Konten dari Pengguna

FOBO (Fear of Better Options): Ketika Banyak Pilihan Membuat Sulit Memilih

Naila Sakinah

Naila Sakinah

Mahasiswi Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 7 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Naila Sakinah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Takut karena Banyak Sekali Pilihan (Sumber: https://www.magnific.com/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Takut karena Banyak Sekali Pilihan (Sumber: https://www.magnific.com/)

"Aku terima pekerjaan ini sekarang atau tunggu tawaran yang mungkin lebih baik, ya?"

"Aku pilih jurusan yang sesuai minat atau yang peluang kerjanya lebih besar?"

"Aku beli laptop ini atau tunggu model terbaru yang akan segera keluar?"

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi sebagian orang, proses memilih bisa menjadi sangat melelahkan. Bukan karena tidak ada pilihan, melainkan karena pilihannya terlalu banyak.

Ironisnya, di era digital yang menawarkan berbagai kemudahan dan kesempatan, banyak orang justru semakin sulit mengambil keputusan. Saat ini kita dapat membandingkan ratusan produk dalam hitungan menit, melihat ribuan lowongan pekerjaan hanya melalui ponsel, bahkan memperoleh berbagai saran hidup dari media sosial. Alih-alih membantu, kondisi ini sering kali membuat kita semakin bingung. Fenomena tersebut dikenal sebagai FOBO (Fear of Better Options), yaitu ketakutan untuk mengambil keputusan karena khawatir masih ada pilihan yang lebih baik di luar sana (McGinnis, 2017). Fenomena ini semakin sering ditemukan pada generasi muda yang tumbuh di tengah banjir informasi dan pilihan tanpa batas.

Dari FOMO ke FOBO

Sebelum FOBO populer, masyarakat lebih dulu mengenal istilah FOMO (Fear of Missing Out). FOMO menggambarkan perasaan takut tertinggal dari orang lain atau khawatir melewatkan pengalaman yang dianggap menarik. Misalnya, seseorang merasa cemas ketika melihat teman-temannya menghadiri acara tertentu, berlibur ke tempat yang sedang viral, atau mencapai pencapaian yang belum ia raih. Sementara itu, FOBO memiliki fokus yang berbeda. Perbedaannya cukup sederhana:

  • FOMO fokus pada seseorang yang khawatir ketinggalan pengalaman

  • FOBO fokus pada seseorang yang takut memilih karena merasa mungkin masih ada pilihan yang lebih baik.

Dengan kata lain, FOMO membuat seseorang terus melihat apa yang dimiliki orang lain, sedangkan FOBO membuat seseorang terus melihat kemungkinan yang belum dipilih. Akibat dari FOBO, banyak orang terjebak dalam keraguan yang berkepanjangan. Mereka sudah memiliki pilihan yang baik, tetapi tetap merasa belum cukup yakin untuk mengambilnya.

Mengapa FOBO Semakin Banyak Terjadi?

Salah satu penyebab utama FOBO adalah melimpahnya pilihan yang tersedia saat ini. Dahulu, seseorang mungkin hanya memiliki beberapa pilihan kampus, pekerjaan, atau sumber informasi. Kini, hampir semua hal dapat dibandingkan melalui internet. Semakin banyak pilihan yang tersedia, semakin besar pula kemungkinan seseorang merasa takut mengambil keputusan yang salah. Psikolog Barry Schwartz menyebut kondisi ini sebagai The Paradox of Choice. Menurutnya, terlalu banyak pilihan tidak selalu membuat seseorang lebih bahagia. Sebaliknya, banyaknya pilihan dapat memunculkan kebingungan, kecemasan, dan penyesalan setelah keputusan dibuat (Schwartz, 2004).

Selain itu, media sosial turut memperkuat fenomena ini. Setiap hari kita melihat orang lain yang tampak berhasil dengan pilihan hidup mereka. Tanpa disadari, kita mulai membandingkan keputusan yang akan diambil dengan pencapaian orang lain. Akibatnya, muncul keyakinan bahwa setiap keputusan harus menghasilkan hasil terbaik. Kita merasa harus memilih jurusan terbaik, pekerjaan terbaik, atau masa depan terbaik. Padahal, kehidupan nyata tidak bekerja seperti itu. Tidak ada pilihan yang sepenuhnya sempurna karena setiap pilihan selalu memiliki kelebihan dan kekurangan.

