juga berpotensi menimbulkan beban tambahan bagi masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah. Minuman manis sering kali menjadi pilihan yang terjangkau dan mudah diakses. Ketika harga naik akibat cukai, kelompok ini yang paling merasakan dampaknya. Di sisi lain, kelompok berpenghasilan lebih tinggi mungkin tidak terlalu terpengaruh oleh kenaikan harga, sehingga konsumsi mereka tetap stabil.
Di sinilah muncul dilema kebijakan. Di satu sisi, pemerintah ingin meningkatkan kesehatan masyarakat dengan menekan konsumsi gula. Di sisi lain, kebijakan ini berisiko menimbulkan ketimpangan dampak antar kelompok masyarakat. Jika tidak dirancang dengan baik, cukai MBDK bisa dianggap tidak adil karena lebih membebani kelompok tertentu.
Selain aspek masyarakat, dampak terhadap pelaku usaha juga perlu diperhatikan. Industri minuman, terutama usaha kecil dan menengah, bisa menghadapi penurunan permintaan jika harga produk meningkat. Hal ini berpotensi memengaruhi penjualan dan keberlangsungan usaha. Oleh karena itu, kebijakan cukai tidak bisa berdiri sendiri, tetapi perlu diimbangi dengan kebijakan pendukung yang tepat.
Karena itu, efektivitas cukai MBDK sangat bergantung pada desain kebijakan yang komprehensif. Cukai perlu disertai dengan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya mengurangi konsumsi gula. Tanpa pemahaman yang baik, masyarakat mungkin hanya melihat kebijakan ini sebagai kenaikan harga semata, bukan sebagai upaya menjaga kesehatan.
Selain itu, pemerintah juga perlu memastikan bahwa kebijakan ini tidak hanya berorientasi pada penerimaan negara. Transparansi penggunaan dana dari cukai menjadi penting untuk membangun kepercayaan masyarakat. Jika masyarakat melihat bahwa dana tersebut digunakan untuk program kesehatan, maka penerimaan terhadap kebijakan ini akan lebih tinggi.
Cukai minuman manis pada dasarnya memiliki tujuan yang baik, yaitu melindungi kesehatan masyarakat sekaligus meningkatkan penerimaan negara. Namun, keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh kebijakan itu sendiri, tetapi juga oleh bagaimana kebijakan tersebut diterapkan dan diterima oleh masyarakat.
Kenaikan harga mungkin bisa mengurangi konsumsi, tetapi perubahan perilaku membutuhkan lebih dari sekadar kebijakan fiskal. Tanpa edukasi, tanpa kepercayaan, dan tanpa perencanaan yang matang, cukai MBDK berisiko menjadi kebijakan yang terasa membebani, bukan solusi yang benar-benar menyelesaikan masalah.

