Konten dari Pengguna

Cerdas tapi Haus: Harga Air di Balik Kecanggihan AI

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Naila Aldila Rahma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kanwil-jakarta/baca-artikel/16291/Artificial-Intelligence-AI-Pembantu-Pekerjaan-Manusia.html
zoom-in-whitePerbesar
https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kanwil-jakarta/baca-artikel/16291/Artificial-Intelligence-AI-Pembantu-Pekerjaan-Manusia.html

Pernah nggak sih kita berhenti sejenak setelah mengetik pertanyaan ke ChatGPT lalu berpikir, "Jawaban ini asalnya dari mana?" karena belakangan ini ramai perbincangan bahwa setiap kali kita memakai AI, ada air bersih yang terkuras di suatu tempat. Sebagian orang menganggapnya lebay, sebagian lain langsung panik. Sebagai mahasiswa yang hampir tiap hari memakai AI untuk belajar dan mengerjakan tugas, saya merasa kita tidak bolehlangsung percaya begitu saja atau malah menyepelekan. Menurut saya, isu ini nyata dan harus dikritisi, tetapi akar masalahnya bukan pada AI-nya, melainkan bagaimana cara perusahaan membangun dan mengelolanya.

Dimulai dari fakta yang sering terlupakan: AI tidak sepenuhnya digital. Kita terbiasa menyebutnya "cloud", seolah-olah AI melayang di awan tanpa bobot dan tanpa jejak. Nyatanya, setiap jawaban yang muncul di layar diproses di pusat data, yaitu gedung raksasa berisi ribuan server yang menyala tanpa henti dan menghasilkan panas yang luar biasa. Panas itu harus dibuang, dan salah satu caranya adalah mendinginkannya dengan air. Belum lagi air yang dipakai untuk membangkitkan listrik dan membuat cip. Laporan lembaga riset Universitas PBB, UNU-INWEH (2026), mengingatkan bahwa publik masih sering memperlakukan AI sebagai perangkat lunak, padahal ia juga infrastruktur fisik yang menyentuh listrik, lahan, mineral, dan air. Jadi, airnya memang tidak terlihat oleh kita, namun bukan berarti airnya tidak ada.

Lalu, seberapa besar sih masalahnya? Satu pertanyaan ke AI mungkin cuma butuh air dalam jumlah kecil. Tapi, coba bayangkan jika ada jutaan permintaan setiap hari dari seluruh dunia. Menurut perhitungan Rystad Energy yang dikutip AFP (2026), “pusat data di dunia memakai sekitar 222 miliar liter air untuk pendinginan pada 2025, dan di Amerika Serikat air tersembunyi dari pembangkitan listrik dan pembuatan perangkat bisa mencapai dua kali lipatnya”. Laporan UNU-INWEH (2026) memproyeksikan konsumsi air pusat data berlipat dua pada 2030 hingga sekitar 9,3 triliun liter per tahun. Sementara itu, Morgan Stanley memperkirakan pemakaian air untuk AI pada 2028 bisa sekitar sebelas kali lipat dibandingkan 2024 (Asian News International, 2025). Angkanya memang berbeda-beda karena cara hitung di setiap lembaga berbeda, ada yang hanya menghitung pendinginan langsung dan ada yang memasukkan air untuk listrik dan cip. Tetapi arahnya seragam naik dan naiknya cepat. Laporan UNU-INWEH juga mencatat bahwa sebagian besar energi AI terpakai saat AI dijalankan untuk menjawab pengguna, bukan saat dilatih. Itu artinya, kita sebagai pengguna juga ikut andil sebagai bagian dari rantainya.

Meski begitu, kita juga harus adil dan kritis, bukan sekadar menyalahkan AI. Morgan Stanley sendiri mencatat bahwa dampaknya sangat terasa di tingkat lokal, dan lebih dari separuh pusat data utama dunia berada di wilayah dengan risiko menengah terhadap kekeringan, banjir, dan menurunnya kualitas air. Laporan UNU-INWEH pun menegaskan bahwa laporan itu bukan argumen untuk melawan AI, melainkan ajakan untuk mengembangkannya secara bertanggung jawab. Persoalannya ada di tempat dan bagaimana cara membangunnya. Menurut Wall Street Journal yang dirangkum FN News (2026), sekitar dua pertiga pusat data baru di Amerika Serikat berdiri di wilayah rawan kekurangan air seperti Phoenix, karena perusahaan mengejar lahan dan listrik yang murah. Teknologi hemat air sebenarnya sudah ada. Microsoft dan AWS melaporkan efisiensi pemakaian air mereka membaik 25 persen dan 37 persen, dan Nvidia mengklaim sistem barunya dapat nyaris menghilangkan pemakaian air di sebagian fasilitas (AFP, 2026). Tetapi jangan buru-buru lega. Kedua raksasa cloud itu tetap memakai air lebih banyak secara total antara 2022 dan 2025, dan klaim Nvidia masih berupa klaim perusahaan. Adapun pertukaran yang rumit yaitu mengurangi air biasanya berarti menambah listrik. Seorang profesor teknik yang dikutip AFP bahkan menyebut air jauh lebih murah daripada listrik, sehingga dorongan untuk menghematnya lebih banyak datang dari tekanan citra publik. Ditambah lagi, memperbarui pusat data lama disebut membutuhkan biaya yang sangat besar. Artinya, efisiensi saja tidak cukup jika tidak disertai dengan aturan yang tegas.

Pertanyaan berikutnya yang paling penting, siapa yang seharusnya bertanggung jawab? Menurut saya, beban terbesar ada pada perusahaan teknologi dan pemerintah, karena merekalah yang memutuskan di mana dan bagaimana pusat data dibangun. Faktanya, menurut laporan FN News (2026), tidak ada kewajiban hukum bagi perusahaan-perusahaan besar itu untuk melaporkan pemakaian air mereka, dan hanya Meta yang membuka data air langsungnya sekaligus air dari pemasok listriknya. AFP (2026) juga mencatat belum ada keseragaman cara perusahaan melaporkan data lingkungan mereka. Klaim "nol pemakaian air karena memakai energi terbarukan" pun bisa menyesatkan kalau air di rantai pasok listriknya tidak ikut dihitung. Tanpa keterbukaan, masyarakat sekitar tidak punya dasar untuk menilai apakah sumber air mereka terancam atau tidak. UNU-INWEH (2026) merekomendasikan transparansi, desain yang efisien sejak awal, dan melibatkan masyarakat sekitar, ditambah standar dari pemerintah. Namun, kita sebagai pengguna juga harus bijak dalam menggunakannya.

Jadi, apakah AI benar-benar menguras air? Jawaban jujurnya adalah bisa, terutama jika dibangun sembarangan di tempat yang salah dan tanpa pengawasan. Tetapi, AI bukan musuh, dan menolak AI bukan solusinya. Yang kita butuhkan adalah pengembangan yang bertanggung jawab, seperti mewajibkan pelaporan pemakaian air secara terbuka termasuk air untuk listriknya, memilih lokasi yang tidak memperparah krisis air, dan mendorong teknologi pendinginan hemat air yang benar-benar teruji. Sebagai pengguna, kita tidak perlu merasa bersalah setiap kali bertanya ke AI, tetapi kita punya suara untuk menuntut keterbukaan. Sebagai generasi yang tumbuh bersama AI, mari pastikan kemajuan teknologi tidak dibayar dengan hal paling mendasar bagi kehidupan, yaitu air bersih.