Tekanan Rupiah di Level Rp18.000: Pengetatan The Fed dan Lonjakan Yield US

Penulis merupakan Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nahla Faliha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Rupiah kembali diuji. Sepanjang 2026, nilai tukarnya melemah dari Rp16.786 per dolar AS pada Januari menjadi Rp17.946 pada September, atau sekitar 6,9%. Level Rp18.000, yang oleh pelaku pasar dianggap batas psikologis, kini nyaris menjadi kenyataan dan memicu kekhawatiran akan gejolak yang lebih dalam. Tekanan pada rupiah dipengaruhi oleh faktor eksternal yakni adanya kenaikan suku bunga The Fed dan yield treasury. The Fed menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 4% pada September, sementara imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik dari 4,24% menjadi 5,28%. Kedua faktor itu menarik dana asing keluar dari pasar saham dan obligasi Indonesia. Dengan demikian adanya tekanan pada rupiah disebabkan oleh faktor berikut kenaikan suku bunga The Fed, lonjakan yield US Treasury, dan outflow di pasar saham.
Kenaikan Suku Bunga The Fed Sebesar 25 Basis Poin
Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan hebat setelah sebelumnya menyentuh kisaran Rp18.000 per dolar US pada Juni 2026. Level psikologis ini dipandang sebagai batas krusial oleh para pelaku pasar. Pelemahan ini tidak berdiri sendiri, melainkan dipicu oleh beberapa sentimen eksternal yang krusial, terutama terhadap keputusan The Federal Reserve, yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada September 2026. Kenaikan ini menegaskan sikap The Fed yang masih memprioritaskan pengendalian inflasi, sehingga harapan para pelaku pasar terhadap pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat pun menipis.
Kenaikan suku bunga The Fed pada pertengahan September otomatis memperlebar daya tarik aset berdenominasi dolar US dibandingkan aset di negara berkembang, hal ini dikarenakan obligasi yang ditawarkan oleh aset US meningkat dan tanpa disertai dengan risiko tambahan, sehingga selisih yield spread dengan aset negara berkembang seperti Indonesia menjadi lebih kecil. Ketika selisih imba hasil menjadi kurang menarik, kompensasi investor yang menanggung risiko atas negara berkembang seperti volatilitas nilai tukar dan ketidakpastian politik, menjadi kurang sepadan. Oleh karena itu, investor global akan memindahkan dananya ke instrumen berdenominasi dolar US yang jauh lebih aman dan menguntungkan,
sehingga permintaan dolar menjadi meningkat dan menekan rupiah. Kondisi ini menempatkan Bank Indonesia pada posisi sulit karena harus menyeimbangkan stabilitas nilai tukar dengan upaya menjaga pertumbuhan ekonomi domestik.
Lonjakan Yield US Treasury
Kenaikan suku bunga US sudah diprediksi oleh pasar hal tersebut tercermin pada lonjakan yield obligasi pemerintah US yang turut memberikan tekanan terhadap rupiah. Kenaikan yield pada obligasi US mencerminkan bahwa ekspektasi terhadap suku bunga US akan bertahan tinggi dan lebih lama. Bagi investor global, US Treasury menawarkan yield yang lebih menarik dengan risiko yang sangat rendah, sehingga selisih imbal hasil dengan surat utang negara berkembang, termasuk Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia, menjadi semakin sempit.
Menyempitnya selisih imbal hasil tersebut mendorong investor asing melakukan penyesuaian portofolio dengan mengurangi kepemilikan aset di pasar obligasi domestik. Aksi jual pada SBN mendorong kenaikan yield di dalam negeri, tetapi kenaikan itu belum cukup untuk menahan arus keluar modal karena pasar juga menuntut premi risiko yang lebih tinggi. Situasi ini menambah tekanan pada rupiah karena setiap penarikan dana asing dari pasar obligasi berarti bertambahnya permintaan dolar US di pasar valuta asing.
Outflow Rp105,63 Triliun pada Pasar Saham
Sejak awal tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah terkoreksi 29,20% disertai arus keluar dana asing (outflow) sebesar Rp105,63 triliun. Tekanan ini dipicu oleh penguatan dolar US dan naiknya yield US Treasury. Ketika IHSG melemah dan rupiah ikut tertekan, investor asing beramai-ramai memindahkan dananya ke aset yang lebih aman, seperti US Treasury. Besarnya outflow ini menunjukkan derasnya tekanan jual dari investor asing, yang bukan hanya menyeret IHSG lebih dalam, tetapi juga mengurangi pasokan dolar US di dalam negeri sehingga tekanan terhadap rupiah menjadi semakin dalam.
Ke depan, arah rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan kebijakan moneter The Fed, pergerakan yield US Treasury, dan respons Bank Indonesia selaku otoritas dalam negeri. Bank Indonesia dapat menempuh langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar valas dan pasar obligasi, serta menjaga kecukupan cadangan devisa. Namun, stabilitas jangka panjang juga memerlukan fundamental ekonomi yang kuat, mulai dari surplus neraca perdagangan, inflasi yang terkendali, hingga kepercayaan investor terhadap iklim investasi nasional. Selama tekanan eksternal belum mereda, rupiah diperkirakan masih akan bergerak volatil di sekitar level Rp18.000.
