Strategi Green Supply Chain MNC Nikel dan Transisi Energi Indonesia

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Nafa Rizky Ananda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika mendengar istilah “hijau”, banyak orang mungkin langsung mengaitkannya dengan lingkungan. Namun, konsep hijau memiliki makna yang jauh lebih luas. Tidak hanya berbicara tentang menjaga alam, tetapi juga mencakup berbagai upaya untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan, seperti beralih pada energi yang lebih bersih dan menekan emisi. Green Supply Chain Management (GSCM), sederhananya, GSCM merupakan pendekatan yang berusaha memasukkan aspek lingkungan ke dalam seluruh proses rantai pasok, bukan hanya pada tahap produksi. Pertimbangannya mencakup berbagai tahapan, mulai dari bagaimana bahan baku diperoleh, proses produksi dan distribusi, hingga bagaimana produk dikelola setelah digunakan (Fang & Zhang, 2018).
Dorongan akan penggunaan energi yang lebih bersih membuat permintaan global terus meningkat terhadap baterai dan kendaraan listrik. Dalam prosesnya, Indonesia memiliki posisi yang semakin penting dalam rantai pasok energi bersih global, terutama karena kekayaan sumber daya nikelnya. Nikel identik dengan industri baja, namun perkembangan kendaraan listrik membuat komoditas ini memiliki posisi baru dalam rantai pasok energi global. Nikel sebagai komponen yang dibutuhkan dalam ekosistem baterai kendaraan listrik, sehingga membuat industri nikel Indonesia semakin terhubung dengan agenda transisi energi dunia. Data dari OECD menunjukkan bahwa pada 2025 Indonesia menyumbang hampir 65 persen produksi nikel dunia dan sekitar 43 persen pengolahan nikel global.
Posisi tersebut membuat Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga semakin terlibat dalam proses pengolahan dan hilirisasi nikel (OECD, 2026). Besarnya posisi Indonesia dalam rantai pasok nikel tentu membuka peluang ekonomi yang besar. Namun, di balik peluang tersebut muncul pertanyaan. Seberapa ramah lingkungan sebenarnya rantai pasok nikel yang menjadi bagian dari transisi energi ini?
MNC dan Green Supply Chain Nikel
Keterlibatan perusahaan multinasional (MNC) membuat rantai pasok nikel Indonesia semakin terhubung dengan pasar global. Investasi tidak lagi berhenti pada pertambangan, tetapi bergerak menuju pemurnian, bahan baterai, produksi sel baterai, hingga kendaraan listrik. Salah satu contohnya adalah PT Hyundai LG Indonesia Green Power (HLI Green Power), perusahaan patungan Hyundai Motor Company, LG Energy Solution, dan Indonesia Battery Corporation. Pemerintah mencatat perusahaan tersebut mulai memproduksi baterai kendaraan listrik secara komersial pada April 2024. Investasi tahap pertamanya mencapai US$1,1 miliar dengan kapasitas produksi 10 GWh (BKPM, 2024).
Perkembangan ini menunjukkan perubahan arah industri Indonesia. Nikel tidak lagi sekadar keluar sebagai komoditas, tetapi mulai masuk ke rantai produksi baterai dan kendaraan listrik.
Dari Nikel ke Mobil Listrik
Menurut International Energy Agency (IEA), penjualan mobil listrik di dunia melampaui 20 juta unit pada 2025. Di Indonesia, penjualan mobil listrik bahkan meningkat lebih dari dua kali lipat dan mencapai sekitar 15 persen dari penjualan mobil baru pada tahun yang sama (IEA, 2026). Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa kendaraan listrik mulai masuk ke pasar Indonesia secara lebih serius. Pemerintah juga menggunakan berbagai kebijakan untuk mendorong produksi dan konsumsi kendaraan listrik, sementara produsen otomotif mulai memperluas produksi di dalam negeri. Artinya, mobilisasi kendaraan listrik di Indonesia kemungkinan akan terus berkembang. Tetapi pertanyaan berikutnya bukan sekadar berapa banyak mobil listrik yang terjual, melainkan apakah ekosistem pendukungnya juga berkembang.
Harga kendaraan, ketersediaan stasiun pengisian, kebijakan pemerintah, produksi lokal, serta sumber listrik yang digunakan semuanya ikut menentukan keberhasilan transisi.
Green SM dan Mobilitas Listrik
Perubahan tersebut mulai terlihat bukan hanya dari pabrik kendaraan, namun dilihat dari layanan transportasi sehari-hari yang memungkinkan dorongan akan transisi. Green SM, mengembangkan layanan taksi listrik dan pada September 2026 meluncurkan layanan motor listrik di Jakarta. Perusahaan menyebut layanan tersebut sebagai bagian dari pengembangan ekosistem transportasi berbasis listrik di Indonesia (Green SM, 2026). Kehadiran layanan seperti Green SM menarik karena masyarakat tidak harus memiliki kendaraan listrik sendiri untuk ikut menggunakan mobilitas berbasis listrik. Kendaraan listrik mulai ditempatkan sebagai bagian dari layanan transportasi yang digunakan sehari-hari.
