Kumparan Logo

Après la Révolution: Gambaran Perubahan Mode di Tangan Yosafat Dwi Kurniawan

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Koleksi “Après la Révolution” karya Yosafat Dwi Kurniawan. Foto: Yosafat Dwi Kurniawan
zoom-in-whitePerbesar
Koleksi “Après la Révolution” karya Yosafat Dwi Kurniawan. Foto: Yosafat Dwi Kurniawan

Kecintaan Yosafat Dwi Kurniawan terhadap sejarah mode tak sedikit pun memudar setelah 15 tahun berkarier sebagai desainer.

Kali ini, desainer yang akrab disapa Yos tersebut menelusuri kembali perubahan tatanan mode setelah revolusi Prancis berakhir—sebuah periode yang ditandai dengan eksekusi Raja Louis XVI, Ratu Marie Antoinette, serta sejumlah bangsawan hingga berakhirnya era monarki di Prancis.

Setelah 15 tahun, saya masih bisa menemukan hal menarik untuk diangkat,” ujar Yosafat dalam rilis yang diterima oleh kumparanWOMAN.

Namun, ketertarikan Yosafat pada periode tersebut bukan semata-mata karena kemewahan busana atau estetika zamannya. Ada pertanyaan lebih besar yang mengusik pikirannya saat mempersiapkan koleksi fesyen musim semi tahun ini: apa yang sebenarnya terjadi setelah sebuah perang atau revolusi berakhir?

Pertanyaan itu kemudian membawanya untuk mendalami sejarah mengenai bagaimana perubahan besar dalam tatanan sosial-politik turut menggeser cara manusia berpakaian.

Fenomena pergerakan mode usai revolusi tak hanya terlihat di Prancis. Di Amerika Serikat, perubahan gaya hidup juga terasa setelah Perang Vietnam—ketika era 1970-an busana berkembang menjadi lebih sederhana, praktis, sekaligus memberikan kebebasan bagi pemakainya.

Koleksi Yosafat Dwi Kurniawan di Langham Fashion Soiree. Foto: Dok. Yosafat Dwi Kurniawan

Rangkaian peristiwa tersebut memperlihatkan bagaimana mode terus bergerak mengikuti perubahan zaman. Hal itu yang dipresentasikan Yosafat Dwi Kurniawan melalui fashion show di Langham Fashion Soiree pada Kamis (13/8), lewat koleksi bertajuk “Après la Révolution” yang berarti “Pasca Revolusi”.

Dalam koleksi ini, Yosafat mengeksplorasi berbagai hal baru, mulai dari palet warna dan teknik drapery hingga mengganti aksen payet dengan aksesori dari NOMA. Untuk material, Yosafat menggunakan sejumlah kain ramah lingkungan, seperti jersei, voile, tweed, serta viscose rayon dan lyocell dari Asia Pacific Rayon (APR).

“Biasanya saat saya berkarya, saya menggunakan warna mencolok dan tegas. Kali ini saya mencoba sesuatu yang baru. Kali ini pun saya mencoba teknik baru seperti drapery yang jarang sekali saya gunakan,” ungkapnya.

Lantas, seperti apa interpretasi Yosafat terhadap era pasca revolusi melalui koleksi ini? Mari melihat karya selengkapnya.

Membaca pergerakan mode lewat koleksi “Après la Révolution”

Sorot cahaya merah menghiasi background penghelatan fashion show sepanjang pertunjukan. Pada segmen pertama, Yosafat menghadirkan busana bernuansa hitam, putih, dan sentuhan denim yang ditata melalui potongan-potongan tegas.

Gaun pembuka dalam fashion show Yosafat Dwi Kurniawan di Langham Fashion Soiree. Foto: Yosafat Dwi Kurniawan

Diiringi musik bergemuruh, fashion show dibuka dengan gaun putih asimetris berkerah ruffle. Gaun ini menghadirkan siluet feminin yang dramatis lewat permainan potongan asimetris pada bagian lengan dan bawah busana.

Dres tersebut kemudian dipadukan dengan blazer hitam beraksen bordir emas mewah yang terinspirasi dari detail ornamen interior era Baroque-Rococo. Aksen tersebut disempurnakan dengan potongan laser dari NOMATEX.

Busana pun bergerak ke era peperangan, sehingga koleksinya menampilkan nuansa perak yang melambangkan baju zirah. Meski terinspirasi dari armor, Yosafat menghadirkan busana dengan potongan yang feminin dan modern.

Atasan ini terinspirasi dari baju zirah di era peperangan. Foto: Yosafat Dwi Kurniawan

Salah satunya adalah blazer bertekstur tweed dengan potongan off-shoulder. Potongan serupa sebelumnya dikenakan Agnes Rahajeng dalam warna hitam untuk sesi deep interview Miss Supranational 2026.

Jika saat itu Agnes memadukannya dengan rok batik dari Garuda Kencana Batik, kali ini siluet blazer dipertemukan dengan celana berpotongan loose yang dilengkapi detail cut-out tinggi di kedua sisi.

Fashion show pun berlanjut ke nuansa tahun '70-an yang memperlihatkan busana yang kaya akan euforia pasca perang, yakni damai dan bebas. Didominasi oleh gaun, warnanya meliputi putih tulang, krem, biru pirus, hijau sage, biru denim, hingga merah.

Koleksi pada segmen kali ini memainkan drapery dan aksen ruffle yang menambah suasana euforia sekaligus menghadirkan kesan feminin yang romantis.

Koleksi Yosafat Dwi Kurniawan di Langham Fashion Soiree. Foto: Yosafat Dwi Kurniawan

Contohnya, gaun merah marun bertali spaghetti yang diperkaya dengan aksen ruffle berlapis. Susunan ruffle pada bagian rok menciptakan volume sekaligus menghadirkan efek dramatis, terutama saat helaian kain bergerak mengikuti langkah model.

Belt hitam berornamen emas di bagian pinggang pun turut mempertegas siluet sekaligus menjadi aksen statement yang memperkaya keseluruhan tampilan.

Soal permainan konsep dan garis rancangan, Yos memaknainya sebagai sebuah revolusi. “Untuk saya, ini adalah revolusi. Evolusi itu pelan, ini revolusi, saya harus beradaptasi dan berubah dengan cepat,” ujar Yosafat.

Untuk melihat koleksi selengkapnya, cek galeri foto di bawah ini, Ladies.