Konten dari Pengguna

Tidak Asik Kalau Menolak? Menguliti Dehumanisasi Perempuan dalam Tongkrongan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nahdah Maritza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://unsplash.com/id/foto/para-pengunjuk-rasa-memegang-spanduk-tentang-dekolonisasi-dan-pembebasan-uGHnX20g_mk?utm_source=unsplash&utm_medium=referral&utm_content=creditShareLink
zoom-in-whitePerbesar
https://unsplash.com/id/foto/para-pengunjuk-rasa-memegang-spanduk-tentang-dekolonisasi-dan-pembebasan-uGHnX20g_mk?utm_source=unsplash&utm_medium=referral&utm_content=creditShareLink

“Ah, cuma bercanda.”

Kalimat ini mungkin terdengar ringan, bahkan akrab di telinga. Ia sering muncul di tongkrongan, di grup chat, atau dalam obrolan santai sehari-hari. Namun, di balik kesederhanaannya, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: sampai sejauh apa sebuah candaan tetap bisa disebut candaan?

Tongkrongan sering dianggap sebagai ruang paling jujur dalam kehidupan sosial—tempat di mana individu merasa bebas dari tuntutan formal, bebas dari norma kaku, dan bisa mengekspresikan diri tanpa banyak filter. Di sana, tawa menjadi bahasa utama, dan kedekatan diukur dari seberapa jauh seseorang bisa “masuk” dalam pola komunikasi kelompok. Namun, justru dalam ruang yang dianggap paling santai dan egaliter ini, terdapat dinamika yang jarang disadari: bagaimana candaan, kebiasaan, dan pola interaksi sehari-hari secara perlahan membentuk cara pandang terhadap orang lain, khususnya perempuan. Apa yang tampak sepele dan tidak berbahaya, dalam jangka panjang bisa menjadi fondasi dari cara berpikir yang problematis.

Prosesnya tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia dimulai dari hal-hal kecil yang tampak biasa: komentar tentang penampilan, penilaian terhadap tubuh perempuan, atau candaan ringan yang mengaitkan perempuan dengan stereotip tertentu. Semua itu hadir dalam bentuk yang cair, sering kali dibungkus sebagai humor yang tidak perlu dianggap serius. Karena disampaikan dalam suasana santai, ia tidak memicu resistensi. Tidak ada interupsi, tidak ada koreksi. Sebaliknya, ia justru disambut dengan tawa, yang kemudian berfungsi sebagai bentuk legitimasi sosial. Dari sinilah pola mulai terbentuk—bahwa membicarakan perempuan dengan cara tertentu adalah sesuatu yang bisa diterima.

Dalam banyak tongkrongan, baik yang berlangsung secara langsung maupun di ruang digital, eksploitasi simbolik terhadap tubuh perempuan perlahan menjadi semacam “bahasa bersama”. Ia tidak lagi dianggap sebagai penyimpangan, melainkan bagian dari dinamika keakraban itu sendiri. Semakin berani seseorang melontarkan komentar yang vulgar atau provokatif, semakin besar kemungkinan ia mendapatkan respons berupa tawa atau pengakuan dari anggota lain. Dalam kondisi ini, batas antara humor dan penghinaan menjadi semakin kabur. Apa yang seharusnya problematis justru mendapatkan validasi sosial, dan karena itu terus direproduksi tanpa disadari.

Situasi menjadi lebih kompleks ketika ada individu yang merasa tidak nyaman dengan pola tersebut. Alih-alih mendapatkan ruang untuk menyuarakan keberatan, mereka justru sering dihadapkan pada mekanisme sosial yang menekan. Label seperti “tidak asik”, “terlalu sensitif”, atau “tidak mengerti bercanda” menjadi alat untuk mendisiplinkan individu agar tetap sejalan dengan norma kelompok. Pada titik ini, persoalannya tidak lagi sekadar tentang isi candaan, tetapi tentang bagaimana kelompok mempertahankan homogenitas sikap. Tekanan untuk konformitas membuat banyak orang memilih diam, bahkan ketika mereka sebenarnya tidak setuju. Diam ini, pada akhirnya, ikut memperkuat sistem yang ada.

