Qana'ah di Tengah Budaya Flexing: Cukup Itu Menenangkan, Kata Hadis.

Mahasiswa Uin Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nadzifatus Sholeha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Flexing adalah istilah yang biasa dipakai untuk menyebut perilaku pamer kekayaan, pencapaian, atau gaya hidup mewah kepada orang lain, biasanya lewat media sosial. Belakangan ini istilah tersebut makin sering muncul, terutama setelah beberapa kasus viral di mana harta yang dipamerkan ternyata berasal dari utang, bahkan hasil penipuan.
Coba perhatikan beranda media sosialmu hari ini. Ada yang baru beli iPhone terbaru, ada yang liburan ke Jepang, ada yang pamer tas branded sambil nulis caption "alhamdulillah rezeki anak sholeh". Itulah bentuk-bentuk flexing yang sering kita temui sehari-hari—entah buat gaya-gayaan atau memang sengaja mencari validasi.
Masalahnya, flexing ini nular. Begitu lihat orang lain pamer, kita jadi ikut insecure. Muncul pertanyaan dalam hati: "Kok dia udah segitu, aku kapan?" Dari situ lahir rasa minder, cemas, sampai akhirnya maksain diri beli barang yang sebenarnya belum butuh-butuh amat—demi kelihatan "setara".
Di tengah budaya serba pamer ini, ada satu konsep dalam Islam yang relevan banget buat direnungkan: qana'ah.
Apa Itu Qana'ah?
Sederhananya, qana'ah itu rasa cukup. Bukan berarti nggak boleh punya cita-cita atau nggak boleh kerja keras, tapi lebih ke sikap hati yang tenang menerima apa yang sudah dimiliki, sambil tetap berusaha menjadi lebih baik.
Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa kekayaan yang sesungguhnya bukan soal banyaknya harta, melainkan kekayaan hati (HR. Bukhari dan Muslim). Artinya, orang bisa saja punya segudang harta tapi hatinya tetap gelisah karena selalu merasa kurang. Sebaliknya, ada orang yang hartanya pas-pasan tapi hidupnya tenang karena hatinya merasa cukup.
Ada juga hadis lain yang menyebutkan, beruntunglah orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan dianugerahi sifat qana'ah oleh Allah (HR. Muslim). Jadi, rasa cukup ini sebenarnya semacam "anugerah" yang bikin hidup lebih ringan dijalani.
Kenapa Flexing Bikin Capek?
Budaya flexing itu melelahkan karena standarnya nggak pernah ada habisnya. Hari ini merasa cukup karena punya HP keluaran terbaru, besok udah ada lagi yang pamer HP model paling baru. Perbandingan ini nggak akan pernah selesai, karena selalu ada orang yang "kelihatannya" lebih di atas.
Belum lagi efek sampingnya: banyak orang akhirnya terjebak pinjaman online atau paylater cuma demi tampil "mampu" di depan orang lain. Ironisnya, yang dikejar cuma pengakuan, bukan kebutuhan.
Qana'ah Bukan Berarti Males Usaha
Penting digarisbawahi, qana'ah itu bukan alasan buat pasrah atau males berjuang. Orang yang qana'ah tetap boleh—bahkan dianjurkan—untuk bekerja keras, menabung, dan punya target hidup. Bedanya ada di sikap hati: ketika usaha sudah maksimal, hasilnya diterima dengan lapang, nggak dibandingkan terus-menerus dengan pencapaian orang lain.
Jadi qana'ah itu soal cara pandang, bukan soal berhenti berusaha.
Cara Praktis Menumbuhkan Qana'ah di Era Medsos
Beberapa hal kecil yang bisa dicoba:
• Biasakan bersyukur atas hal-hal kecil setiap hari, bukan cuma pas dapat sesuatu yang besar.
• Sesekali kurangi scroll media sosial, apalagi kalau abis liat konten yang bikin minder.
• Fokus ke progres diri sendiri dibanding ngebandingin pencapaian orang lain.
• Ingat bahwa yang dipamerkan orang di medsos cuma highlight, bukan keseluruhan hidupnya.
Penutup
Di dunia yang serba pamer ini, qana'ah jadi semacam "pelarian" yang sehat. Bukan buat menyerah pada keadaan, tapi buat menjaga hati tetap waras di tengah tekanan untuk selalu kelihatan lebih. Karena pada akhirnya, ketenangan itu nggak datang dari berapa banyak orang yang mengakui pencapaian kita, tapi dari seberapa besar hati kita menerima apa yang sudah ada.
