Konten dari Pengguna

Ibu Menyusui dan Kesuksesan Bermakna di Ruang Profesi

Najelaa Shihab

Najelaa Shihabverified-green

Pendidikan adalah belajar, bergerak, bermakna. Pendidik adalah kita, Semua Murid Semua Guru

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Najelaa Shihab tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ruangan menyusui. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ruangan menyusui. Foto: Shutter Stock

Saya menyusui ketiga anak sampai 2 tahun lebih, dan punya banyak refleksi tentang bagaimana proses ini menjadikan saya bisa menjalani profesi dengan lebih baik lagi. Memberikan ASI tak pernah hanya soal menjadi ibu dan kebutuhan gizi bayi, tetapi modal jangka panjang penumbuhan kompetensi anak, pengembangan peran perempuan, dan—menurut penelitian—meningkatkan keberlanjutan kegiatan komunitas maupun keuntungan perusahaan!

Lihat datanya: organisasi yang mendukung pekerja perempuan menyusui (dan pekerja laki-laki yang istrinya menyusui), punya tingkat retensi di atas 94% dibandingkan dengan organisasi lain yang hanya 56%. Tingkat absen karyawan perempuan yang menyusui 30-70% lebih rendah dibanding yang tidak, karena anak (bukan di masa bayi saja!) lebih jarang sakit, terkena infeksi dan komplikasi—sehingga ibu tak perlu izin tak masuk kantor untuk mendampingi.

Loyalitas dan kepuasan pada profesi, juga dilaporkan meningkat secara signifikan pada ibu yang menyusui, hal ini dikorelasikan dengan data bahwa secara biologis dan psikologis ibu menyusui menikmati perannya memberikan ASI, bukan hanya berkait hormon oksitosin tapi juga social cognition yang lebih tinggi.

Tak ada bias personal dalam kutipan data di atas, tetapi ada seleksi intensional. Karena terlepas dari banyaknya informasi saat ini, kita pada umumnya jarang sekali mendengar fakta yang menenangkan ibu yang memilih tetap bekerja dan memberikan ASI bukan saja secara eksklusif di 6 bulan pertama tetapi sepanjang waktu yang dibutuhkan dan diputuskan oleh ibu dan bayinya—dibandingkan paparan kampanye yang menyalahkannya.

Keraguan akan pilihan, keengganan menghadapi perdebatan, kebanyakan muncul karena masih banyak di lingkungan yang punya stigma bahwa memprioritaskan kebutuhan anak, berarti menomorduakan tanggung jawab bekerja. Atau stigma lain: menyusui menempatkan kebutuhan anak di atas kebutuhan ibu, padahal ibu berhak memilih yang terbaik untuk diri (termasuk “diarahkan memilih” bekerja tanpa “direpotkan” tanggung jawab menyusui).

Salah satu mitos terbesar yang dipercaya oleh para atasan (bahkan sesama ibu) misalnya: waktu menyusui atau memompa ASI adalah waktu di mana perempuan tak produktif dalam profesi. Kenyataannya: 55% mengecek email pekerjaan, 52% menjalankan conference call saat menyusui. Saya sendiri hampir selalu menyusui sambil rapat bahkan berkali-kali di tengah seminar. Menyusui sambil berolahraga (ada teman yang bahkan half marathon dan yoga!) atau favorit saya; menyusui sambil membaca—dari koran sampai skripsi mahasiswa atau berbagai surah serta doa—dan tentunya dengan sengaja dinyaringkan agar bisa didengar atau jadi bahasan “ngobrol” sama bayinya :)

Ilustrasi menyusui. Foto: Thinkstock

Waktu selama menyusui jelas bukan waktu yang terbuang percuma, justru sering kali jadi waktu saat kemampuan konsentrasi mumpuni (bukan hanya fokus pada bayi), tingkat ketenangan bagus sekali, sehingga dapat banyak ide dan inspirasi.

Kita punya tanggung jawab bersama untuk menunjukkan bahwa perempuan tak harus memilih untuk mengorbankan salah satu perannya, termasuk dengan terus bersuara akan hak untuk menyusui dan memompa ASI kapan saja sembari bekerja.

Sebagian dari kita masih melontarkan “lelucon” tak lucu soal ibu yang payudaranya disamakan dengan sapi perah (ada ribuan riset jangka panjang tentang bedanya kualitas ASI manusia dengan susu sapi walaupun sudah ditambahkan berbagai zat lainnya!) ada yang mencemooh dan menegur ibu yang menyusui di tempat umum atau menerima bahwa kamar mandi adalah tempat yang layak untuk ibu memompa tanpa mengusahakan lokasi yang lebih baik higienitas, privasi dan ventilasinya di tempat kerja.

Saya tak pernah memompa ASI, selalu menyusui langsung Nihlah, Nishrin, dan Fathi, jadi perjalanannya sedikit berbeda dengan teman-teman yang tak punya fleksibilitas sama mengatur waktu kerja atau tak mungkin membawa anak ke lokasi yang tak ramah. Tantangan yang dihadapi sesama ibu yang menyusui, luar biasa besarnya. Tapi, dari pengalaman pribadi, banyak sekali hal-hal kecil yang saya pelajari tentang menyusui sambil bekerja. Bahkan hal kecil seperti memilih kancing atau resleting baju yang sesuai, yang akan amat sangat menghemat energi agar proses menyusui jadi lebih nyaman tanpa emosi negatif ibu dan bayi. Membiasakan disiplin untuk tidak menyusui di mobil yang berjalan agar bayi duduk tenang dengan kursi pengaman di kendaraan, atau bereksperimentasi dengan berbagai teknik pelekatan (latching) yang disimulasikan bahkan sebelum persalinan.

Sama seperti kompetensi yang dituntut dalam berkarya, menyusui membutuhkan perencanaan dan kegigihan tetapi juga kreativitas dan fleksibilitas. Persis sama dengan apa yang diharapkan dalam pengembangan karier kita, menyusui juga butuh relasi yang penuh empati, kemampuan mengatur waktu, meminta dukungan dan bernegosiasi.

Tak heran kan bahwa saya percaya sekali bahwa menyusui bukan hanya tentang kepentingan bayi saat ini, tetapi juga kesempatan ibu dan semua orang dewasa di lingkarannya untuk meyakini bahwa keberpihakan pada anak bukan hanya tentang pengasuhan individualnya—tetapi tentang kita yang belajar bersama dan dari anak sebagai gurunya.

Mari refleksi bersama, betapa banyak hal kecil yang bisa kita ubah, yang membuat organisasi bisa mencapai tujuannya, ibu bisa sukses menjalankan berbagai perannya, dan memberi manfaat pada kita semua sebangsa! Kerentanan dalam pola pengasuhan keluarga dan gizi anak miskin, juga tabungan dalam rumah tangga dan anggaran biaya kesehatan negara, bahkan efektivitas penanganan bencana akan dipengaruhi oleh kesuksesan kita memastikan sebanyak mungkin ibu menyusui (yang bekerja penuh maupun paruh waktu) terus mendapat dukungan di negeri ini, dimulai dari lingkaran kantor (dan rumah) kita sendiri. #worldbreastfeedingweek #perlindunganmenyusui #merdekaberkarier #merdekaberkarya