Konten dari Pengguna

Fenomena Synesthesia: Ketika Mengalami Sensasi Berbeda dengan Orang pada Umumnya

Nafisha Agatha

Nafisha Agatha

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nafisha Agatha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber ; https://unsplash.com/photos/58Z17lnVS4U?
zoom-in-whitePerbesar
Sumber ; https://unsplash.com/photos/58Z17lnVS4U?

Dalam kehidupan sehari-hari kita pasti membutuhkan panca indera yang kita miliki untuk melakukan aktivitas, mata untuk melihat berbagai pemandangan, hidung untuk mencium aroma, telinga untuk mendengar suara, dan lidah untuk merasakan makanan. Namun, ternyata ada sebuah kondisi ketika kita dapat merasakan objek yang dirasakan oleh satu panca indera, tetapi dengan menggunakan panca indera yang lainnya. Seperti kita dapat merasakan asam di dalam mulut kita ketika melihat buah lemon di atas meja.

Kejadian seperti ini dinamakan synesthesia, yaitu proses terjadinya persilangan antara indera yang satu dengan indera lainnya yang disebabkan oleh pertukaran informasi tentang objek yang dapat dirasakan oleh indera tesebut. Kondisi ini dapat terjadi karena individu memiliki kelainan Neurologi, sehingga menyebabkan pengidapnya mengalami kondisi di mana persepsi panca indera seseorang tercampur. Kondisi Neurologi ini menyebabkan otak mengolah data menggunakan beberapa indera sekaligus. Hal ini secara otomatis dan tidak sadar dapat memicu sensasi lainnya pada saat seorang individu mendapat stimulasi pada sensorik tertentu.

Pada fenomena synesthesia, persepsi yang dihasilkan dari persilangan beberapa panca indera akan menghasilkan suatu persepsi baru yang kemudian menjadi persepsi asing. Hal ini dapat terjadi karena persepsi yang biasanya sudah dikenali berubah menjadi abstrak ketika diolah oleh individu dengan synesthesia. Oleh karena itu, proses mengolah informasi dari panca indera inilah yang dapat membuat kebanyakan orang akan sangat sulit untuk memahami persepsi individu dengan synesthesia.

Synesthesia dapat terjadi sejak lahir dan berkembang di masa kanak-kanak. Kondisi ini juga dapat diwariskan secara genetik. Kelainan synesthesia ini dapat terjadi karena para penderita mempunyai hubungan antar-bagian otak yang lebih kuat, semakin kuat hubungan antar-bagian otak dimana satu kegiatan di bagian otak dapat menyebabkan terjadinya pergerakan kegiatan di bagian otak yang lain.

Kemudian, penyebab lain dari synesthesia adalah bagian dari saraf pusat yang tidak seimbang, yaitu inhibisi yang bertugas sebagai penghambat dan eksitasi yang bertugas memberi rangsangan. Terdapat beberapa zat yang dapat menyebabkan terjadinya synesthesia sementara, yaitu penggunaan obat-obatan psikedelik yang dapat meningkatkan dan menghubungkan pengalaman sensorik seperti Mescaline, Psilocybin, dan LSD. Selain itu, Ganja, alkohol, bahkan kafein juga telah terbukti dapat menyebabkan synesthesia sementara.

Menurut American Psychological Association (APA), kelainan synesthesia ini jarang terjadi, hanya terjadi pada sekitar 1 dari 2.000 orang. Synesthesia lebih banyak dialami oleh orang-orang yang sering menggunakan panca indera nya secara kolektif untuk melakukan pekerjaan. Persentasenya hanya sekitar 20 hingga 25 persen orang, menurut Psychology Today.

Terdapat beberapa jenis synesthesia yang sudah terdiagnosis di antaranya, yaitu :

  1. Colored grapheme synesthesia, adalah kondisi synesthesia yang paling umum terjadi, di mana penderita yang mengalami gangguan ini memiliki persamaan tanggapan terhadap angka dan huruf yang dihubungkan dengan pengalaman melihat warna melalui mata

  2. Chromesthesia, yaitu jenis synesthesia di mana pengidap yang terdiagnosa akan memiliki persamaan persepsi terhadap suara dan warna, artinya terjadi persilangan antara mata dan telinga

  3. Number form, yaitu jenis synesthesia di mana pengidap gangguan ini akan membayangkan sebuah peta mental ketika otaknya berpikir tentang angka. Penderita dengan jenis synesthesia ini mungkin akan memiliki perbedaan dalam konsep peta angka

  4. Auditory-tactile synesthesia, adalah jenis synesthesia di mana penderitanya bisa merasakan suara dan menerima informasi bahwa hal itu adalah sebuah sentuhan atau rangsangan di kulit, hal ini terjadi karena persilangan persepsi antara telinga dan kulit

  5. Ordinal linguistic personification, adalah suatu jenis synesthesia di mana pengidapnya dapat mengaitkan kepribadian dan jenis kelamin secara berurutan, urutan yang digunakan dapat berupa bulan, angka, atau hari. Synesthesia dengan jenis ini muncul bersamaan dengan colored grapheme synesthesia

  6. Mirror-touch synesthesia, adalah sebuah kondisi di mana penderita mengamati orang lain dan dapat merasakan perasaan yang dialami oleh orang yang sedang diamati. Sehingga penderita synesthesia jenis ini dianggap memiliki rasa kepedulian dan empati yang tinggi

  7. Lexical-gustatory synesthesia, adalah jenis synesthesia di mana seseorang dapat merasakan perasaan tertentu setelah dia menerima informasi berupa mendengar suatu kata, pengidap synesthesia jenis ini kurang lebih hanya 0,2 persen populasi dunia

Orang-orang dengan synesthesia biasanya disebut dengan synesthetes. Para synesthetes biasanya tidak mengetahui bahwa yang mereka alami ini merupakan hal yang tidak terjadi pada orang lain sampai mereka sendiri sadar bahwa orang lain tidak menyadari sensasi sensorik yang sama dengan mereka.

Synesthesia bukanlah suatu penyakit yang merugikan dan juga tidak mengganggu selama para pengidapnya dapat melakukan kontrol dan menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut. Sehingga, tidak ada pengobatan untuk kondisi ini. Karena pada umumnya synesthesia ini dapat membuat penderitanya menjadi memiliki sisi kreatif yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kebanyakan orang, mereka juga dapat menggunakan kemampuan mereka untuk mempermudah dalam mengingat, dan menikmati kondisi ini.

Referensi :

Cytowic, R. E. (2002). Synesthesia: a union of the senses (2nd edition). MIT Press.

Goenawan, L. A. (2020, Januari 29). Mengenal synesthesia, ketika suara memiliki warna. https://www.rspondokindah.co.id/id/news/mengenal-synesthesia--ketika-suara-memiliki-warna