Konten dari Pengguna

Asin Keringat di Bawah Langit yang Tak Menentu: Kisah Pak Robert di Pantai Timur

Nadziera Aura Rifadhnie

Nadziera Aura Rifadhnie

Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi di Universitas Padjadjaran

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nadziera Aura Rifadhnie tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi Pribadi

PANTAI TIMUR – Langkah saya terhenti di sebuah bangunan kayu yang dikenal sebagai Gudang Dua Putra di Jalan Prapat. Aroma laut yang tajam menyambut, berpadu dengan suara deburan ombak yang syahdu dari pesisir Pantai Timur yang terletak tepat di seberangnya. Awalnya, saya mencari pemilik gudang, namun takdir membawa saya kepada sosok yang lain.

Di sanalah kami bertemu Ujang Sukiman (45), pria berkulit sawo matang yang lebih dikenal dengan nama "Robert". Nama itu bukanlah pemberian orang tuanya, melainkan sapaan akrab dari rekan kerjanya sejak tahun 2001 yang terus melekat hingga kini. Dengan kaos biru berlogo Chelsea yang sudah kusam dan sepatu botnya, Pak Robert menjadi jendela saya melihat kerasnya kehidupan di balik setumpuk ikan asin.

Tangan yang Berkerut dan Kesederhanaan Garam

Melihat Pak Robert bekerja adalah melihat sebuah keteguhan yang sunyi. Ia bekerja tanpa sarung tangan, membiarkan telapak tangannya memucat dan keriput karena terlalu lama bersentuhan dengan air dan amis laut. Proses yang ia jalani tampak begitu sederhana namun menuntut kesabaran ekstra.

"Pengasinan ikan itu cukup pakai garam saja, neng, tidak ada tambahan air sama sekali. Kalo yang pakai air itu waktu pembersihannya," jelasnya sambil terus bekerja. Ikan-ikan yang sudah dibersihkan dan dibelah langsung ditaburi garam secara merata sebelum disimpan. Proses ini diikuti dengan pengasinan selama 3-4 hari, sebelum akhirnya memasuki tahap krusial, yaitu pengeringan di bawah terik matahari.

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Ada ketenangan yang saya rasakan saat mengamati Pak Robert menata ikan kuer satu per satu di atas widik 'anyaman bambu' dengan sangat rapi. Meski pelipisnya dibasahi keringat, ia tetap fokus.

Perang Melawan Cuaca dan Belatung

Bagi Pak Robert, cuaca adalah kawan sekaligus lawan. Di satu sisi, hujan membawa "berkah" berupa turunnya harga bahan baku dari nelayan menjadi hanya Rp3.000 hingga Rp5.000 per kilogram karena kualitas yang menurun. Namun di sisi lain, hujan adalah ancaman bagi ikan jambal roti, komoditas paling mahal seharga Rp130.000/kg.

"Kalau hujan, jambal roti harus langsung masuk freezer, soalnya suka muncul belatung," ujar Pak Robert sembari menyeruput kopi dengan bibir gelapnya. Ikan yang tebal ini membutuhkan waktu kering lebih lama, dan tanpa matahari, pembusukan menjadi musuh nyata. Di saat hujan, proses pengeringan yang biasanya hanya 2 hari bisa membengkak menjadi 5 hari.

Bertahan di Tengah Ketidakpastian

Meski harus bekerja dengan upah Rp70.000-Rp80.000 per hari, Pak Robert tidak menunjukkan ekspresi lelah pada wajahnya. Terkadang malah senyum yang ia berikan.

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Keberlanjutan usaha ini bergantung pada kelihaian para pekerja seperti Pak Robert dalam beradaptasi. Saat musim liburan, ketika 3-4 bus wisatawan dari Bandung datang memenuhi area gudang, permintaan bisa melonjak hingga 50%. Di saat itulah, strategi seperti memproduksi ikan yang mudah kering atau menyimpan stok cadangan dilakukan. Ini merupakan kunci agar asap dapur tetap mengepul.

Mungkin Pak Robert tidak bisa mengendalikan mendung atau terik yang datang menyapa, namun Pak Robert selalu bisa memilih untuk terus melangkah dengan tangan yang tulus dan hati yang tangguh.

Karena pada akhirnya, bukan keadaan langit yang menentukan hasil akhir, melainkan kelihaian dan keteguhan kita dalam menjemur harapan di tengah badai kehidupan.