Jebakan Gulir Tak Bertepi

Lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nafiah Nur'aini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah Anda berniat mengecek notifikasi ponsel sebelum tidur—lima menit saja? Namun tanpa sadar, satu jam berlalu, dan pikiran Anda tenggelam dalam berita buruk, komentar pedas, serta perbandingan yang tak ada habisnya. Layar akhirnya dimatikan, tetapi kepala justru penuh dengan kecemasan.
Kebiasaan ini adalah cerminan dari dunia digital yang kian riuh, tempat ketenangan terasa semakin langka. Manusia yang dulunya mencari kedamaian di alam terbuka, kini makin terperangkap oleh kebisingan media sosial. Ketika ketenangan dunia nyata sulit dijangkau, layar ponsel pun menjadi pintu masuk menuju kecemasan tanpa ujung.
Media sosial, yang kini dapat diakses oleh hampir semua orang melalui ponsel, telah merajai rutinitas harian. Data We Are Social (2025) menyebutkan jumlah pengguna media sosial global mencapai 5,24 miliar. Pengguna di Indonesia bahkan menghabiskan rata-rata 188 menit per hari di platform digital, jauh melampaui rata-rata global. Mayoritas menggunakannya untuk mengisi waktu luang (39%) dan membaca berita (35%). Intensitas tinggi ini membuka celah lebar bagi timbulnya rasa cemas dan overthinking.
Kecemasan yang Dipelihara
Doomscrolling, kebiasaan menggulir media sosial tanpa henti, perlahan menjadi rutinitas harian. Jari terus beralih dari satu unggahan ke unggahan lain tanpa pernah merasa puas. Niat awal mencari hiburan justru berujung pada rasa terisolasi dan kecemasan.
Rentetan informasi yang bergerak cepat menghujani pikiran dalam hitungan detik. Kabar baik yang mendadak disusul berita duka menciptakan gejolak emosional. Penelitian Sabillillah dan Sutabri (2025) membuktikan bahwa paparan konten negatif di media sosial secara signifikan meningkatkan kecemasan, stres, hingga depresi.
Kondisi ini diperparah oleh kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Riset Patricia, dkk. (2024) mengungkapkan delapan dari sepuluh orang berusia 15-26 tahun merasa konten media sosial memengaruhi kesehatan mental mereka, terutama setelah melihat story pencapaian orang lain. Selain itu, mereka juga melaporkan peningkatan kecemasan yang dirasakan akibat penggunaan media sosial yang berlebihan (GoodStats, 16/10/2024).
Studi Pranata, dkk. (2023) mengkonfirmasi kerentanan Gen Z dalam mengalami kecemasan saat melihat kesuksesan teman atau tokoh yang mereka ikuti. Data-data ini memperjelas bahwa semakin sering kita terpapar kehidupan orang lain di media sosial, semakin besar dampak kecemasan dan ketidakpuasan yang kita rasakan.
FOMO dan Cermin Distorsi Media Sosial
Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) atau ketakutan tertinggal momen penting makin meluas. Survei McKinsey Health (2022) di 26 negara, termasuk Indonesia, menunjukkan sekitar dua dari sepuluh orang melaporkan perasaan negatif terkait FOMO. Ketakutan tertinggal ini pada akhirnya menambah beban psikologis yang sulit dilepaskan.
Meskipun menyadari bahwa etalase media sosial hanyalah cuplikan kebahagiaan terkurasi, rasa tidak cukup baik tetap kerap muncul. Survei Simanjuntak dan Putri (2023) menunjukkan enam dari sepuluh responden yang berasal dari kelompok emerging adulthood merasa cemas dengan penampilan diri mereka di Instagram. Bahkan, sebagian merasa perlu membuat akun palsu (fake account) demi menampilkan citra hidup yang dianggap sempurna. Keinginan tampil sempurna ini justru memperburuk ketidakpuasan diri.
Lalu, apa yang sebenarnya kita cari di balik gulir tak bertepi itu? Apakah kita berharap dapat menemukan kebahagiaan? Apakah kita dapat menemukan solusi? Atau justru semakin jauh dari kedamaian karena semakin banyak yang kita konsumsi? Di balik kebiasaan scrolling yang dilakukan terus-menerus, ada rantai ketidaktenangan yang semakin sulit untuk diputus. Informasi yang terus mengalir sering kali memperburuk perasaan kita, menciptakan pola pikir yang semakin rumit tanpa solusi.
Lelucon Palsu
Banyak orang bercanda tentang betapa overthinking-nya mereka setelah melihat media sosial. Ungkapan seperti “Lihat, hidup mereka sempurna, sedangkan aku masih begini-begini saja, haha” digunakan untuk menyamarkan krisis mental yang sedang dialami. Di balik humor tersebut, ada keletihan emosional yang sangat nyata.
Media sosial memberikan platform untuk berbagi kegelisahan, tetapi sering kali masalah tersebut tidak dibicarakan dengan serius. Sebaliknya, kita cenderung menyampaikannya dalam bentuk lelucon, seolah-olah itu hanya humor belaka. Padahal, di balik lelucon itu ada kenyataan yang berat, yakni kegelisahan terus meningkat seiring banyaknya postingan yang kita lihat.
Saatnya Berhenti Sejenak
Pelajaran penting dari fenomena doomscrolling adalah bahwa konsumsi informasi tanpa batas tidak akan pernah menghadirkan kedamaian. Kebisingan digital dan gejolak realitas yang terus mengalir menciptakan kelelahan mental yang tak kunjung usai.
Perlu dipahami bahwa mengambil jeda dari layar ponsel bukanlah bentuk ketidakpedulian atau sikap apatis terhadap realitas sosial yang terjadi. Sebaliknya, memberi ruang bagi pikiran untuk beristirahat adalah langkah krusial agar kita tidak kehilangan daya kritis dan tetap memiliki energi psikologis untuk merespons keadaan secara bijak.
