Dari Sukarela hingga Pahlawan: Rahasia Kesiap-Siagaan Lifeguard Melawan Bencana

Undergraduate Communications Science Student at Universitas Padjadjaran
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Nahdatunnisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pantai Pangandaran, khususnya Pantai Barat, bukan hanya destinasi wisata yang memukau dengan pasir putih dan ombaknya yang ganas. Di balik keindahan itu, tersembunyi kisah para pahlawan tak dikenal yang siap siaga menjaga keselamatan pengunjung. Salah satunya adalah seorang lifeguard senior yang telah mengabdi diri sejak 2002. beliau menceritakan perjalanan panjang dari sukarela hingga menjadi bagian integral tim penyelamat.
Lifeguard di Pangandaran bukan sekadar penjaga pantai biasa. Mereka berasal dari lembaga bernama Balawista, yang lahir dari tradisi penyelamat wisata air (Tirta) di Bali. “Balawista ini adalah nama lembaganya. Kami lahiran dari Balawista Bali,”jelasnya. Perbedaanya jelas: Balawista lebih luas, mencakup penyelamatan di laut, sungai, dan kolam, dengan fokus pada keselamatan wisatawan dan masyarakat.
Sebelum adanya lifeguard, Pantai Pangandaran dikenal sebagai zona bahaya. Angka kecelakaan tinggi, terutama saat hari libur, dengan banyak korban terseret arus hingga meninggal. “Dulu itu angka kecelakaan sungguh-sungguh signifikan,”kenangnya. Balawista dimulai sebagai inisiatif sukarela dari masyarakat peduli, penyelam, relawan, bahkan nelayan. Dari nol, organisasi ini berkembang hingga mendapat perhatian pemerintah. Lifeguard seperti Pak liano ini adalah ujung tombaknya, memberikan keselamatan kepada petugas dan wisatawan.
Perjalanan Bapak Liano: Dari 2002 hingga kini
Bapak Liano bergabung dengan Balawista pada 2002 sebagai sukarela, dan diangkat resmi pada 2007. Apa yang membuatnya tertarik? Bukan sekadar menolong, melainkan mencegah. “kenapa saya tertarik dengan lifeguard? Di sini tentang bagaimana kita mengantisipasi atau meminimalisir angka kecelakaan,”ungkapya. Beliau menjalani pelatihan bertahap, mirip kurikurum pendidikan: dari dasar hingga lanjutan, untuk membangun keterampilan dan mental.
Pengalamanya penuh tantangan. Ia pernah menyelamatkan nyawa hingga titik di mana korban hampir menyerah. “kita bangganya itu ketika ada orang yang membutuhkan bantuan kita, kita tolong dan itu berhasil. Tanpa dihargai atau diakhiri dengan terima kasih,” katanya. Kepuasan terbesar datang dari membantu tanpa pamrih, meskipun perjuangan awal dari titik nol, hingga pengakuan sangat berat. Kini, beliau terus mengembangkan aspek kemanusiaan dalam pekerjaanya.
Kesiap-Siagaan Bencana: Antisipasi di Tengah Risiko
Pantai Pangandaran rawan bencana, terutama tsunami dan gelombang tinggi. Tim lifeguard menerapkan prosedur ketat untuk mengantisipasi. Mereka memasang sirine tsunami yang aktif pada tanggal kejadian bencana sebelumnya, rambu larangan berenang di zona berbahaya, dan titik kumpul evakuasi. Edukasi juga menjadi prioritas: pelatih kepada wisatawan tentang respons terhadap gempa, banjir, longsor, atau tsunami.
Risiko utama? Terseret arus laut, yang dianggap sebagai musibah lokal. “kalau ada orang meninggal terseret arus itu juga bisa dikatakan bencana,” tegasnya. Tim telah mengikuti pelatihan kesiap-siagaan yang dianggap memadai, meskipun kesiapan selalu ditekankan. “Siap-tidak siap, kita harus siap,” katanya. Pelatihan ini tidak hanya untuk tim, tetapi juga untuk melatih masyarakat saat bencana terjadi, membuat respons lebih cepat dan efektif.