Fenomena ini dapat dipahami melalui cara kerja kekuasaan yang tidak selalu hadir dalam bentuk larangan atau hukuman, tetapi justru bekerja secara halus melalui relasi sehari-hari, bahasa, dan kebiasaan. Seperti yang dijelaskan oleh Michel Foucault, kekuasaan bukan sesuatu yang dimiliki oleh satu pihak dan dipaksakan kepada pihak lain, melainkan sesuatu yang tersebar dan diproduksi dalam interaksi sosial. Dalam konteks tongkrongan, kekuasaan itu hadir dalam bentuk yang sangat subtil: dalam apa yang dianggap lucu, dalam apa yang boleh dikatakan, dan dalam bagaimana respons diberikan terhadap suatu candaan.

Lebih jauh, dalam pemikiran Michel Foucault, terdapat gagasan bahwa individu secara tidak sadar “mendisiplinkan” diri mereka sendiri agar sesuai dengan norma yang berlaku. Hal ini terlihat ketika anggota tongkrongan menyesuaikan cara bicara mereka agar tetap diterima, atau ketika seseorang memilih untuk ikut tertawa meskipun merasa tidak nyaman. Tidak ada paksaan langsung, tetapi ada pengawasan sosial yang bekerja secara implisit—membentuk perilaku tanpa perlu instruksi eksplisit. Inilah yang membuat praktik-praktik problematis bisa terus berlangsung tanpa terasa sebagai paksaan.

Dampak dari proses ini tidak berhenti pada level bahasa. Ia berlanjut pada cara pandang yang lebih dalam terhadap perempuan sebagai manusia. Ketika tubuh perempuan terus-menerus dijadikan objek diskusi, penilaian, dan candaan, maka perlahan identitasnya sebagai subjek yang utuh mulai tergerus. Perempuan tidak lagi dilihat sebagai individu dengan pengalaman, pikiran, dan agensi, melainkan direduksi menjadi sesuatu yang bisa dinilai secara visual dan dikonsumsi secara simbolik. Pada tahap inilah, kita bisa melihat gejala dehumanisasi—ketika kemanusiaan seseorang dipersempit hanya pada aspek tertentu yang dianggap menarik atau layak dibicarakan.

Yang membuat fenomena ini semakin kompleks adalah fakta bahwa banyak pelaku tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang salah. Mereka tidak melihat diri mereka sebagai pembenci perempuan, tidak merasa memiliki niat buruk, dan sering kali menganggap semua itu sebagai bagian dari interaksi sosial yang wajar. Inilah yang membuat misogini dalam konteks ini sulit dikenali. Ia tidak hadir sebagai kebencian yang eksplisit, tetapi sebagai kebiasaan yang dinormalisasi. Ia hidup dalam tawa, dalam candaan, dalam percakapan sehari-hari yang tampak ringan.

Dalam sistem seperti ini, setiap individu menjadi bagian dari mekanisme yang lebih besar. Bahkan mereka yang tidak aktif berpartisipasi pun tetap terlibat melalui sikap diam. Ketika tidak ada yang menantang atau mempertanyakan, maka pola tersebut akan terus berjalan tanpa gangguan. Ini menunjukkan bahwa misogini bukan hanya persoalan individu, tetapi juga persoalan struktur sosial yang direproduksi secara kolektif. Tongkrongan, yang seharusnya menjadi ruang aman untuk saling menghargai, justru bisa berubah menjadi ruang yang melanggengkan cara pandang yang merendahkan.

Pertanyaannya kemudian menjadi penting: sampai kapan hal-hal seperti ini akan terus dianggap sebagai sesuatu yang biasa? Jika candaan selalu dijadikan pembenaran, maka batas antara yang pantas dan tidak pantas akan terus bergeser. Apa yang dulu mungkin terasa tidak nyaman, lama-kelamaan akan dianggap normal. Dan ketika sesuatu sudah menjadi normal, ia tidak lagi dipertanyakan.

Mungkin, langkah awal yang bisa dilakukan bukan dengan langsung menghakimi, tetapi dengan mulai menyadari dan mempertanyakan pola yang ada. Mengapa candaan tertentu terasa lucu? Siapa yang diuntungkan dari pola tersebut? Dan siapa yang, secara diam-diam, dirugikan? Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini, kita mulai membuka ruang untuk melihat bahwa tidak semua yang ditertawakan itu netral.

Karena pada akhirnya, di balik tawa yang terdengar ringan, sering kali tersembunyi cara pandang yang jauh lebih dalam—cara pandang yang, tanpa disadari, membentuk bagaimana kita memperlakukan manusia lain.