Di Balik Jas lab: Realita Kesehatan Mental Mahasiswa Farmasi dan Lingkungannya

Saya adalah seorang mahasiswa program studi farmasi di UIN Jakarta, saat ini saya sedang menjalani kuliah di semester 2. Dengan penuh tekad dan semangat saya mempunyai mimpi yang besar untuk mengejar gelar seorang apoteker.
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Naila zahra azizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjadi pejuang gelar apoteker merupakan salah satu tujuan seseorang untuk mengejar profesi di bidang tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam memberikan pelayanan kefarmasian (pharmaceutical care). Seorang apoteker bertanggung jawab atas penggunaan obat-obatan dalam terapi pasien guna mencapai hasil pengobatan yang optimal, dengan tujuan utama meningkatkan kualitas hidup pasien. Untuk menjadi apoteker, seseorang perlu menempuh jenjang pendidikan yang sesuai. Pendidikan dapat dimulai dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) bidang farmasi, kemudian dilanjutkan ke jenjang perguruan tinggi melalui program studi farmasi (Amalia dan Nashori, 2021).
Dalam kesehariannya, mahasiswa farmasi biasanya mengenakan jas laboratorium sebagai simbol identitas akademik sekaligus sebagai perlindungan saat menjalani kegiatan praktikum di laboratorium maupun fasilitas kefarmasian lainnya. Menurut Mahfudhoh dan Rochmah (2015), kedudukan seseorang sering kali didasarkan pada pengetahuan serta otoritasnya dalam bidang tertentu. Dalam konteks ini, penggunaan atribut seperti mantel atau jas laboratorium dapat memberikan kesan bahwa seseorang memiliki peran yang penting, berwenang, dan profesional. Jas laboratorium tidak hanya berfungsi sebagai pelindung saat bekerja di lingkungan laboratorium, tetapi juga menjadi simbol visual dari keahlian dan status seseorang di bidang keilmuan tertentu. Namun di balik simbol profesionalisme seperti jas laboratorium dan ekspektasi tinggi terhadap mahasiswa farmasi, terdapat tekanan akademik dan sosial yang tidak sedikit.
Tuntutan untuk selalu tampil cakap, tangguh, dan berprestasi sering kali mengabaikan aspek kesehatan mental mahasiswa. Kurangnya perhatian terhadap kondisi psikologis ini dapat berdampak pada penurunan kualitas hidup dan performa akademik mereka. Oleh karena itu, penting untuk menyoroti realita kesehatan mental mahasiswa farmasi serta dinamika lingkungan yang memengaruhinya, agar tercipta ruang akademik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga sehat secara emosional.
Tuntutan Akademik yang Menguras Mental
Berdasarkan hasil observasi, mahasiswa kerap mengeluhkan padatnya materi perkuliahan dan banyaknya tugas yang harus diselesaikan dalam waktu terbatas. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada penurunan produktivitas belajar, tetapi juga menghambat pengembangan soft skill mahasiswa. Padahal, dalam dunia perguruan tinggi, mahasiswa tidak hanya dituntut menguasai hard skill, tetapi juga diharapkan mampu mengembangkan soft skill melalui keterlibatan dalam berbagai kegiatan, seperti organisasi, kepemimpinan, dan komunikasi interpersonal.
Tekanan dari tanggung jawab akademik yang berat dapat memicu stres, bahkan berkembang menjadi gangguan mental seperti depresi dan kecemasan. Stres sendiri merupakan respons psikologis alami yang muncul ketika seseorang merasa menghadapi tekanan yang melebihi kapasitasnya. Dalam konteks akademik, sumber stres dapat berasal dari situasi monoton, beban tugas yang berlebihan, kebisingan lingkungan belajar, tuntutan yang saling bertentangan, kurangnya penghargaan atas usaha yang dilakukan, rasa diabaikan, hilangnya kesempatan, serta tekanan akibat tenggat waktu (deadline) yang berdekatan.
Survei awal yang dilakukan oleh Herawati et al. (2022) pada mahasiswa program studi Farmasi menunjukkan bahwa banyak mahasiswa mengalami kejenuhan terhadap rutinitas kuliah dan tugas yang sangat padat. Mereka juga melaporkan gejala fisik dan emosional seperti sakit kepala, perih pada lambung, gangguan tidur, kecemasan berlebihan, serta mudah tersinggung. Temuan tersebut mengindikasikan adanya gejala stres, depresi, maupun gangguan kecemasan yang cukup signifikan pada mahasiswa farmasi dan perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut.
