Ketika AI Menjadi Pendengar, dan Manusia Kehilangan Ruang untuk Mendengar

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nafisah Tufailah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Mengapa Banyak Orang Memilih Curhat kepada AI?

Curhat kepada AI bukan lagi fenomena yang asing. Semakin banyak orang memilih berbicara dengan kecerdasan buatan ketika merasa tidak memiliki ruang aman untuk bercerita. Ada momen tertentu di mana seseorang tidak ingin solusi. Mereka hanya ingin didengar.
Fenomena ini bukan lagi sekadar pengalaman individu, tetapi telah menjadi fenomena yang didukung berbagai penelitian. Riset Kaspersky bertajuk My AI Friend yang dilansir Periskop.id (2026) mengungkap bahwa 31 persen responden menyebut AI sebagai pendengar yang siap 24 jam tanpa prasangka, dan 35 persen Gen Z dan Milenial mengaku nyaman menggunakan AI sebagai teman bicara untuk masalah personal. Sementara itu, penelitian Putri et al. (2025) yang diterbitkan dalam JITSS terhadap 330 responden menemukan bahwa 72 persen merasa nyaman berinteraksi dengan AI sebagai teman virtual.
Fenomena ini tidak dapat dilihat semata-mata sebagai masalah ketergantungan teknologi. Namun, sebelum membahas risikonya, ada satu pertanyaan yang perlu dijawab terlebih dahulu: mengapa jutaan orang merasa lebih aman bercerita kepada mesin daripada kepada manusia?
Penelitian sosiologi digital Syafawani et al. (2025) yang diterbitkan dalam Jurnal Sosial dan Sains terhadap pengguna ChatGPT di Indonesia menemukan jawabannya. Faktor utama orang memilih AI sebagai teman curhat adalah persepsi non-judgemental, validasi emosi, ketersediaan 24 jam, dan rasa aman terhadap privasi. Bukan karena AI lebih pintar atau lebih empatik dari manusia. Namun, berbagi cerita dengan manusia, bahkan yang paling dekat sekalipun, sering kali dibayangi kecemasan: takut dicap lemah, khawatir rahasia bocor, atau cemas mendapat respons yang menghakimi.
Ini bukan cerminan dari kehebatan teknologi. Ini adalah cerminan dari betapa banyak orang yang tidak menemukan ruang aman di dunia nyata mereka.
Dalam ilmu komunikasi, terdapat teori Spiral of Silence yang dikemukakan Elisabeth Noelle-Neumann (1974). Teori ini menjelaskan bahwa individu cenderung diam ketika merasa suaranya tidak akan diterima oleh mayoritas. Ketika seseorang takut dihakimi oleh teman, takut merepotkan keluarga, atau takut dianggap lemah oleh lingkungannya, mereka memilih diam. Dan diam itu bisa menjadi beban yang sangat berat.
AI hadir dan mengisi kekosongan tersebut. Tanpa prasangka, tanpa kelelahan, dan tanpa ekspektasi balik. Bagi seseorang yang sedang terjebak dalam spiral kebungkaman, AI bisa menjadi titik awal untuk kembali mengenali apa yang sebenarnya mereka rasakan. Dalam konteks ini, AI tidak perlu dipandang sebagai pengganti manusia, melainkan sebagai cermin sementara, tempat seseorang bisa mendengar dirinya sendiri ketika tidak ada yang mau mendengar.
Risiko Ketergantungan Emosional pada AI
Namun, risiko dari fenomena ini juga tidak bisa diabaikan. Putri et al. (2025) mencatat bahwa 30,2 persen responden sendiri sudah mengakui ketakutan akan ketergantungan emosional pada AI. Dan kekhawatiran itu tidak berlebihan. Penelitian Syafawani et al. (2025) menemukan bahwa ketergantungan berlebihan berpotensi memperlebar jarak sosial, memicu ketergantungan emosional, mengaburkan realitas relasi sosial, serta meningkatkan risiko kebocoran data.
Paradoksnya memang tajam. Kita lari ke AI karena kesepian, tetapi terlalu sering lari ke AI justru membuat kita semakin kesepian. Riset Kaspersky sendiri memperingatkan bahwa ketika validasi instan dari AI terasa terlalu mudah, ada risiko kita perlahan menjauh dari relasi manusia yang sesungguhnya, yaitu hubungan yang memang menuntut waktu, empati, dan usaha (Periskop.id, 2026). Di sisi lain, seluruh isi percakapan yang kita ketikkan, mulai dari masalah keluarga, kondisi mental, hingga nama orang lain, tersimpan di server perusahaan teknologi dan berpotensi digunakan untuk melatih model AI atau, dalam skenario terburuk, bocor.
Maka pertanyaannya bukan "apakah kita boleh curhat ke AI?", melainkan "mengapa kita tidak punya cukup ruang aman di dunia nyata untuk melakukan itu?"
Jika sebagian besar dari kita merasa lebih nyaman bercerita kepada mesin daripada kepada manusia, itu bukan masalah individu yang terlalu sensitif. Itu adalah masalah kolektif. Keluarga yang tidak terlatih mendengar tanpa langsung menasihati. Teman yang terlalu sibuk dengan masalahnya sendiri. Kampus yang menyediakan konselor tetapi tidak membangun kultur di mana datang ke konselor terasa normal. Semua itu adalah infrastruktur dukungan emosional yang belum kita bangun dengan serius.
AI boleh menjadi ruang sementara untuk bernapas. Namun, AI tidak bisa dan tidak seharusnya menjadi satu-satunya tempat seseorang merasa didengar. Karena apa yang paling kita butuhkan untuk benar-benar dilihat, dipahami, dan diterima pada akhirnya hanya bisa diberikan oleh manusia.
Fenomena curhat kepada AI menunjukkan bahwa kebutuhan manusia untuk didengar sering kali belum terpenuhi dalam hubungan sosial di dunia nyata. AI memang dapat menjadi ruang sementara untuk mengekspresikan perasaan, tetapi tidak dapat menggantikan hubungan antarmanusia yang dibangun melalui empati, kepercayaan, dan keterhubungan emosional. Karena itu, persoalan utamanya bukan terletak pada keberadaan AI, melainkan pada masih kurangnya ruang aman yang memungkinkan seseorang bercerita tanpa takut dihakimi. Pada akhirnya, tantangan yang dihadapi bukanlah bagaimana membuat teknologi semakin manusiawi, melainkan bagaimana membuat manusia kembali mampu menjadi pendengar bagi sesamanya.
