Memahami Laki-Laki Seperti di Film-Film

Seorang penulis kontributor asal Solo
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nafiuddin Fadly tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam beberapa hari ini, di TikTok ramai potongan video menteri PPPA yang mengatakan pemindahan gerbong perempuan di pindah ke tengah. Hal itu disampaikan setelah adanya kecelakaan KRL di Bekasi Timur. Semua, baik laki-laki dan perempuan berpikiran sama, “Oh, jadi kalau terjadi hal serupa biar laki-laki duluan yang kena imbasnya”.
Sudah pasti tidak ada yang sepakat dengan pernyataan bu menteri itu. Untungnya Pak AHY selaku Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan berbeda dalam responnya bahwa keselamatan untuk semua penumpang.
Pembahasan tentang laki-laki sebenarnya tidak hanya terjadi dalam sehari-hari. Melainkan juga dalam dunia perfilman Indonesia. Jika diperhatikan secara saksama, karakter laki-laki yang amoral belakangan ini sering muncul, khususnya untuk film drama keluarga. Tindakan buruk bisa bermacam-macam bentuknya seperti tukang selingkuh, KDRT, atau gagalnya menjadi sosok ayah.
Beberapa film yang bisa disebutkan seperti Ipar Adalah Maut, Norma: Antara Mertua dan Menantu, Bolehkah Sekali Saja Kumenangis, dan Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah. Tentu masih ada lagi yang kalau dimasukkan semua akan sangat banyak. Ini seperti semacam peringatan kalau jadi laki-laki harus becus.
Apakah ini semua kebetulan? Saya rasa tidak. Sebab laki-laki amoral memang benar-benar ada. Cerita laki-laki amoral ini sudah menjadi langganan dalam berita yang dapat dibaca melalui gadget. Kadang saya tidak tahan membaca beritanya sampai selesai.
Oke, Mari kita lepaskan dulu manusia-manusia tidak beradab tadi. Sekarang saatnya fokus ke laki-laki bermoral secara sejenak.
Di tengah tercorengnya nama laki-laki karena keberadaan orang-orang amoral tadi, terdapat pembahasan sisi lain laki-laki yang tidak kalah menarik. Ada hal yang cukup pelik yang dihadapi laki-laki pada umumnya.
Seperti sebuah narasi laki-laki yang sering dianggap kuat maka tidak boleh bersedih. Lalu laki-laki yang menangis sudah pasti lemah dan cengeng?
Saya mencoba menjawabnya dengan refleksi saya terhadap beberapa film yang pernah saya tonton. Film dengan tokoh utamanya laki-laki yang membuat saya tersentuh dan terharu. Tentang perjuangan, pengorbanan, dan kehilangan, semuanya campur aduk. Dengan begini, kita bisa semakin memahami laki-laki.
Tangisan seorang laki-laki
Sejak kecil laki-laki tidak boleh menangis. Menangis adalah tanda kelemahan laki-laki, setidaknya itulah yang diajarkan. Padahal menangis berguna untuk melepaskan emosi.
Akhirnya ini berdampak pada pengelolaan emosi. Laki-laki yang tidak melepaskan air mata, lambat laun akan meledak di kepala. Jika terus berulang akan menyebabkan depresi. Namun, ada saat-saat seorang laki-laki memang harus menangis karena tak kuasa melawan keadaan.
“Don’t let me leave, Murp!”, ucap seorang Ayah kepada puterinya sambil menangis saat terjebak dalam dimensi waktu luar angkasa. Kisah ini saya ambil dari film Interstellar yang dibuat oleh Christopher Nolan. Betapa menyesalnya seorang ayah yang terpaksa meninggalkan putrinya untuk berpetualang ke luar angkasa, walaupun juga untuk menyelamatkan umat manusia.
Kisah lain yang tak kalah sedihnya adalah film The Pursuit of Happyness. Seorang Ayah yang diperankan oleh Will Smith terpaksa tidur semalaman di kamar mandi stasiun kereta api bersama anaknya yang masih kecil karena sudah tidak punya tempat tinggal lagi. Saat itu juga sang Ayah meneteskan air matanya.
Ada kalanya meluapkan kemarahan
Jika sebelumnya seorang laki-laki mengalami kesedihan, kali ini ada waktunya laki-laki meluapkan kemarahan. Seorang yang sudah tersakiti berkali-kali mau tak mau mengeluarkan emosi panas tersebut. Jika tidak dikeluarkan amarahnya, bisa saja akan lebih sakit dalam dirinya.
Di film What’s Eating Gilbert Grape, ada adegan seorang kakak yang diperankan Johnny Depp memukul adiknya berkebutuhan khusus yang sulit diatur. Sang kakak mungkin sudah muak dan jenuh karena harus merawat keluarganya yang tidak seperti pada umumnya secara terus menerus. Saya merasakan getirnya saat menonton adegan tersebut.
Kemudian, dalam film Tunggu Aku Sukses Nanti, Arga harus marah-marah di hadapan seluruh kerabatnya lantaran selalu dibandingkan dengan pencapaian sepupunya yang tak pernah usai. Arga juga merasa gagal karena belum bisa mengangkat derajat sekaligus harga diri keluarganya sehingga ayah dan ibunya bisa disuruh-suruh oleh tantenya.
Lari dari kenyataan untuk sementara waktu
Saat ingin istirahat dari penatnya masalah hidup, seorang laki-laki mungkin pergi memancing atau melamun di kursi besi Indomaret. Namun berbeda bagi Forrest Gump yang diperankan oleh Tom Hanks. Yang dilakukan hanya lari, lari, dan lari setelah terjadi masalah percintaan.
Memang sih, bisa dibilang aneh. Toh, setidaknya Forrest Gump tidak mengalami depresi. Berkat larinya yang tanpa henti, pikirannya terdistraksi dan tidak berfokus pada permasalahan yang mengganggu di kepala. Bagusnya, Forrest Gump tidak berpikir untuk bunuh diri sama sekali.
Pada akhirnya, laki-laki adalah seorang manusia juga. Mereka memang dituntut untuk kuat. Namun, ada saatnya laki-laki juga merasa tidak kuat terhadap semua permasalahan. Mereka harus mencari caranya sendiri untuk mengelola emosi tanpa diberitahu. Semua ini agar tidak terjatuh ke dalam depresi dan yang lebih jauh lagi tidak melompat dari jembatan sungai.