Ketika Keraguan Menjadi Kebiasaan

FOBO sering kali hadir dalam bentuk yang tidak disadari. Berikut beberapa contohnya, yakni: seorang mahasiswa menunda menentukan topik skripsi karena merasa belum menemukan topik terbaik. Lalu, seorang lulusan baru terus menimbang tawaran pekerjaan karena berharap ada kesempatan yang lebih menjanjikan. Selanjutnya bahkan ada seseorang yang dapat menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memilih barang yang akan dibeli.

Pada awalnya, perilaku tersebut mungkin terlihat sebagai bentuk kehati-hatian. Namun jika berlangsung terus-menerus, keraguan dapat berubah menjadi kebiasaan. Alih-alih membantu seseorang membuat keputusan yang lebih baik, FOBO justru membuat seseorang kehilangan kesempatan yang sebenarnya sudah ada di depan mata. Kesempatan yang baik sering kali berlalu bukan karena kita tidak mampu meraihnya, tetapi karena terlalu lama mempertimbangkan berbagai kemungkinan lain.

Apa Kata Psikodiagnostik?

Menariknya, tidak semua orang mengalami FOBO dengan tingkat yang sama. Ada individu yang mampu mengambil keputusan dengan cepat, sementara ada pula yang terus-menerus merasa ragu meskipun telah memiliki informasi yang cukup. Di sinilah perspektif psikodiagnostik menjadi penting.

Menurut Mulyono dalam Psikodiagnostik: Suatu Pengantar, psikodiagnostik merupakan keseluruhan cara, metode, dan teknik untuk memahami struktur psikis individu sehingga diperoleh gambaran mengenai karakteristik psikologis seseorang. Melalui proses ini, individu dapat dipahami dari berbagai aspek, seperti kepribadian, emosi, motivasi, kemampuan berpikir, hingga perilakunya. Lebih lanjut, psikodiagnostik tidak hanya bertujuan memahami gangguan psikologis, tetapi juga berbagai dinamika dalam diri individu, termasuk cara berpikir, pengambilan keputusan, hubungan sosial, motivasi, dan tanggung jawab.

Jika dikaitkan dengan FOBO, pendekatan psikodiagnostik membantu menjelaskan bahwa kesulitan mengambil keputusan tidak semata-mata disebabkan oleh banyaknya pilihan. Ada faktor-faktor psikologis dalam diri individu yang turut berperan. Sebagai contoh, individu yang memiliki kecenderungan perfeksionis biasanya ingin memastikan bahwa keputusan yang diambil adalah keputusan terbaik. Mereka sulit menerima kemungkinan melakukan kesalahan sehingga proses memilih menjadi lebih lama. Ada pula individu yang memiliki kecemasan tinggi terhadap ketidakpastian. Mereka merasa tidak nyaman ketika harus mengambil keputusan tanpa mengetahui hasil akhirnya secara pasti. Akibatnya, mereka terus mencari informasi tambahan dengan harapan memperoleh kepastian yang sebenarnya sulit ditemukan.

Sebagian orang lainnya cenderung kurang percaya terhadap penilaiannya sendiri. Mereka merasa perlu memperoleh validasi dari lingkungan sebelum berani menentukan pilihan. Semakin banyak informasi yang diperoleh, semakin besar pula kemungkinan muncul keraguan baru. Dari sudut pandang psikodiagnostik, perbedaan-perbedaan tersebut menunjukkan bahwa cara seseorang mengambil keputusan dipengaruhi oleh dinamika psikologis yang dimilikinya. Karena itu, dua orang yang menghadapi situasi yang sama dapat menunjukkan respons yang sangat berbeda.

