Konten dari Pengguna

Cerpen: Tuhan, Mengapa Aku Berbeda?

Nahdatunnisa

Nahdatunnisa

Undergraduate Communications Science Student at Universitas Padjadjaran

·waktu baca 5 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nahdatunnisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar ini merupakan ilustrasi AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar ini merupakan ilustrasi AI

Hai, perkenalkan namaku Syifa. Aku seorang gadis berusia 15 tahun yang hidup dengan keterbatasan fisik, yaitu tidak bisa berbicara. Keseharianku untuk berkomunikasi hanya menggunakan bahasa isyarat. Sungguh melelahkan dan melepas tenaga. Bahkan, pernah sekali aku marah kepada Tuhanku.

Mengapa aku berbeda, Tuhan?

Tidak seperti teman-temanku di luar sana yang bisa menikmati kesempurnaan fisik dan kehidupan. Memang, hidup tidak ada yang benar-benar sempurna, tetapi aku merasa hidupku paling jauh dari kata sempurna. Aku bukan hanya memiliki keterbatasan fisik, tetapi juga tidak memiliki keluarga yang utuh. Ya, benar sekali, aku dititipkan di sebuah yayasan panti asuhan khusus anak-anak luar biasa.

Oh, sungguh malangnya hidupku. Apa yang harus kulakukan dan kunikmati dalam hidup ini di atas keterbatasan fisikku? Aku ingin berkomunikasi dengan teman-teman layaknya orang normal, Tuhan. Aku ingin hidup dengan penuh kebahagiaan. Lontaran kata-kata seperti ini sering kuucapkan dalam hatiku dan kucurahkan dalam diam.

Dari sini aku mulai merasa lelah dengan amarahku sendiri. Aku beranjak ke kasur asrama dengan isakan tangis yang membasahi wajah. Tak lama kemudian, mataku terasa berat hingga aku tertidur tanpa sadar. Suasana malam yang didukung suara percikan hujan membuat tidurku terasa sangat nyenyak dan membawaku ke dalam sebuah mimpi.

Mimpi itu terasa sangat absurd dan belum pernah kualami sebelumnya. Di dalam mimpi, aku menari dengan gerakan gemulai di atas panggung besar layaknya konser Afgan. Sorakan penonton yang meriah membuatku tersanjung dan malu berekspresi. Semua terasa sangat nyata, dan aku merasa sangat bahagia saat menampilkan seni tari dalam mimpi tersebut.

Jederr!

Suara petir menyambar di sekitar yayasan. Aku terkejut dan langsung terbangun dari mimpi. Huh, ternyata hanya mimpi. Kukira itu adalah kehidupan nyata yang sedang kujalani. Dari sini aku mulai berpikir bahwa hidupku terlalu pasrah dan kosong. Aku merasa tidak memiliki kemampuan, bakat, ataupun kelebihan yang bisa kutekuni.

Aku termenung di depan jendela sambil memandangi hujan yang mengguyur tanaman di halaman yayasan. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.

Tok… tok… tok…

“Syifaa…”

Segera aku membuka pintu. Ternyata seorang gadis bernama Mulan berdiri di hadapanku.

Mulan adalah seseorang yang memiliki keterbatasan fisik lebih berat dariku. Ia terlahir tanpa kedua tangan dan hanya memiliki kaki untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Bahkan, pintu yang diketuknya pun menggunakan kaki. Dengan bahasa isyarat, aku bertanya,

“Ada apa, Mulan?”

Ia menjawab, “Tidak apa-apa, Syifa. Aku hanya ingin mengobrol denganmu.”

“Tentu saja boleh. Ayo masuk ke kamarku,” jawabku.

Aku dan Mulan pun mengobrol dengan asyik, menceritakan keseharian dan keluh kesah hidup. Ada satu cerita yang sangat menarik perhatianku. Mulan bercerita tentang hobinya yang telah ia tekuni selama kurang lebih tiga bulan. Hobinya adalah melukis. Aku terkejut mendengarnya karena tidak pernah terbayang seorang yang tidak memiliki tangan dapat melukis dengan lihai.

