Konten dari Pengguna

Kenapa Mahasiswa Masih Gugup Saat Mengajar? Ini yang Tidak Diajarkan di Kelas

Naila Fauziah

Naila Fauziah

Mahasiswa Universitas Pamulang Program Studi Pendidikan Ekonomi

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Naila Fauziah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar: Microteaching Universitas Pamulang 2026, oleh penulis
zoom-in-whitePerbesar
Gambar: Microteaching Universitas Pamulang 2026, oleh penulis

Berdiri di depan kelas seharusnya menjadi hal yang biasa bagi mahasiswa calon guru. Namun, kenyataannya tidak sedikit yang masih merasa gugup, bingung, bahkan kehilangan arah saat diminta untuk mengajar.

Fenomena ini sering terlihat dalam kegiatan microteaching. Meskipun sudah belajar teori pembelajaran, memahami materi, dan menyiapkan perangkat ajar, banyak mahasiswa tetap merasa tidak siap saat praktik berlangsung. Hal ini menimbulkan pertanyaan sederhana: apa yang sebenarnya kurang?

Menurut saya, masalahnya bukan terletak pada kemampuan akademik, melainkan pada kesiapan mental dan pengalaman. Selama ini, pembelajaran di kelas lebih banyak berfokus pada teori dibandingkan praktik nyata. Akibatnya, mahasiswa terbiasa memahami konsep, tetapi belum terbiasa menghadapi situasi langsung di depan kelas.

Rasa gugup muncul karena kurangnya jam terbang. Mengajar bukan hanya soal menyampaikan materi, tetapi juga tentang bagaimana mengelola kelas, membaca situasi, dan membangun interaksi dengan siswa. Hal-hal ini tidak cukup dipelajari dari buku, melainkan harus dilatih secara langsung.

Saya melihat banyak mahasiswa yang awalnya kesulitan bahkan untuk membuka pelajaran. Ada yang berbicara terlalu cepat, ada yang kehilangan fokus, bahkan ada yang lupa dengan apa yang ingin disampaikan. Namun, setelah beberapa kali mencoba, perubahan mulai terlihat.

Mereka menjadi lebih tenang, lebih percaya diri, dan mulai mampu mengontrol jalannya pembelajaran. Ini menunjukkan bahwa kemampuan mengajar tidak datang secara instan, tetapi melalui proses latihan dan pembiasaan.

Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini juga terlihat saat mahasiswa diminta presentasi. Mereka yang terbiasa berbicara di depan umum cenderung lebih siap dan percaya diri. Sebaliknya, yang jarang berlatih akan lebih mudah merasa gugup.

Sayangnya, tidak semua mahasiswa memanfaatkan kesempatan latihan seperti microteaching dengan maksimal. Masih ada yang menganggapnya sebagai tugas biasa, bukan sebagai proses pembentukan diri.

Padahal, dari pengalaman sederhana seperti inilah kemampuan penting sebagai calon guru mulai terbentuk. Bukan hanya soal menguasai materi, tetapi juga bagaimana menyampaikan, berinteraksi, dan mengendalikan diri di depan orang lain.

Menurut saya, yang paling dibutuhkan mahasiswa calon guru bukan hanya pengetahuan, tetapi juga keberanian untuk mencoba dan kesiapan untuk belajar dari kesalahan.

Karena pada akhirnya, menjadi guru bukan tentang siapa yang paling pintar, tetapi siapa yang paling siap menghadapi kelas.