Faktor Pemicu Stres Akademik dalam Lingkungan Perguruan Tinggi
Stres akademik telah menjadi salah satu isu krusial yang dihadapi oleh mahasiswa di berbagai belahan dunia. Tekanan ini muncul dari berbagai aspek, seperti beban tugas yang menumpuk, jadwal perkuliahan yang padat, serta ekspektasi tinggi terhadap pencapaian akademik (Sari et al., 2025). Menurut Permata dan Laili (2025), tanggung jawab akademik yang diemban oleh mahasiswa mencakup berbagai aktivitas yang menuntut fokus, ketekunan, dan manajemen waktu yang baik. Bentuk tanggung jawab tersebut antara lain berupa tugas-tugas kompleks, ujian yang menentukan kelulusan atau nilai akhir, serta proyek-proyek penelitian yang membutuhkan dedikasi tinggi dan waktu yang tidak sedikit.
Berbagai tuntutan tersebut sering kali menimbulkan tekanan tersendiri bagi mahasiswa, terutama dalam upaya memenuhi standar pencapaian yang diharapkan. Tekanan ini tidak hanya berkaitan dengan hasil penilaian akademis, tetapi juga menyangkut pengembangan diri secara personal. Mahasiswa dituntut untuk tidak hanya berhasil secara akademik, tetapi juga mampu membangun kapasitas diri yang akan berguna di dunia kerja dan kehidupan sosial.
Stres akademik merupakan jenis stres yang dialami oleh mahasiswa dan umumnya terjadi dalam lingkungan pendidikan. Stres ini dapat didefinisikan sebagai respons tubuh terhadap berbagai tekanan, tuntutan, persaingan, dan ekspektasi di dunia akademik yang berkaitan dengan upaya meningkatkan prestasi belajar. Dalam prosesnya, mahasiswa dihadapkan pada kebutuhan untuk beradaptasi dengan berbagai tantangan dan dinamika kampus, seperti perbedaan sistem pembelajaran dari jenjang sebelumnya, banyaknya tugas dan materi yang harus dikuasai, penggunaan media pembelajaran digital, persaingan nilai antar-mahasiswa, serta tekanan dari teman sebaya, keluarga, dan lingkungan sosial (Sintan et al., 2025).
Mahasiswa farmasi, secara khusus, kerap dipandang memiliki beban dan tanggung jawab yang lebih berat dibandingkan mahasiswa dari program studi lainnya. Mereka dituntut untuk lebih giat dalam belajar, tidak mudah menyerah, mampu mengelola diri secara emosional, serta memiliki kemampuan manajemen waktu yang baik. Hal ini disebabkan oleh kompleksitas mata kuliah, kegiatan praktikum yang intensif, serta ekspektasi profesionalisme sejak dini. Tekanan yang berlapis inilah yang menjadikan mahasiswa farmasi lebih rentan terhadap stres akademik apabila tidak disertai dengan strategi penyesuaian diri dan dukungan lingkungan yang memadai.
Menurut Maharani et al. (2025) di tengah padatnya aktivitas akademik, mahasiswa juga harus menghadapi tekanan dari keluarga dan lingkungan sosial. Harapan agar segera menyelesaikan studi dan meraih kesuksesan dalam karier sering kali menambah beban psikologis. Tuntutan-tuntutan ini, apabila tidak diimbangi dengan dukungan emosional dan manajemen stres yang baik, dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan kesehatan mental seperti stres kronis, kecemasan berlebih, hingga depresi.
Dukungan Sosial sebagai Strategi Menghadapi Tekanan Akademik
Salah satu upaya yang dapat dilakukan mahasiswa untuk mengatasi stres akademik adalah melalui dukungan sosial. Dukungan sosial merujuk pada bantuan yang diberikan oleh orang-orang terdekat, seperti teman, keluarga, atau individu yang dianggap istimewa dan dipercaya. Dalam konteks kehidupan kampus, dukungan dari teman sebaya sering menjadi alasan mengapa sebagian mahasiswa mampu bertahan dan mengelola tekanan akademik dengan lebih baik.
