Konten dari Pengguna

Ritme Pagi di Pusat Belanja Nanjung Sari: Kisah Tri, Pedagang baju

Nahdatunnisa

Nahdatunnisa

Undergraduate Communications Science Student at Universitas Padjadjaran

·waktu baca 4 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nahdatunnisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pagi di Pusat Belanja Nanjung Sari dimulai dengan irama lembut: desiran kipas angin, cahaya lampu kecil yang menggantung di atap, dan obrolan santai para pedagang yang saling menyapa. Di lorong dengan cat kuning dan koridor coklat yang hangat, kios pakaian berisi gantungan daster, kaos dewasa, dan baju anak-anak menjadi saksi kehidupan sehari-hari seorang perempuan muda bernama Tri. Dengan kerudung abu-abu dan gamis pink, ia menata baju satu per satu, menyambut hari dengan senyum hangat.

Sumber: Dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi pribadi

Di tengah pusat belanja yang ramai oleh pedagang kecil di pinggir pantai, Tri, 20 tahun, adalah salah satu wajah yang menjaga denyut ekonomi lokal. Baru dua bulan bekerja sebagai pedagang kios pakaian, ia meninggalkan pekerjaan lamanya yaitu membantu ibunya di kantin Sekolah Dasar karena penghasilannya menurun oleh adanya program Makan Bergizi Gratis yang diselenggarakan oleh pemerintah. “Aku sebelumnya cuma bantu mamah dagang di kantin SD, terus sempat nganggur juga.

Di kantin sekolah jadi kurang penghasilannya karena ada program MBG, jadi aku mutusin buat jualan baju aja di sini,” katanya sambil tersenyum hangat. Hobi dan pengalaman berdagang membuat Tri memutuskan untuk mulai berjualan produk di bidang fashion. "Aku suka hal sederhana: melayani orang dan belajar menghadapi berbagai karakter," katanya, suaranya lembut seperti ritme kios yang sepi pagi itu.

“Biasanya buka jam enam atau setengah tujuh pagi. Ngeluarin baju itu lumayan lama, soalnya harus disusun satu-satu,” ujarnya. Rutinitas Tri dimulai pukul enam atau setengah tujuh pagi, dihabiskan hampir setengah jam untuk menata dan membersihkan kios.

Ruangan kecil itu dihiasi kursi coklat berbantal kotak-kotak, patung-patung dekoratif dengan salah satunya berhidung bolong, dan cermin hitam di bawah kipas angin. Ia mengaku pekerjaan ini seru karena berbeda dari melayani anak-anak di kantin dan kini ia berhadapan dengan orang dewasa sambil belajar menjaga ketenangan di tengah keragaman sifat manusia. "Yang penting tetap tenang," ujarnya sambil tersenyum.

Meski banyak pelanggan unik yang berkesan, Tri tak ingat spesifik. Bagi dia, pekerjaan ini bukan sekadar jualan, melainkan tentang interaksi manusia sehari-hari. Namun, tantangan yang tak luput dari hari-hari sepi membuatnya gelisah. Dibalik hal tersebut, persaingan antar pedagang tetap berjalan sehat. “Santai aja sih. Kalau lagi nggak ada yang beli ya udah, kalau ada yang lewat baru ditawarin. Rezeki mah udah ada bagian masing-masing.”

Isu renovasi pusat belanja menjadi sorotan. Bangunan yang rusak, genting rapuh dan bocor mungkin akan diganti menjadi hotel dan para pedagang di gedung Nanjung Sari akan dipindah ke lokasi baru. Tri mendukung perbaikan untuk menarik wisatawan lebih banyak.

"Kalau bangunannya lebih bagus, pembeli juga lebih tertarik masuk," katanya. Tentang maraknya belanja online, Tri punya pandangan yang cukup realistis. “Kayaknya kalau buat di pantai sini nggak terlalu ngaruh. Soalnya orang kalau lagi di pantai pengennya beli baju pantai langsung di sini biar kerasa oleh-olehnya. Yang lebih kerasa mungkin yang dagang di pasar.”

Sebelum wawancara berakhir, Tri menyampaikan harapan sederhana untuk bangunan Nanjung Sari, yaitu dengan memperbaiki bangunan agar pembeli nyaman. Di lorong sepi itu, tanpa sandal, memegang ponsel dan pensil, Tri merapikan baju dan menyapa dengan senyum hangat. Beliau adalah bukti bahwa ekonomi kecil sering dijaga oleh tangan-tangan sederhana yang mungkin tak terlihat, tapi selalu menjaga kehidupan berjalan.

Kisah Tri adalah kisah inspiratif tentang ketekunan dan adaptasi di tengah perubahan. Lahir dari keluarga sederhana di pinggir pantai, ia belajar sejak kecil nilai-nilai kerja keras dari ibunya yang berjuang sebagai pedagang kantin. Ketika program Makan Bergizi Gratis membuat penghasilan keluarga menurun, Tri tidak menyerah. Alih-alih pasrah, ia memanfaatkan pengalaman berdagangnya untuk beralih ke dunia fashion, membuka kios pakaian meski baru dua bulan.

Dalam masa nganggur singkat, ia belajar dari tutorial online dan membangun kepercayaan diri untuk menghadapi pelanggan dari berbagai latar belakang. Salah satu momen puncaknya adalah ketika ia berhasil melayani seorang turis asing dengan bahasa isyarat, membuktikan bahwa empati dan kreativitas bisa menjembatani perbedaan. Kisahnya menginspirasi kita bahwa tantangan seperti persaingan bisnis atau perubahan ekonomi bukanlah akhir, melainkan awal untuk inovasi.

Dari tokoh Tri, kita dapat mengambil beberapa pelajaran berharga. Pertama, pentingnya ketenangan dan kesabaran dalam menghadapi keragaman manusia. Tri mengatakan, "Yang penting tetap tenang," yang mengajarkan bahwa di dunia bisnis, emosi yang stabil membantu menjaga hubungan baik dengan pelanggan dan rekan pedagang. Kedua, nilai adaptasi terhadap perubahan: Ia meninggalkan pekerjaan lama karena program pemerintah, tapi tidak berkeluh kesah; sebaliknya, ia mencari peluang baru di bidang yang ia sukai. Ini mengingatkan kita bahwa fleksibilitas adalah kunci untuk bertahan di era modern.

Ketiga, kekuatan interaksi manusia: Bagi Tri, jualan bukan hanya tentang uang, tapi tentang membangun koneksi. Pelajaran ini relevan di zaman digital saat ini, di mana hubungan pribadi masih tak tergantikan. Akhirnya, optimisme di tengah ketidakpastian: Meski menghadapi hari-hari sepi atau isu renovasi, Tri tetap percaya pada takdir dan dukungan komunitas. Kisahnya menunjukkan bahwa tangan-tangan sederhana seperti dirinya bisa menjadi pilar ekonomi lokal, mengajarkan kita untuk menghargai usaha kecil dan bermimpi besar dengan langkah-langkah kecil.