Mencegah Intoleran Agama Dan Budaya Dalam Keluarga

Yusuf Srimulyono
Belajar menulis. Staff Administrasi di SMAK PENABUR Kota Wisata. Mahasiswa kelas karyawan di UKRIDA
Konten dari Pengguna
31 Oktober 2021 20:21 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Yusuf Srimulyono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi keluarga merayakan lebaran dengan video call. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi keluarga merayakan lebaran dengan video call. Foto: Shutter Stock
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Indonesia adalah suri teladan toleransi bernegara, beragama, dan berbudaya meskipun masih banyak kesenjangan yang muncul dari berbagai kelompok yang memanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Berbagai upaya pemerintah telah dilakukan untuk membendung tindakan intoleran tersebut.
ADVERTISEMENT
Sebagai warga negara yang menjunjung tinggi toleransi kita harus bersabar menghadapi kelompok atau orang-orang yang tidak toleran. Di Indonesia sudah dibentuk sebuah lembaga di bawah naungan kementerian Agama yang seharusnya membuat regulasi untuk umat beragama, untuk mencegah intoleran.
Saat ini kita termasuk sebagai generasi yang beruntung, karena kita diberi kebebasan untuk memilih Agama dan bertoleransi. Yang paling terpenting adalah kita jangan sampai terkontaminasi kaum intoleran yang memanfaatkan untuk kepentingan politik untuk mempertahankan kekuasaan. Praktik intoleran beragama dalam hidup berkeluarga sepertinya masih banyak terjadi, akibat dari perbedaan pemahaman tentang beragama.
Contoh konkret dalam keluarga adalah pernikahan yang berbeda agama sering menimbulkan sikap – sikap intoleran terhadap agama lain. Fanatisme yang berlebihan cenderung akan menganggap bahwa agama yang dipeluknya adalah yang paling baik dan benar. Pernikahan berbeda agama sering menimbulkan kegalauan kepada anak yang akan lebih cenderung mengikuti ajaran orang tua yang dianggap paling dekat dan nyaman baginya.
ADVERTISEMENT
Sikap orang tua yang tidak memberikan kebebasan beragama kepada anaknya juga menjadi penyebab utama terjadinya intoleran. Biasanya seorang ayah lebih dominan mengatur anaknya untuk mengikutinya, tidak hanya dalam soal beragama tetapi mengatur semua kehidupan anaknya dari lahir hingga sampai jenjang pernikahan. Sangat terlihat sekali dalam hal menikah, seorang anak sudah diberikan peringatan untuk mencari pasangan yang seagama dan yang sama sukunya. Pernikahan yang berbeda agama dan suku dianggap merepotkan dan melanggar adat budaya yang telah dianut oleh orang tua.
Saya akan memberikan gambaran yang terjadi pada keluarga saya, sebagai berikut: Om dan tante saya menikah dengan agama dan suku yang berbeda, Om saya sangat memegang teguh adat-istiadat budaya dari daerahnya dan sangat fanatik terhadap agama. Hal ini juga diterapkan kepada anak-anaknya yang notabene sebagai generasi muda yang sudah mengerti tentang kebebasan beragama dan berbudaya. Sehingga yang terjadi adalah konflik dan perbedaan pendapat dengan anak-anak dan saudaranya yang akhirnya menimbulkan perpecahan keluarga.
ADVERTISEMENT
Dari contoh kasus tersebut dapat disimpulkan bahwa sangat penting memberikan pendampingan sejak dini tentang arti toleransi beragama dan berbudaya dari dalam keluarga. Keluarga menjadi wadah yang paling utama untuk memberikan edukasi tentang toleransi beragama dan berbudaya sejak dini. Orang tua bisa mengajak anak-anaknya untuk menonton melalui media elektronik tentang ragam budaya Indonesia seperti menonton tari-tarian daerah, acara-acara adat-istiadat, serta acara-acara kebudayaan daerah lainnya.
Dengan memberikan bimbingan tentang kerukunan umat beragama, dan memberikan edukasi bahwa semua ajaran agama masing-masing tentu saja baik dan tidak ada dendam contohnya Agama Buddha dengan welas asih, Agama Kristen dengan kasih sayangnya dan sebagainya. Menanamkan sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan.
Masalah intoleran tersebut adalah masalah psikologi manusia dan tentu saja harus diingatkan dan kembali lagi ke ajaran agama masing-masing. Bicara soal keyakinan adalah hal yang paling sulit untuk diungkapkan oleh orang lain dan tentunya agama tidak ada yang mengajarkan kebencian. Dengan memberikan edukasi sejak dini dari dalam keluarga saya percaya bahwa toleransi beragama dan berbudaya akan menjadi sebuah kebiasaan yang baik yang akan menciptakan kerukunan antar agama dan antar suku.
ADVERTISEMENT