Dampak FOBO yang Sering Tidak Disadari

Sekilas, FOBO mungkin terlihat sebagai bentuk kehati-hatian. Namun jika berlangsung terus-menerus, dampaknya dapat cukup besar, diantaranya yakni:

  1. Seseorang dapat kehilangan peluang karena terlalu lama menunda keputusan. Kesempatan yang sebenarnya baik bisa saja hilang karena individu terlalu sibuk mempertimbangkan berbagai kemungkinan lain.

  2. FOBO dapat meningkatkan stres dan kecemasan. Pikiran terus dipenuhi oleh pertanyaan seperti "Bagaimana kalau aku salah pilih?" atau "Bagaimana kalau ada pilihan yang lebih baik?"

  3. FOBO dapat menurunkan kepuasan hidup. Bahkan setelah keputusan diambil, seseorang masih terus memikirkan pilihan lain yang tidak dipilih. Akibatnya, ia sulit menikmati keputusan yang sebenarnya sudah cukup baik.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membuat seseorang merasa lelah secara mental karena terus berada dalam lingkaran keraguan yang tidak berujung.

Bagaimana Cara Mengatasi FOBO?

Mengatasi FOBO bukan berarti mengambil keputusan secara terburu-buru. Yang perlu dilakukan adalah mengubah cara pandang terhadap pilihan dan ketidakpastian. Hal ini bisa dilakukan dengan beberapa cara berikut:

  1. Sadari bahwa tidak ada pilihan yang sempurna. Setiap keputusan memiliki keuntungan dan risiko. Menunggu pilihan yang benar-benar sempurna hanya akan membuat seseorang terus menunda keputusan.

  2. Batasi konsumsi informasi. Informasi memang penting, tetapi terlalu banyak informasi sering kali justru memperbesar kebingungan. Setelah memperoleh informasi yang cukup, beranilah menentukan pilihan.

  3. Tetapkan batas waktu. Memberikan tenggat waktu pada diri sendiri dapat membantu mengurangi kecenderungan menunda keputusan. Tanpa batas waktu, proses mempertimbangkan pilihan bisa berlangsung tanpa akhir.

  4. Fokus pada hal yang dapat dikendalikan. Keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh pilihan awal yang paling tepat. Sering kali yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menjalani dan mengembangkan pilihannya setelah keputusan dibuat.

  5. Percaya pada kemampuan diri sendiri. Tidak semua keputusan membutuhkan validasi dari orang lain. Belajar mempercayai penilaian diri sendiri merupakan langkah penting untuk keluar dari jebakan FOBO.

Penutup

Di tengah dunia yang menawarkan begitu banyak kemungkinan, FOBO menjadi fenomena yang semakin akrab dalam kehidupan sehari-hari. Kita hidup pada masa ketika informasi tersedia tanpa batas dan pilihan hadir di hampir setiap aspek kehidupan. Namun, banyaknya pilihan ternyata tidak selalu memudahkan. Bagi sebagian orang, kondisi tersebut justru memunculkan keraguan yang membuat langkah terasa semakin berat.

Dari perspektif psikodiagnostik, fenomena ini menunjukkan bahwa kesulitan mengambil keputusan tidak hanya dipengaruhi oleh lingkungan, tetapi juga oleh karakteristik psikologis yang dimiliki setiap individu. Cara seseorang menghadapi risiko, memandang ketidakpastian, dan mempercayai dirinya sendiri turut menentukan bagaimana keputusan dibuat.

Pada akhirnya, hidup tidak pernah memberikan kesempatan untuk mengetahui hasil dari semua pilihan yang tidak kita ambil. Karena itu, terus-menerus mencari pilihan terbaik sering kali hanya membuat kita terjebak dalam lingkaran keraguan. Terkadang, keputusan yang baik bukanlah keputusan yang sempurna, melainkan keputusan yang berani diambil dan dijalani dengan penuh tanggung jawab. Sebab sering kali, yang mengubah hidup bukan pilihan terbaik yang belum dipilih, melainkan pilihan yang sudah kita putuskan untuk diperjuangkan.

_________________________________________

Oleh Naila Sakinah dan Dr. Rachmat Mulyono M.Si., Psikolog