Merasa Sepi Di Tengah Keramaian Dunia

Mahasiswi pendidikan Bahasa dan Sastra, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Jakarta, indonesia
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari nailatu tasnim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Merasa sepi di tengah keramaian dunia, sering kali menjadi pemantik utama bagi lahirnya sebuah perenungan mendalam, sebagaimana tecermin dalam Teori Pengkajian Fiksi karya Burhan Nurgiyantoro, yang menyatakan bahwa karya sastra merupakan sebuah totalitas yang dibangun oleh unsur-unsur pembentuk yang saling berkaitan dan saling menentukan maknanya satu sama lain. Unsur-unsur intrinsiknya seperti tema, tokoh dan penokohan, alur, latar, sudut pandang, serta gaya bahasa dan pesan moral bersama-sama membentuk struktur cerita sebagai satu kesatuan organis.
Cerpen "Jejak Cahaya di Pasir yang Diam" karya Salman Alfariji, yang dimuat dalam rubrik Cerpen Kompas edisi 27 Februari 2026, Cerita ini menggunakan teknik metaforis dan simbolik yang kuat, di mana ruang fisik (padang pasir, kota, lorong) dan ruang batin (renungan, mimpi, kesadaran spiritual) saling bertautan membentuk alur yang lebih menyerupai perjalanan kontemplatif daripada rangkaian peristiwa linear.
pesan moral cerpen "Jejak Cahaya di Pasir yang Diam" berdasarkan buku teori pengkajian fiksi Burhan Nurgiyantoro, yang diklasifikasikan ke dalam tiga wujud nilai utama:
Pesan Moral Hubungan Manusia dengan Diri Sendiri (Moralitas Individual)
Keberanian Jujur pada Diri Sendiri, pesan moral ini adalah hal dasar yang terdapat dalam cerpen ini tentang kita harus meruntuhkan keangkuhan spiritual dan ego kita. Tokoh utama “Aku” menyadari bahwa berapa banyak dia melakukan hal wajib namun lupa untuk mengamalkan nya, justru angkuh terhadap manusia lain dan merasa bahwa dirinya lebih sempurna di bandingkan yang lain, seperti potongan di dalam cerpen tersebut
"Tanganku penuh doa, tetapi kosong empati. Lidahku fasih menyebut namanya, tetapi kakiku enggan melangkah membela yang lemah."
dan kesalehan sejati tidak dimulai dari pengakuan publik atau klaim kebenaran, melainkan dari keberanian untuk berkaca, mengakui ruang kosong dalam jiwa, dan bertobat secara tulus ("Umatku tidak butuh manusia sempurna, mereka butuh manusia yang mau kembali").
Pesan Moral Hubungan Manusia dengan Sesama (Moralitas Sosial)
Dalam teori pengkajian fiksi, dimensi sosial merupakan wadah paling konkret bagi pengarang untuk menunjukkan penerapan nilai moral. Cerpen ini mengkritik tajam formalisme agama yang abai terhadap realitas kemanusiaan.
Cerpen ini secara radikal menggeser pencarian spiritual, bisa dilihat Melalui dialog-dialog imajiner, pengarang menyampaikan bahwa mencintai Rasul atau Tuhan tidak bisa dipisahkan dari mencintai mahluk-Nya.
Ibadah, ritual dan perdebatan teologis (kiblat, tafsir, menara masjid) menjadi sia-sia jika mengabaikan penderitaan orang miskin, anak yatim, bahkan hewan sekalipun. Meneladani sosok spiritual berarti turun ke "lorong-lorong sempit" kehidupan berbagi roti dengan yang lapar dan merangkul mereka yang tersisih, bukan menghakimi.
Pesan Moral Hubungan Manusia dengan Tuhan (Moralitas Religius)
Nurgiyantoro membedakan antara religiusitas (sikap batin yang dalam terhadap yang Transenden) dengan formalitas keagamaan (dogma/kelembagaan). Cerpen ini murni bicara tentang religiusitas.
Shalawat sebagai Sikap Hidup (Akhlak):
Pesan religius dalam cerpen ini menegaskan bahwa ritus keagamaan harus bertransformasi menjadi etika sosial. Selama ini tokoh "Aku" mencari Rasul di tempat-tempat tinggi, seperti di dlaam cerpen, di padang pasir padahal hakikat risalah berada di tanah, dengan mengimplementasi akhlak mulia.
Hubungan dengan Tuhan yang benar akan tercermin pada perbaikan kualitas kemanusiaan seseorang. Pengarang berpesan bahwa
"Shalawat bukan hanya di bibir, ia adalah sikap terhadap yang lemah."
Kedekatan dengan pencipta baru akan terasa dekat ketika nurani seseorang berdenyut demi keselamatan sesama manusia.
Daftar Pustaka
Alfariji, S. (2026, 27 Februari). Jejak Cahaya di Pasir yang Diam. Kompas.
Nurgiyantoro, B. (1995).Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
