Perjalanan Mel Ahyar Archipelago di Pulau Nias Mencari Inspirasi

Setiap koleksi fesyen punya cerita. Ada perjalanan panjang yang dilalui desainer untuk menggali inspirasi di balik karya yang dihadirkan, sehingga koleksi tersebut bukan sekadar pakaian yang melekat di tubuh.
Perjalanan itu pula yang melatarbelakangi koleksi Tanö Niha dari Mel Ahyar Archipelago. Terinspirasi dari Pulau Nias, koleksi ini lahir dari proses pencarian Mel Ahyar untuk mengenal lebih dekat kekayaan budaya yang tersimpan di pulau yang dikenal dengan sebutan Negeri Para Pendekar.
Ketertarikan Mel pada Pulau Nias bermula ketika ia menerima kiriman lembaran kayu Oholu. Ia mendapat tantangan untuk mengolah material yang kaku itu menjadi koleksi fesyen. Namun, berbagai upaya yang dilakukan belum berhasil menghasilkan busana yang nyaman dikenakan.
Mel pun memutuskan untuk mendatangi langsung tempat asal material tersebut, yakni Pulau Nias. Awalnya, ia berniat mencari wastra yang bisa menjadi inspirasi koleksi. Namun, perjalanan itu justru membawanya pada temuan lain yang tak kalah menarik.
Aku tidak menemukan wastra. Cuma aku menemukan jejaknya, ternyata mereka pernah menenun,” cerita Mel saat ditemui di butik Mel Ahyar Archipelago di Senayan City.
Meski tak menemukan wastra yang dicari, perjalanan Mel belum berakhir. Saat mengunjungi Rumah Raja, ia justru menemukan hal unik berupa ukiran batu megalitikum di halaman dan ukiran kayu yang menghiasi bagian dalam bangunan.
Co-Founder & CEO Maison MAC, Arie Panca pun takjub dengan berbagai peninggalan yang masih dapat dijumpai di sana, mulai dari patung batu, arsitektur rumah adat Omo Sebua, hingga tradisi lompat batu.
“Karena di daratan Sumatra sendiri, budayanya telah bercampur dengan pengaruh Hindu-Buddha-Islam. Jadi budaya Nias malah ‘terawetkan’ dengan sendirinya,” ujar Arie.
Temuan tersebut kemudian diterjemahkan Mel ke dalam koleksi Tanö Niha. Sejumlah busana menampilkan motif relief yang terinspirasi dari ukiran Nias.
Untuk menghadirkan kesan tiga dimensi, Mel mengolah bagian dalam motif hingga permukaannya tampak timbul. Detail ini membuat ukiran yang semula dijumpainya pada bangunan dan peninggalan budaya hadir dalam bentuk yang berbeda di atas busana.
Gaun transparan yang curi atensi
Di antara deretan busana Tanö Niha, ada satu gaun yang mencuri perhatian lewat tampilannya yang transparan. Permukaannya menyerupai plastik, dengan motif biru yang tersebar serta detail kecil menyerupai sayap di bagian bahu. Busana tersebut menggunakan soluble paper, material yang dapat larut dalam air.
Jadi ini tuh sebenarnya proses yang belum selesai dalam membuat baju yang dibordir. Pada saat proses yang sudah 75% ini, aku stop di situ. Aku mau menceritakan bahwa the beauty of a process itu juga cantik,” cerita Mel.
“Sama kayak dalam proses aku buat koleksi ini. Jadi aku juga pengin orang merasakan sensasi bahwa dalam membuat satu karya yang kelihatannya cantik, tapi di dalam prosesnya itu sebenarnya prosesnya lebih cantik,” tambahnya.
Tas anyaman lengkapi koleksi
Selain mengolah inspirasi dari ukiran Nias, Mel turut membawa kerajinan anyaman yang dibuat oleh perajin di Gunungsitoli. Anyaman tersebut hadir sebagai detail pada busana dan tas yang melengkapi koleksi Tanö Niha.
Menariknya, Mel sengaja mempertahankan tampilan anyaman sebelum melalui proses penyelesaian akhir yang biasanya membuat permukaannya lebih rapi. Detail-detail ini kemudian hadir bersama busana Tanö Niha yang diperagakan dalam perhelatan Fashion Nation 2026 di Senayan City.
Melalui koleksi ini, saya ingin membuktikan bahwa nilai-nilai kebudayaan tidak akan pernah padam selama ada keberanian untuk terus memperjuangkannya,” ujar Mel.
Arie pun berharap koleksi ini dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal Nias, termasuk melalui kunjungan langsung ke pulau tersebut.
“Apalagi kalau benar-benar ada dampak yang lebih konkret lagi seperti misalnya Pulau Nias kembali menjadi wishlist wisata orang dan mereka benar-benar ke sana. Wah, alangkah luar biasa sekali,” ungkap Arie.
Menariknya, koleksi Tanö Niha dapat kamu beli melalui website atau butik Mel Ahyar Archipelago di Senayan City. Untuk harganya mulai dari Rp 4 jutaan, tertarik?