Kendaraan listrik memang tidak menghasilkan emisi knalpot ketika digunakan. Tetapi manfaat lingkungannya juga berkaitan dengan bagaimana baterai diproduksi dan dari mana listrik yang digunakan berasal. Di sinilah hubungan antara MNC, nikel, green supply chain, dan kendaraan listrik menjadi penting. Jika produksi nikel masih menggunakan energi beremisi tinggi, sementara listrik untuk mengisi kendaraan juga masih banyak berasal dari energi fosil, maka proses transisi belum sepenuhnya hijau.
Green supply chain menuntut perusahaan memperhatikan keseluruhan proses, mulai dari sumber bahan baku, energi yang digunakan, proses produksi, transportasi, hingga pengelolaan limbah. Dalam industri nikel, persoalan energi menjadi sangat penting karena sebagian kegiatan pengolahan masih menggunakan pembangkit listrik berbasis batu bara. Bappenas bersama WRI Indonesia mencatat bahwa sumber emisi terbesar dalam industri nikel berasal dari pembangkit listrik captive berbasis batu bara. Karena itu, Peta Jalan Dekarbonisasi Industri Nikel Nasional menargetkan pengurangan emisi hingga 81 persen pada 2045 (Bappenas, 2025). Senior Climate Manager WRI Indonesia, Egi Suarga, menyebut bahwa “dekarbonisasi industri nikel adalah langkah awal dalam proses transformasi tata kelola” (Bappenas, 2025). hal ini memperlihatkan bahwa persoalan nikel bukan hanya tentang produksi, melainkan juga tentang bagaimana industri tersebut dikelola.
Indonesia Tidak Cukup Hanya Menjadi Produsen Nikel
Indonesia kini memiliki modal kuat untuk masuk lebih jauh ke ekosistem kendaraan listrik, mulai dari kekayaan nikel, investasi perusahaan multinasional, industri baterai, hingga berkembangnya produsen dan layanan mobilitas listrik. Namun memiliki tantangan untuk menghubungkan semuanya dalam satu rantai pasok yang lebih bersih. OECD menilai bahwa traceability atau keterlacakan menjadi salah satu persoalan penting dalam rantai pasok nikel. Keterlacakan diperlukan agar asal bahan baku dan proses yang dilaluinya dapat diketahui dengan lebih baik, terutama ketika tuntutan terhadap responsible sourcing semakin meningkat (OECD, 2026). Karena itu, strategi green supply chain bagi MNC di Indonesia seharusnya tidak berhenti pada penggunaan label “green”.
Perusahaan perlu lebih transparan mengenai proses produksi, tingkat emisi, sumber energi yang digunakan, hingga pengelolaan limbah. Upaya tersebut juga membutuhkan peran pemerintah melalui pengawasan dan kebijakan yang jelas. Hal ini sejalan dengan Peta Jalan Dekarbonisasi Industri Nikel Nasional yang menempatkan efisiensi energi dan material, penggantian bahan bakar, substitusi material, serta penggunaan listrik rendah karbon sebagai empat strategi utama (Bappenas, 2025). Dengan demikian, masa depan kendaraan listrik Indonesia sebenarnya dimulai jauh sebelum kendaraan tersebut berada di jalan. Ia dimulai dari tambang, smelter, pembangkit listrik, pabrik baterai, hingga akhirnya sampai kepada konsumen.
Indonesia sedang bergerak menuju era mobilitas listrik. Meningkatnya penggunaan kendaraan listrik dan hadirnya layanan transportasi berbasis listrik menunjukkan bahwa perubahan tersebut mulai berlangsung. Namun, keberhasilan transisi energi tidak cukup diukur dari semakin banyaknya kendaraan listrik di jalan. Rantai pasok di belakangnya juga harus semakin rendah emisi, transparan, dan bertanggung jawab. Di sinilah peran MNC, pemerintah, dan industri nasional menjadi penting. Jika ketiganya mampu mendorong rantai pasok nikel yang lebih berkelanjutan, Indonesia tidak hanya memiliki posisi sebagai produsen nikel, tetapi juga dapat memperkuat perannya dalam rantai pasok kendaraan listrik global. Pada akhirnya, tantangan Indonesia bukan sekadar memproduksi lebih banyak kendaraan listrik, melainkan memastikan bahwa jalan menuju kendaraan listrik tersebut juga benar-benar hijau.
Daftar Pustaka
Badan Koordinasi Penanaman Modal. (2024, March 9). Bukti nyata hilirisasi nikel, Indonesia siap produksi massal baterai kendaraan listrik pada April 2024. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM. https://share.google/nhGExKvxEqRvzK91i
Fang, C., & Zhang, J. (2018). Performance of green supply chain management: A systematic review and meta-analysis. Journal of Cleaner Production, 183, 1064–1081. https://doi.org/10.1016/j.jclepro.2018.02.171
Green SM. (2026, September 18). Green SM luncurkan layanan motor listrik di Indonesia, tandai pasar internasional pertamanya. Green SM. https://share.google/A89jUpC3C8fpIn9T4
International Energy Agency. (2026). Global EV outlook 2026: Trends in electric cars. IEA. https://share.google/3C5qBp3f971mteUIi
Kementerian PPN/Bappenas. (2025, June 12). Transisi energi berkelanjutan, Bappenas dan WRI Indonesia pastikan integrasi dekarbonisasi industri nikel. Kementerian PPN/Bappenas. https://share.google/zrkXNszgfQnmkLRZ5
OECD. (2026). Nickel: Enhancing resilience through traceability. OECD Publishing. https://share.google/rSPwXH7T31o02UNoC