Koordinasi dengan instansi seperti BPBD, Basarnas, dan aparat keamanan berjalan lancar melalui call center, komunikasi telefon, dan pertemuan rutin. Lifeguard fokus pada pencegahanya, sementara instansi lain menangani evakuasi massal.
Tantangan di Lapangan: keterbatasan yang Harus Dihadapi
Meski dedikasi tinggi, tantangan tak terhindarkan. Sara-prasarana terbatas: peralatan penyelamatan seperti ban pelampung atau kendaraan khusus sebagian besar tidak tersedia di Indonesia. Dalam evakuasi massal, tim menggunakan sinyal untuk mengatur lifeguard per korban, tetapi ombak besar membuat peralatan kurang efektif. “Kita pernah mengalami kecelakaan massal terseret arus itu 5 sampai 10 korban. Dan itu anak kecil dan ibu-ibu,” ceritanya. Akhirnya, mereka bergantung pada bantuan masyarakat, seperti perahu, untuk menutupi kekurangan.
Pesan untuk semua: Keselamatan adalah Prioritas Utama
Di akhir wawancara, Pak liano menyampaikan pesan mendalam. “ yang namanya laut itu bukan musuh. Selagi kita tidak sombong, selagi kita mengenal tentang laut, jangan sampai kita sepelekan,” katanya. Beliau menekankan pentingnya mencari informasi keselamatan dari media sosial, orang lain, atau rambu-rambu sebelum aktivitas. “Fokuskan keselamatan. Ada yang namanya first safety. Itu yang paling diutamakan,” imbuhnya. Pesan ini bukan hanya untuk wisatawan saja, tetapi juga masyarakat lokal: pilih lokasi aman, hindari zona bahaya, dan jadikan edukasi sebagai kebiasaan.
"Ini bukan pekerjaan biasa; ini panggilan untuk melindungi sesama," katanya. beliau berbagi bahwa melalui pengalaman ini, beliau belajar tentang empati dan ketahanan. Bagi wisatawan, beliau sarankan untuk selalu mematuhi aturan pantai dan membawa peralatan keselamatan seperti pelampung. Selain itu, beliau menyarankan agar setiap orang yang berkunjung ke pantai membentuk kebiasaan sederhana: periksa kondisi cuaca sebelum berangkat, hindari berenang sendirian, dan selalu ikuti instruksi lifeguard. "Keselamatan bukanlah pilihan, melainkan kewajiban," tegasnya, mengingatkan bahwa satu momen kelalaian bisa berubah menjadi tragedi.
Lebih lanjut, Pak Liano berharap agar pemerintah dan masyarakat lebih mendukung inisiatif seperti Balawista. Dengan investasi dalam teknologi, seperti kamera pemantauan pantai atau aplikasi mobile untuk laporan bahaya, keselamatan bisa ditingkatkan secara signifikan. Ia juga mengajak wisatawan untuk berpartisipasi aktif: laporkan perilaku berisiko, sebarkan informasi keselamatan, dan dukung kampanye edukasi. "Pantai Pangandaran bisa menjadi contoh nasional jika kita semua berkolaborasi," katanya optimis. Di era digital ini, media sosial bukan hanya alat hiburan, tetapi juga sarana untuk membangun kesadaran kolektif tentang bahaya laut.
Akhirnya, kisah lifeguard ini mengingatkan kita bahwa di balik liburan yang menyenangkan, ada perjuangan nyata untuk melindungi nyawa. Dengan dedikasi mereka, Pantai Pangandaran menjadi lebih aman. Jika Anda berkunjung, ingatlah: laut indah, tapi keselamatan dulu. Siapa tahu, pahlawan seperti ini sedang mengawasi Anda dari balik ombak. Mari kita jadikan keselamatan sebagai warisan bersama, agar generasi mendatang bisa menikmati keindahan pantai tanpa rasa takut.
