Konten dari Pengguna

Seporsi Mie Ayam dan Pertanyaan Sederhana tentang Cara Kita Mengingat Hidup

Buku Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati (Sumber: Dokumentasi Penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Buku Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Beberapa hari lalu, waktu lagi duduk santai di warung mie ayam langganan sambil nunggu pesanan datang, tiba-tiba terlintas satu pertanyaan aneh di kepala saya: kalau besok hari terakhir saya di dunia, makanan apa ya yang paling ingin saya santap untuk terakhir kalinya?

Mungkin jawabannya bukan steak mahal atau hidangan mewah di restoran bintang lima, melainkan semangkuk mie ayam kuah kental manis-gurih yang biasa saya beli di pinggir jalan. Ada rasa nyaman yang familiar dari uap hangatnya, sesuatu yang selalu berhasil bikin kita merasa "pulang".

Rasa penasaran itu yang akhirnya bikin saya namatin buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna. Awalnya, pas liat judulnya, saya pikir novel terbitan Grasindo ini bakal penuh dengan keputusasaan, suasana kelam, atau bahasan medis yang berat soal kematian. Tapi ternyata, dugaan saya salah besar. Buku ini justru terasa seperti obrolan hangat dengan teman lama di teras rumah saat sore hari.

Ceritanya sendiri membawakan kisah yang sangat dekat dengan keseharian kita. Cerita berfokus pada dinamika kehidupan, kehilangan, dan keinginan-keinginan sederhana yang sering kita tunda. Lewat alurnya, kita diajak mengikuti perjalanan tokoh utama yang dihadapkan pada batas waktu kehidupannya. Bukannya sibuk mengejar pencerahan besar atau melakukan hal-hal ekstrem yang dramatis, sang tokoh justru teringat pada hal-hal kecil yang belum sempat diselesaikan—salah satunya adalah keinginan sederhana untuk menikmati semangkuk mie ayam yang penuh kenangan bersama orang tersayang.

Dari perjalanan isi bukunya, makna mendalam yang bisa kita petik adalah bagaimana manusia sering kali terjebak dalam hustle culture dan kecemasan masa depan. Setiap hari kita sibuk memikirkan karier, tabungan, dan target yang belum pasti, sampai lupa menyadari hal-hal hangat di depan mata. Kehadiran semangkuk mie ayam dalam cerita ini menjadi simbol dari momen-momen kecil yang jujur: aroma kuah yang hangat, percakapan tanpa arah di meja makan, hingga penyesalan kecil yang baru terasa mengganjal saat waktu terasa makin sempit. Penulis tidak berusaha berakting seperti filsuf atau pujangga puitis yang tahu semua jawaban hidup, melainkan menyampaikannya secara jujur dan sangat manusiawi.

Pesan utama yang paling membekas dari buku ini adalah pengingat halus bahwa membicarakan akhir hidup tidak selamanya harus menakutkan. Justru dengan mengingat batas waktu, kita diajak untuk lebih menghargai apa yang kita miliki hari ini, menyapa teman, menikmati makanan favorit, dan mensyukuri tiap detik sebelum semuanya terlambat.

Memang, ada sedikit bagian di pertengahan buku yang alurnya terasa lambat. Tapi buat saya pribadi, itu tidak begitu mengganggu karena pesan dan kehangatan ceritanya tetap tersampaikan dengan sangat baik. Buku ini pas banget buat kamu yang lagi merasa lelah dengan tumpukan rutinitas dan butuh bacaan ringan tapi punya perenungan mendalam di akhir pekan.

Setelah menutup halaman terakhirnya, pertanyaan di warung mie ayam waktu itu balik lagi ke kepala saya. Dan mungkin, kamu juga bakal memikirkan hal yang sama: sebenarnya, hal sederhana apa yang paling bikin kamu merasa bersyukur masih bisa bernapas dan ada di sini hari ini?