Fenomena Homesick Mahasiswa Baru: Ada Rindu yang Perlu Didengar

Mahasiswi S1 Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Naila Nur Faizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap tahun ajaran baru, banyak mahasiswa meninggalkan kampung halaman dan pergi merantau untuk berkuliah di kota lain. Perasaan antusias sangat terasa saat menjadi mahasiswa baru. Mereka mulai sibuk menyiapkan keperluan barang-barang, mencari tempat tinggal baru, mensurvei lingkungan sekitar kampus, hingga mengabadikan momen saat mengenakan almamater kampus dengan penuh kebanggaan.
Meski begitu, di balik antusiasme tersebut, ada perasaan lain yang perlahan muncul. Banyak dari mereka yang mulai risau, sedih, dan rindu rumah ketika sudah berada di tanah perantauan. Perasaan itu bernama homesick.
Homesick atau homesickness merupakan perasaan rindu mendalam terhadap rumah dan keluarga saat mereka berada jauh dari tempat tinggal. Rindu suasana rumah, masakan rumah, teman-teman lama, bahkan keinginan untuk kembali ke lingkungan lama merupakan perasaan emosional yang wajar dialami oleh mahasiswa perantau.
Faktor Pemicu dan Gejala Homesick pada Mahasiswa Baru
Seiring berjalannya waktu, sebagian dari mereka mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan dan rutinitas baru yang awalnya terasa asing. Namun, tidak semua mahasiswa melewati fase ini dengan mudah. Penelitian Palimbu dkk. (2025) pada mahasiswa perantau di Makassar menunjukkan bahwa tingkat homesickness mereka umunya berada pada kategori sedang. Namun, sebagian mahasiswa tetap berada di tingkat rendah, dan sebagian lainnya mengalaminya pada tingkat tinggi.
Di era media sosial, rindu rumah bisa datang lewat layar ponsel. Bagi mahasiswa baru, menggulir layar ponsel dengan membuka foto dan video lama atau melihat story teman-teman di kampung sering terasa menghibur. Akan tetapi, tidak jarang kebiasaan tersebut justru membuat rasa rindu semakin kuat dan membuat mereka semakin larut dalam kenangan tentang rumah serta kehidupan yang ditinggalkan.
Rindu terhadap rumah sering kali dianggap sepele, padahal perasaan ini merupakan respons yang wajar dan manusiawi yang perlu ditanggapi dengan dukungan, bukan malah diremehkan. Homesick bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian dari perasaan emosional yang dapat dialami oleh siapa saja. Sayangnya, karena dipandang sepele, perasaan ini kerap dipendam dan dianggap sebagai masalah yang tidak perlu dikeluhkan.
Dampak Negatif Homesick Jika Terus Dipendam
Padahal, jika perasaan ini dipendam dan berlangsung secara terus-menerus serta tidak ditangani dengan baik, homesick dapat berpotensi menimbulkan dampak negatif dan tekanan psikologis yang nyata dalam keseharian mahasiswa.
Dampak homesick dapat terlihat dalam kehidupan akademik mahasiswa. Kerinduan yang terus memenuhi pikiran dapat mengganggu aktivitas perkuliahan hingga membuat mahasiswa kehilangan motivasi dan minat untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Saat perhatian lebih difokuskan pada rumah, konsentrasi terhadap aktivitas akademik dapat berkurang. Perasaan cemas, kesepian, dan kerinduan terhadap suasana yang dianggap aman dan nyaman dapat membuat mahasiswa sulit berkonsentrasi selama perkuliahan.
Dampak lainnya juga muncul dalam kehidupan sosial. Ketika rasa rindu terhadap rumah kian mendalam, mahasiswa cenderung menjadi lebih tertutup dan lebih memilih menghabiskan waktu sendirian daripada berinteraksi dengan orang-orang di sekitar lingkungan baru mereka.
Keinginan untuk tetap terhubung dengan keluarga atau teman-teman di kampung halaman terkadang menyebabkan mereka kurang termotivasi untuk menjalin hubungan sosial baru di perantauan.
Bagi mahasiswa baru, penting memiliki teman dan lingkungan positif serta suportif untuk mendukung proses adaptasi di lingkungan baru. Saat kesempatan untuk berinteraksi semakin sedikit, mahasiswa dapat merasa semakin asing dengan lingkungan barunya dan kesulitan menemukan tempat untuk merasa nyaman.
Cara Mengatasi Homesick Mahasiswa Baru Melalui Support System
Rindu terhadap rumah tidak seharusnya dibiarkan begitu saja; penanganannya pun tidak bisa dibebankan hanya pada mahasiswa semata. Terdapat pihak-pihak yang berperan, yaitu mahasiswa itu sendiri serta teman terdekatnya, keluarga, dan kampus.
Pertama, bagi mahasiswa, langkah awal yang bisa dilakukan adalah menerima dan mengakui bahwa rindu itu adalah perasaan yang wajar dan tidak perlu disembunyikan. Bercerita kepada teman satu kos, teman sekelas, atau kakak tingkat menjadi awal yang sederhana, karena tidak sedikit dari mereka yang merasakan hal serupa.
Kedua, keluarga dan teman terdekat memiliki peran yang tidak kalah penting melalui dukungan emosional. Kesediaan mendengarkan cerita tanpa menghakimi, serta perhatian sederhana seperti menanyakan kabar dapat membantu mahasiswa merasa tetap terhubung dengan keluarga meskipun terpisah oleh jarak.
Ketiga, peran kampus juga perlu hadir dalam membantu mahasiswa menghadapi homesick. Banyak mahasiswa yang merasa perasaannya terlalu sepele untuk dibawa ke konseling. “Cuma kangen rumah doang masa harus ke konselor?” begitu pikir mereka, lalu memilih memendam dan menyimpan perasaan itu sendiri. Akibatnya, rindu yang seharusnya bisa diceritakan sejak awal justru semakin terasa berat.
Oleh karena itu, langkah awal kampus dapat sesederhana menyampaikan bahwa perasaan rindu rumah adalah sesuatu yang normal dan boleh diceritakan. Kampus dapat menyampaikan informasi sejak masa orientasi, sekaligus menginformasikan bahwa konseling tidak hanya ditujukan bagi mahasiswa yang sedang menghadapi masalah serius.
Kegiatan kampus di luar kelas, seperti unit kegiatan mahasiswa atau kelompok minat, juga bisa menjadi tempat mahasiswa baru menemukan teman pertamanya, sehingga rindu tidak dihadapi sendirian.
Pandangan bahwa mahasiswa harus mampu beradaptasi secara mandiri juga perlu dipertanyakan. Proses adaptasi memiliki pengalaman yang berbeda-beda bagi tiap individu dan membutuhkan dukungan dari lingkungan sekitar.
Rindu rumah bukanlah tanda lemah, melainkan perasaan manusiawi yang layak diberi ruang. Sebab bagi mahasiswa tahun pertama yang sedang beradaptasi, kadang yang paling dibutuhkan bukan nasihat panjang, melainkan seseorang yang mau mendengarkan rasa rindunya.