Dukungan sosial memiliki berbagai bentuk yang dapat membantu individu, termasuk mahasiswa, dalam menghadapi tekanan akademik. Salah satu bentuknya adalah dukungan nyata atau instrumental, yaitu bantuan langsung berupa materi atau tindakan. Selain itu, terdapat dukungan informasional, yang mencakup pemberian nasihat, saran, arahan, atau umpan balik yang membantu seseorang keluar dari permasalahannya. Bentuk lainnya adalah dukungan kebersamaan (companionship), yaitu ketersediaan orang lain untuk menemani atau menghabiskan waktu bersama, sehingga seseorang merasa menjadi bagian dari kelompok atau komunitas yang memiliki minat atau aktivitas serupa. Tak kalah penting, terdapat pula dukungan emosional atau harga diri, yang ditunjukkan melalui perhatian, empati, kepedulian, serta perasaan bahwa individu didengarkan dan dihargai. Keempat bentuk dukungan sosial ini memiliki peran penting dalam membantu mahasiswa mengelola stres akademik dan menjaga keseimbangan mental selama menempuh pendidikan tinggi (Ellis et al., 2023).
Dukungan sosial memiliki peran penting dalam menurunkan tingkat stres akademik, karena terdapat hubungan negatif antara keduanya. Hal tersebut artinya, jika semakin tinggi tingkat dukungan sosial yang diterima, maka semakin rendah tingkat stres akademik yang dirasakan mahasiswa. Sebaliknya, minimnya dukungan sosial dapat meningkatkan risiko stres, bahkan menyebabkan gangguan motivasi belajar. Mahasiswa yang mendapatkan dukungan sosial umumnya merasa dicintai, dihargai, dan memiliki tempat dalam jaringan sosial mereka (Rizqullah dan Ansyah, 2024). Perasaan ini memberikan rasa aman dan mampu meningkatkan kepercayaan diri serta motivasi dalam menghadapi beban akademik.
Dengan demikian, dukungan sosial menjadi salah satu faktor pelindung yang efektif dalam mengurangi tekanan akademik dan meningkatkan kualitas kehidupan mahasiswa selama menempuh pendidikan tinggi. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Hidayat dan Darmawanti (2021), yang menyatakan jika dukungan sosial memiliki sejumlah manfaat penting bagi individu, terutama dalam menghadapi stres.
Referensi
Amalia, V. R., & Nashori, F. (2021). Hubungan antara religiusitas dan efikasi diri dengan stres akademik mahasiswa farmasi. Psychosophia: Journal of Psychology, Religion, and Humanity, 3(1), 36-55.
Ellis, R., Sampe, P. D., Mahaly, S., & Makulua, I. J. (2023). Pengaruh dukungan sosial terhadap stres akademik mahasiswa. Pedagogika: Jurnal Pedagogik Dan Dinamika Pendidikan, 11(1), 102-110.
Rizqullah, R. D., & Ansyah, E. H. (2024). Dukungan sosial dan stres akademik pada siswa madrasah aliyah. Journal of Islamic Psychology, 1(2), 11-11.
Mahfudhoh, S., & Rochmah, T. N. (2015). Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Penulisan Resep Sesuai Formularium. Jurnal Administrasi Kesehatan Indonesia, 3(1), 21-30.
Sari, P. I. R., Sulityowati, R. A., Eldi, N. A., Wakita, M. I., & Intan, S. P. (2025). Kajian Literatur tentang Pengaruh Mindfulness terhadap Pengurangan Stres Akademik pada Mahasiswa. HUMANITIS: Jurnal Homaniora, Sosial dan Bisnis, 3(1), 201-210.
Hidayat, E., & Darmawanti, I. (2021). Hubungan antara dukungan sosial dengan stres akademik pada mahasiswa di masa pandemi covid-19. Character Jurnal Penelitian Psikologi, 8(9), 166-178.
Maharani, N. A., & Muntafi, M. S. (2024). Gambaran Resiliensi Pada Mahasiswa Rantau Tingkat Akhir Di Kota Malang Dan Surabaya. Proceedings of PsychoNutrition Student Summit, 1(1), 22-33.
Herawati, M., Karinaningrum, A. D., & Febrianti, Y. (2022). The profile of anxiety, stress, and depression among pharmacy students in Universitas Islam Indonesia. Jurnal Ilmiah Farmasi, 147-158.
Sintan, T., Armyanti, I., & Tejoyuwono, A. A. T. (2025). Hubungan antara Stres Akademik dan Dukungan Sosial Orang Tua dengan Prestasi Akademik Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Angkatan 2020: Hasil Penelitian. Cermin Dunia Kedokteran, 52(6), 359-374.
Permata, N. G., & Laili, N. (2025). Peran dukungan sosial dan manajemen waktu pada stres akademik mahasiswa tingkat akhir Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Al-Isyraq: Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, dan Konseling Islam, 8(1), 101-122.