Aku pun bertanya, “Bagaimana caramu melukis, Mulan, sedangkan kamu tidak memiliki tangan?”

Mulan tersenyum dan menjawab, “Aku melukis dengan kakiku, Syifa.”

Aku sangat terkejut mendengarnya. Membayangkan menulis dengan tangan kiri saja sudah sulit, apalagi melukis menggunakan kaki. Mulan lalu menceritakan bagaimana awal mula ia menggeluti seni lukis. Sejak lama ia tertarik pada seni dan sering melihat seniman-seniman hebat yang karyanya dikenal banyak orang. Hal itu membuatnya termotivasi.

Awalnya, Mulan mencoba menggambar di kertas dan mewarnainya menggunakan krayon dengan kaki kanannya. Ia merasa sangat senang melakukannya. Waktu luangnya pun diisi dengan kegiatan menggambar dan mewarnai. Kemudian, Mulan mulai beralih menggunakan kanvas dan cat air yang disediakan oleh yayasan, tepatnya di ruang seni.

Hampir setiap hari Mulan melukis, meskipun sering kali hasilnya belum memuaskan. Namun kegagalan tidak membuatnya menyerah. Ia terus mencoba hingga akhirnya menemukan kepuasan dalam setiap karyanya. Hingga suatu saat, lukisannya dipamerkan dan dilombakan dalam sebuah pameran seni. Tak disangka, karya Mulan meraih juara pertama karena keindahan dan tema yang diangkat. Aku sangat terharu mendengar ceritanya.

Cerita Mulan membuatku termotivasi untuk menemukan bakat dan kemampuan dalam diriku. Setelah mengobrol cukup lama, Mulan kembali ke kamar asramanya. Aku pun kembali merenung. Tiba-tiba mimpi tentang menari kembali terlintas di pikiranku.

Haruskah aku mencoba masuk sanggar tari yayasan?

Awalnya aku ragu, tetapi aku berpikir, tidak ada salahnya mencoba, seperti Mulan yang berani berjuang hingga berhasil.

Keesokan harinya, aku mendatangi pengurus yayasan untuk menanyakan apakah aku bisa mendaftar ke sanggar tari. Pengurus yayasan menyambutku dengan sangat antusias.

“Tentu saja bisa, Syifa. Silakan isi formulir ini,” ucapnya.

Aku pun mengisi formulir tersebut dengan lengkap.

“Besok kamu sudah bisa mulai latihan di sanggar,” kata pengurus yayasan.

“Baik, Bu,” jawabku.

Hari pertama latihan terasa sangat menyenangkan. Aku menekuni tarian dengan sungguh-sungguh. Hari demi hari berlalu, dan aku terus berlatih setiap hari. Hingga akhirnya aku mengikuti sebuah pentas seni tari tingkat nasional. Para pengurus yayasan merasa bangga melihatku menampilkan tarian tunggal di panggung tersebut.

Saat pengumuman tiba, aku tak menyangka berhasil meraih juara pertama dengan nilai tertinggi. Rasa syukur tak henti-hentinya kupanjatkan kepada Tuhan. Kebanggaan dan haru juga dirasakan oleh para pengurus yayasan serta teman-teman yang mendukungku.

Sesampainya di asrama, aku memandangi piala yang kuraih sambil melamun. Aku teringat kembali semua pertanyaan dan amarah yang pernah kulontarkan kepada Tuhan.

Apakah ini jawaban dari semua pertanyaanku? gumamku.

Aku terisak sambil menyadari bahwa Tuhan telah memberiku makna hidup yang sangat indah. Aku sadar bahwa Tuhan selalu memberikan kemampuan kepada setiap manusia sesuai porsinya masing-masing. Inilah anugerah terindah yang Tuhan berikan kepadaku. Melalui menari, hidupku menjadi lebih berwarna.

Kini aku belajar mensyukuri dan menerima dengan ikhlas apa yang telah Tuhan berikan. Semua perjalanan hidup ini menjadi pelajaran terbaik bagiku, untuk sekarang dan selamanya.