Konten dari Pengguna

The Future of Reading: Kenyamanan VR vs Esensi Membaca

Nailah Rihhadatul Aisyah

Nailah Rihhadatul Aisyah

Seorang mahasiswi yang sedang melakukan studi S1 Ilmu Informasi dan Perpustakaan di Universitas Airlangga.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nailah Rihhadatul Aisyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi orang menggunakan VR. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi orang menggunakan VR. Foto: Unsplash

Teman-teman sadar gak sih kalau cara kita membaca pelan-pelan sedang berubah? Dulu membaca identik dengan buku fisik, lalu bergeser ke perangkat digital. Sekarang, di dunia yang terus berevolusi, teknologi mulai membawa kita masuk ke ruang membaca yang sepenuhnya virtual. Jadi dalam VR, kita bisa “masuk” ke perpustakaan yang dirancang sesuai keinginan kita agar mendapatkan suasana membaca seperti yang kita mau.

Misalnya, kita bisa memilih suasana baca bergaya Hogwarts dengan rak buku menjulang dan atmosfer fantasi, atau perpustakaan futuristik penuh teknologi. Walaupun fitur VR saat ini belum bisa menampilkan visual sedetail itu, tipe ruang seperti ini sangat mungkin diwujudkan di masa depan melalui desain VR. Dengan kemungkinan itu, apakah membaca dengan VR akan tetap terasa asing, atau justru menjadi langkah awal kebiasaan membaca yang baru?

Bagaimana Virtual Reality Membawa Pengalaman Membaca?

Dalam bukunya Sherman dan Craig (2003), Virtual Reality adalah teknologi yang berusaha “memindahkan” kita ke dalam ruang lain yang sepenuhnya digital. Teknologi ini menggabungkan penggunaan headset, pelacak gerak, serta sistem visual, sehingga otak kita percaya bahwa lingkungan yang dilihat benar-benar ada. Dengan teknologi ini pula, pengalaman yang diciptakan tidak sekadar dilihat, tetapi benar-benar dialami. Pengguna bisa menoleh, berjalan, dan merasakan atmosfer ruangan walaupun semuanya hanya simulasi.

Ilustrasi penggunaan VR. Foto: Unsplash

Baru-baru ini, teknologi VR mulai dibawa ke dunia membaca. Bukan sekadar memindahkan buku ke layar digital, tetapi kita juga punya kendali penuh dalam pengalaman membaca sesuai yang kita mau. Walaupun fiturnya belum sempurna, di ruang itu kita bisa mengatur suasana ruangan, pemandangan di sekitar, sampai menambahkan musik pengiring sesuai selera. Bahkan, pengguna juga bisa membangun “ruang baca” virtual sendiri.

Dengan teknologi, tanpa harus keluar rumah, pengalaman membaca ini bisa tetap ada unsur sosialnya. Melalui VR, pengguna juga bisa berinteraksi dengan orang lain yang berada di server yang sama, jadi mereka bisa sekalian berdiskusi dan membahas buku bareng dengan pengguna lain secara virtual.

Potensi VR untuk Masa Depan Membaca

Kalau dipikir-pikir, membaca di ruang virtual sebenarnya bukan lagi hal yang asing. Beberapa penelitian justru nunjukin kalau hal itu udah mulai terjadi dan bagaimana efektifnya terhadap para pengguna.

Ilustrasi penggunaan VR di museum. Foto: Unsplash

Misalnya, pada studi berjudul Weathering Words: A Virtual Reality Study of Environmental Visual Conditions on Reading Performance yang meneliti pengaruh lingkungan visual di VR terhadap aktivitas membaca. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pengaturan suasana, seperti pencahayaan, warna ruangan, hingga simulasi cuaca seperti “hujan” atau “cerah”, benar-benar dapat memengaruhi fokus dan kenyamanan pembaca (Rocabado, 2024).

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa pengalaman sosial di VR mampu meningkatkan social presence dan kedekatan emosional antar pengguna. Hal ini membuat aktivitas membaca menjadi lebih menarik dan dapat mengurangi perasaan terisolasi. Pengguna bahkan mengungkapkan bahwa mereka merasa "ditemani" dan dapat berbagi pengalaman membaca secara real-time dengan orang lain, sehingga tercipta komunitas pembaca virtual yang aktif dan suportif (Moreira Kares et al., 2025).

Dari berbagai kemudahan yang ditawarkan, membaca dengan teknologi VR terasa sangat menarik. Menurut saya, membaca menggunakan VR bisa menjadi salah satu opsi untuk merasakan pengalaman membaca yang berbeda, bahkan berpotensi meningkatkan minat baca bagi banyak orang. Teknologi ini juga tampak memiliki potensi menjadi awal dari cara membaca yang baru di masa depan, serta dapat menjadi inovasi yang baik dan investasi yang berharga jika dikembangkan dan digunakan secara bijak.

Membaca yang Terlalu Sempurna hingga Kehilangan Fokus Utama

Namun terlepas dari banyaknya kemudahan fitur yang ditawarkan VR untuk membaca, makin gampang juga kita lupa satu hal. Membaca adalah suatu kegiatan yang sederhana. Membaca hanyalah antara kita, buku, dan imajinasi. Tapi ketika segala suasana bisa kita manipulasi seenaknya, dari hujan buatan sampai perpustakaan digital yang terlalu sempurna, apakah kita masih menikmati bukunya, atau cuma mengejar sensasi yang dibuat teknologinya? Kenyamanan yang berlebihan kadang bikin kita menjauh dari esensi membaca itu sendiri.

Foto oleh anotherxlife/Unsplash

Masalahnya, membaca dalam VR dengan pengalaman yang ‘sempurna’ justru bisa bikin membaca kehilangan esensi alaminya. Realitanya, saat membaca di dunia nyata, kita kadang keganggu oleh suara motor lewat, kadang lampu kurang terang atau kesilauan, kadang bukunya juga berat dan ga nyaman di tangan. Tapi justru itu bagian dari hubungan kita sama aktivitas membaca. VR merapikan semuanya jadi terlalu mudah, terlalu terkurasi, sampai-sampai buku bukan lagi pemeran utamanya melainkan VR itu sendiri.

Di sisi lain, kita juga mesti waspada kalau teknologi ini bikin membaca jadi bergantung pada stimulasi yang terus-menerus. Kalau orang cuma bisa fokus baca ketika dikelilingi hutan virtual, musik hujan, dan lighting yang pas, itu artinya minat bacanya sendiri rapuh. Bukan karena bukunya jelek, tapi karena pembacanya butuh ‘panggung’ dulu baru bisa tenggelam. Padahal esensi membaca justru kemampuan bertahan dengan teks apa adanya, dengan mengandalkan imajinasi dalam kepalanya, tanpa perlu disuapi pengalaman sensorik tambahan.

Pada akhirnya, semua perkembangan ini nunjukin bahwa VR memang membuka cara membaca yang baru dan menarik, bahkan dapat membawa manfaat bagi penggunanya. Namun justru karena terlalu sempurna itulah kita perlu hati-hati. Pada dasarnya kekuatan membaca tetap terletak pada kemampuan kita membangun imajinasi tanpa harus bergantung pada dekorasi sensorik visual atau suasana buatan. Sekuat apa pun inovasi dibuat, jangan sampai ia merusak hal paling sederhana dari membaca, yaitu momen sederhana ketika kita berhadapan dengan sebuah teks. Masa depan membaca mungkin akan berubah, tetapi hubungan inti antara pembaca dan apa yang ia baca tetap tidak akan berubah.